Gara-gara sepinya pemasukan Ring Back Tone (RBT), industri perusahaan rekaman Indonesia menggandeng perusahaan Malaysia. Kerja sama ini diharapkan bisa menjadi 'nafas baru' bagi industri yang tengah merana pasca masalah Ring Back Tone (RBT).
Direktur PT AS Industri Rekaman Indonesia (Asirindo), Jusak I Sutiono, mengatakan, saat ini kondisi industri musik di tanah air tengah sulit. Sumber pemasukan utama selama ini dari RBT sudah mengalami terjun bebas.
"Sejak Oktober hingga Desember ini pemasukan dari RBT tak sampai 10 persen. Padahal sebelum ada kasus, RBT ini bisa menyumbangkan pemasukan hingga 90 persen kepada industri," kata Jusak usai penandatanganan kerja sama antara Asosiasi Rekaman Indonesia (Asiri) dan Recording Industry Association of Malaysia (RIM) di Jakarta, Rabu (14/12).
Jusak mengakui jika proyeksi pemasukan dari RBT pada tahun ini tidak akan bisa tercapai. Di awal tahun, bos dari perusahaan rekaman Warner Music Indonesia ini sempat mematok pemasukan hingga Rp 500 miliar. Tapi sejak tidak beroperasinya RBT, ia menaksir, pemasukan tahun ini kurang dari Rp 400 miliar.
Proyeksi awal tahun ini, kata Jusak, berangkat dari asumsi menaiknya tren pemasukan dari RBT setiap tahun. Tahun lalu, ia mengungkapkan, pemasukan dari RBT secara total mencapai Rp 350 miliar.
"Melihat kondisi seperti sekarang, rasanya kita harus mulai memikirkan cara baru agar bisa tetap hidup pada tahun depan,'" ujarnya.
Sementara itu dalam kerja sama dengan pihak Malaysia akan mengatur mengenai pengambilan hak penampilan (performing right). Selain itu kerja sama ini nantinya akan mengembangkan sistem lisensi di Indonesia.
Ketua Umum RIM, Norman Abdul Halim, mengatakan, kerja sama bilateral ini diharapkan bisa bermanfaat bagi kedua pihak. Ia mengatakan, selama ini pihaknya cukup berhasil memompa pemasukan bagi para industri rekaman.
Sepanjang tahun lalu Norman mengungkapkan, pemasukan di dunia musik di Malaysia menembus angka 25 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, kata dia, separuhnya masuk ke pihak industri rekaman (sound recording). Separuh lainnya lagi diterima kepada pihak pencipta lagu dan artis.
Dari angka 25 juta dolar AS itu, Norman mengaku, sekitar 10 persen diterima oleh perusahaan rekaman Indonesia. Pemasukan ini didapat karena beredarnya lagu-lagu karya anak bangsa di tempat-tempat umum. ''Kurang lebihnya ada sebanyak 600 ribu dolar AS yang pergi ke Indonesia,'' ujarnya.
Dengan pemasukan tersebut, pihak Asirindo berharap bisa memperoleh hasil lebih maksimal lagi lewat kerja sama ini. Asirindo, kata Jusak, baru akan menjalankan operasinya pada tahun depan.
"Kita berharap dalam lima tahun ke depan, kita bisa memperoleh pemasukan sekitar 5-6 juta dolar AS," kata Jusak.
Jusak juga menambahkan, Asirindo sejauh ini memiliki anggota sebanyak 70 perusahaan rekaman. Tapi ia melihat, tahun depan jumlah ini akan semakin bertambah dengan bergabung beberapa perusahaan rekaman besar (major label). "Yang pasti kita berharap usaha untuk menghidupkan kembali industri ini sangat besar," katanya. (kpl/adt/sjw)
BACA JUGA:
Kangen Band sumbang pendapatan RBT terbesar tahun 2011
Bisnis label rekaman di ambang kehancuran
Slank: RBT membunuh kreativitas
RBT anjlok, Ashanty resah
Buaian RBT yang (masih) melenakan




