Jakarta-C&R/OMG- Pembaruan yang amat radikal memang rentan menimbulkan penolakan. Seperti yang dilakukan oleh Joko Keriting, juara 2 lomba pantomim tingkat nasional tahun 1989 yang memadukan pantomim dengan lagu. Dan protespun muncul dari komunitas pantomim.
Apa yang dilakukan Joko Keriting, artis pantomim yang mulai merambah industri rekaman sekira empat tahun lalu karena melihat kurangnya perhatian terhadap komunitas pantomim di Indonesia. Akhirnya, dengan memadukan unsur pantomim dalam setiap lagunya, berharap menjadi nilai jual yang beda. Maka jadilah sebuah mini album berjudul "So What" dengan genre musik Reggae dibawah naungan label Musikindo. "Perkembangan pantomim itu lambat. Karena medianya enggak ada. Kan sudah enggak ada lagi tv yang nayangin pantomim. Padahal komunitas pantomim banyak, ada di kota-kota besar," papar pria yang lebih tenar dipanggil Joke Joker itu di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (17/6/2012) malam
Perjalanannya berkiprah di dunia tarik suara, tak mulus terlaksana, karena sempat mendapat protes dari komunitas pantomim di mana awal ia berkarir. "Protes datang dari komunitas pantomim. Mereka menilai, pantomim itu permainan gerak tubuh dan enggak bisa digabung dengan nyanyi," ujarnya.
Namun begitu, ia meyakinkan diri jika pantomim itu tak harus selalu diam. "Buat gue, pantomim enggak hanya diam. Kostum pantomim juga enggak harus hitam putih kayak Charlie Chaplin. Makanya gue pake kostum dengan warna menyolok. Sekarang baru pakai dua warna, yaitu Merah dan hijau. Gue pake secara gantian," tukas pria kelahiran tahun 1976 itu. (Deva)


