Syanne Susita
  • Bintang "Winter Sonata" Bae Yoon-joon dan Choi Ji-woo (Foto: Yoshikazu Tsuno/AFP)Ketika pertama kali drama Korea seperti “Winter Sonata” dan “Autumn in My Heart” disukai banyak orang (baca: penonton non-Korea), penyebabnya adalah alur cerita yang mengharukan dan menguras air mata.

    Dengan karakter drama seperti itu, tak heran penggemar drama Korea pun kebanyakan wanita, terutama ibu rumah tangga yang mempunyai waktu lebih banyak untuk menonton televisi. Namun, seiring dengan meluasnya demam budaya pop Korea dan getolnya pemerintah Korea Selatan mempromosikan pergerakan ini (termasuk menciptakan istilah bintang “hallyu” untuk para aktor), drama Korea pun mulai mengalami banyak perubahan.

    Banyak faktor penyebab. Tema cinta tetap menjadi daya tarik tetapi bumbu-bumbunya alias kemasan pun semakin bervariasi. Mulai dari komedi (“Full House”), laga (“City Hunter”), sejarah atau sering disebut dengan istilah saeguk (“The Moon That Embraces The Sun”) sampai fantasi (“49 Days”).

    Faktor penyebab lain adalah demam budaya pop Korea lainnya (yaitu musik K-pop) yang kini semakin

    Selengkapnya »dari Invasi K-Pop Dalam K-Drama
  • AKB48 (Koki Nagahama/Getty Images)Setelah berita tentang grup Laruku yang akan menggelar konser di Senayan pada 2 Mei mendatang, para penggemar musik Jepang di Indonesia kembali resah. Sebabnya, grup AKB48 akan datang ke Jakarta pada 25 Februari — dalam acara pertukaran budaya “Nihon Pop Culture Festival”.

    AKB48 adalah grup terlaris dan terpopuler sepanjang 2011. Total penjualan keseluruhan produk musik mereka tercatat mencapai 16,3 miliar yen (sekitar 5 persen dari total penjualan seluruh Jepang). Mereka sukses mengalahkan Arashi yang berada di urutan pertama selama dua tahun berturut-turut.

    Apa yang menyebabkan AKB48 begitu sukses? Apakah mereka memiliki vokal dashyat? Apakah mereka memiliki musik dengan aransemen canggih dan mengagumkan? Semua hal yang melejitkan AKB48 ini ternyata jauh dari semua itu.

    Girlband berkonsep unik
    Yasushi Akimoto adalah sosok yang berada di balik AKB48. Setelah sukses memproduksi acara televisi populer seperti “Utaban” dan “Oshare-ism” serta menulis lagu, Akimoto mewujudkan idenya yang

    Selengkapnya »dari Tiga Hal yang Membuat AKB48 Melejit
  • 2NE1 (Foto: Terence Tan/AP Photo)Virus K-pop memang mulai meluas ke mana-mana, tetapi apakah K-pop sebenarnya siap menyebarluas ke mancanegara?

    Dari segi musik, K-pop memang mulai merekrut produser dan penulis lagu Barat, seperti yang dilakukan JYJ dengan menggamit Kanye West. Atau proyek kolaborasi Girl’s Generation bersama Teddy Riley.

    Dari segi pencitraan, para artis K-pop juga tidak kalah dengan artis Barat. Jeremy Scott, desainer Amerika yang melejitkan konsep emas dalam produk Adidas, pernah mendandani Wonder Girls, Lee Hyori, SHINee, Big Bang, dan 2NE1. Kabarnya, malah Jeremy Scott bersahabatan dengan CL, ketua 2NE1.

    Dengan paduan dua hal itu, seharusnya K-pop tidak lagi menjadi musik favorit beberapa kalangan saja. Namun, setelah beberapa kali datang ke konser K-pop, saya merasa ada hal lagi yang kurang.

    Yang utama adalah kesulitan dalam bahasa Inggris atau Jepang. Tanpa kemampuan menguasai berbagai bahasa ini, K-pop akan sulit menembus penikmat musik awam. 

    Dan ini bukan tidak disadari oleh manajemen artis.

    Selengkapnya »dari K-Pop Siap ‘Go International’?
  • Foto: Syanne SusitaAlbum K-pop kini semakin mudah ditemui di hampir setiap toko kaset di Indonesia. Tidak hanya itu, dengan kemasan yang berani, album-album K-pop pun mulai masuk dalam jajaran album terlaris sebuah jaringan toko kaset terbesar.

    Memasuki tahun 2012, tawaran K-pop tampaknya akan lebih bervariasi. Tidak hanya dari segi kemasan, tetapi juga musik. Setidaknya ada lima album yang bisa dibilang mewakili K-pop dalam berbagai rasa ini.

    Keragaman ini diharapkan tidak hanya menyenangkan penggemar, tetapi juga pembuka jalan bagi mereka yang belum mengenal musik K-pop. Setidaknya, tidak harus bersusah-payah mencari jika ingin mencoba mengapresiasi.

    Inilah resensi singkat album-album K-pop itu.

    Lucky – Kim Hyun Joong
    Jarang album mini diproduksi secara lokal. Ini membuktikan, penggemar Kim Hyun Joong cukup banyak sehingga pihak perusahaan rekaman percaya diri untuk mengedarkan album yang berisikan enam lagu ini.

