Amsterdam (ANTARA) - Sedikitnya 50 karya foto jurnalistik Indonesia bertema kehidupan masyarakat perkotaan tampil dalam festival foto internasional Grid Biennale-Amsterdam 2012 yang menurut pencinta seni dan budaya Belanda mampu memberikan pesan yang kuat dan menggugah mengenai problematika kota-kota besar.
Kurator Tropen Museum, Pim Westerkamp dan penggiat seni setempat Arjan Onderdewijngaard mengemukakan pandangan tersebut kepada ANTARA di Amsterdam, Rabu, usai acara pembukaan yang dibuka oleh Wakil Gubernur Noord, Jan van Run.
"Saya senang melihat karya foto Indonesia karena mampu menggambarkan aspek kehidupan masyarakat kota besar dalam perspektif kontemporer yang berbeda dengan pandangan umum publik Belanda," kata Pim yang merupakan kurator ahli bidang budaya dan sejarah Asia Tenggara itu.
Menurut dia, banyak warga masyarakat Belanda melihat Indonesia masih dalam perspektif masyarakat tradisional, sehingga bila melihat foto-foto Indonesia yang tampil saat ini di Amsterdam bisa jadi akan melawan stereotipe tentang Indonesia yang selama ini ada.
"Melalui foto ini, bisa terbangun suatu pemahaman dan saling pengertian yang baru mengenai Indonesia," katanya.
Pameran foto itu berlangsung dari tanggal 16 Mei - 1 Juli 2012 (selama satu setengah bulan) dan tersebar di tujuh kota besar Belanda, termasuk Amsterdam.
Sebanyak 39 negara dan 100 penggiat seni dan wartawan yang ikut berpartisipasi dalam event dua tahunan tersebut. Negara-negara yang ikut antara lain Swiss, Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Brazil, Bulgaria, Israel, Indonesia, Maroko, Filipina, Sri Lanka, Belanda, Palestina, Nigeria, dan Peru.
Pesan kuat
Sementara itu, Arjan Onderdewijngaard mengatakan, karya foto jurnalistik memang selalau bisa menyampaikan pesan yang kuat, dan dalam pameran kali ini terlihat foto-foto Indonesia mampu menggambarkan secara kuat bagaimana hubungan sebuah kota dengan masyarakat yang tinggal.
"Secara konsep sangat hidup dan kaya dengan tema. Misalnya mengenai tato dan kain tenun yang menggambarkan budaya Indonesia yang sebetulnya sudah ada sejak lama tetapi ditampilkan secara kontemporer. Bagaimana tato tetap saja diminati kaum muda walau dalam bentuk modern. Begitu juga dengan kain tenun," katanya.
Dalam acara pembukaan, pakar kajian Amerika Universitas Amsterdam Rob Kroes mengatakan, karya-karya foto bisa membangun saling pengertian internasional sebagai upaya untuk saling mempercayai dan bekerjasama antar masyarakat di belahan dunia manapun.
Sebelumnya, Managing Director GRID Biennale-Amsterdam Hans Peter Schoonenberg mengatakan, foto-foto Indonesia cukup jelas menceritakan persoalan yang dihadapi dunia global walau mengambil contoh hanya di Indonesia.
Persoalan di kota-kota besar dengan masyarakatnya selalu memiliki sisi kontras sehingga menjadi pesan yang kuat bagi negara manapun yang memahaminya," kata Schoonenberg.
Sementara itu, Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Den Haag, Bonifatius Herindra menilai, sejalan dengan menguatnya nilai-nilai kebebasan berekspresi dan berkreasi di Indonesia, maka tema-tema yang diangkat dan teknik yang ditampilkan melalui karya fotografer muda Indonesia sangat merefleksikan transformasi sosial ekonomi yang dinamis di Indonesia.
"Karya-karya fotografer muda Indonesia dalam pameran tersebut memberikan pesan kepada masyarakat global mengenai kemajuan produk kreatif Indonesia maupun kesiapan fotografer muda Indonesia untuk berinteraksi secara aktif dengan komunitas fotografi global, katanya.
Sedangkan foto-foto ANTARA yang ditampilkan berasal dari 10 wartawan dan staf galeri Foto Jurnalistik ANTARA, di antaranya yakni Fanny Octavianus, Adhi Wicaksono,Andi Ari Setiadi dan Rahmad Gunawan.
Festival GRID Biennale pertama kali dilangsungkan tahun 2002 bertempat di Amsterdam dengan jumlah pengunjung yang umumnya mencapai ratusan ribu orang. Pada tahun 2010 tercatat sebanyak 400.000 orang datang dari manca negara untuk menyaksikan festival tersebut.
Besarnya pengunjung dan minat negara-negara lain seperti dari Asia dan Afrika membuat pihak penyelenggara memperluas areal pameran ke sejumlah kota di sekitar Amsterdam pada tahun-tahun berikut. (tp)