    “Lucky” merupakan album mini kedua ketua SS501 ini. Dalam album ini, ia melakukan perubahan

    Selengkapnya »dari K-Pop Dalam Berbagai Rasa dan Kemasan
  • Bagi artis Jepang, keberhasilan menjual album berarti menebalnya kantong pemasukan — berkah dari kebijakan dumping yang membuat harga CD yang dijual di Jepang lebih mahal dibanding luar negeri. Sebagai efeknya, mereka (baik J-rocks maupun J-pop) jarang ada yang mau bersibuk ria mengembangkan diri di luar Jepang.

    Buat apa keluar kandang? Toh bekerja di ladang sendiri pun pemasukan sudah besar.

    Yang kasihan tentu para penggemar di luar Jepang. Alangkah sulit menikmati grup favorit mereka secara langsung. Mereka ibarat warga kelas dua karena kalah bersaing akibat tiada akses.

    Salah satu band yang masuk kategori di atas adalah L’Arc-en-Ciel. Legenda ini sering kali vakum. Hanya selang tiga tahun setelah perayaan 15 tahun, mereka memutuskan istirahat selama dua tahun. Lalu mereka berkumpul kembali dan menggelar tur keliling untuk merayakan 20 tahun karier.

    Laruku sadar sekali bahwa konser mereka akan sangat ditunggu-tunggu. Penampilan pertama mereka pada 28 dan 29 Mei tahun 2011 di Ajinomoto

    Selengkapnya »dari Nasib Penggemar Laruku Jadi Warga Kelas Dua
  • Mr Idol - Credit Jive! Entertainment (Blitzmegaplex)

    "Mr. Idol" beredar di Korea pada bulan Oktober, jadi terbilang cukup cepat masuk ke bioskop di Indonesia. Maklum, demam k-pop mulai mendunia. Begitu pula dinamika kehidupan di belakang industri ini. Menarik diangkat jadi satu cerita film.

    Mr. Idol dibintangi oleh Ji Hyunwoo, Park Hyejin, Kim Suroo dan Lim Wonhee. Dan, dikisahkan sebagai salah satu anggota boyband — bukan secara kebetulan dipilih — mantan anggota boyband 2PM, Jay Park.

    Ceritanya diawali dengan Jihoo, vokalis boyband Mr. Children, yang bunuh diri setelah ketahuan berpacaran dengan salah satu penyanyi wanita dalam satu agensi. Ok Guju sebagai produser merasa bersalah dan memutuskan mengasingkan diri ke luar negeri. Mr. Children pun bubar.

    Tiga tahun kemudian, Guju kembali dan mengumpulkan anggota Mr. Children. Ia berhasil menemukan pengganti Jihoo. Namanya Eugene, mantan Star Music yang dipecat karena musiknya yang berkonsep band dianggap tidak sesuai selera pasar.

    Ok Guju ingin mengorbitkan kembali Mr. Children. Setelah

    Selengkapnya »dari Mengintip Proses Rekayasa Bintang K-pop
  • Penguasaan panggung dengan percaya diri, permainan musik matang, penguasaan lagu dan kemampuan komunikasi dengan penonton membuat saya sangat menikmati suguhan penampilan Train.

    Pat Monahan (vokal), Scott Underwood (drum), Jimmy Stafford (gitar), dan dua musisi pendukung mereka, Hector Maldonado (bas) dan Jerry Becker (keyboard) memulai karir sejak 1994. Mereka tak bisa diingkari adalah musisi berpengalaman.

    Awalnya, saya tidak berminat menonton konser Train. Tetapi, ketika sedang merapikan koleksi CD akhir pekan lalu, ternyata saya penikmat Train karena saya menemukan dua album Train (“Drops of Jupiter” dan “Save Me, San Francisco”) di tumpukan CD.

    Usai menyaksikan konser pun, saya mengerti kenapa mereka cukup sering dianugrahi Grammy. Sedikitnya delapan nominasi diberikan NARAS, sebagai panitia Grammy, dan tiga piala berhasil dibawa pulang untuk lagu “Drops of Jupiter”, “Calling All Angels” dan, single terakhir mereka, “Hey, Soul Sister”.

    Magnet pertama menyaksikan musik Train adalah

    Selengkapnya »dari Menikmati Magnet Train Tanpa Gangguan
  • Katy Perry. Foto oleh Syanne SusitaSebagai penikmat musik, saya sebelumnya jarang mengagumi penyanyi wanita (kecuali yang benar-benar memiliki lagu enak). Sejak tahun lalu prinsip itu berubah. Saya mulai mengoleksi lagu Lady Gaga, Katy Perry, Rihanna, Niki Minaj, Adele, Taylor Swift, hingga dua penyanyi pendatang baru bersuara menghanyutkan: Skylar Grey dan Christina Perri.

    Selain punya vokal khas/berkarakter, tampang cantik dan musik yang keren, para penyanyi wanita itu juga memiliki beberapa kesamaan — yang jadi faktor penentu dominasi mereka di blantika musik dunia.

    Pencitraan kreatif

    Memiliki suara bagus dan tim penggarap musik hebat ternyata tidak  cukup. Menengok kesuksesan Beyonce, Lady Gaga dan Katy Perry sekarang ini, pencitraan super kreatif menjadi satu faktor penentu. Perhatikan betapa “bunglon”-nya para penyanyi wanita ini dalam setiap video klip. Tidak hanya penulis lagu atau pengarah musik paling bagus saja yang dikumpulkan dalam satu tim, tim kreatif untuk pencitraan juga.

    Jika Lady Gaga punya Haus of

    Selengkapnya »dari Tiga Faktor Penyanyi Wanita Mendominasi
  • Penggemar K-pop berduka lagi. Kembali satu rencana perhelatan konser grup CN Blue dibatalkan hanya dua hari sebelum Hari-H. Ini berarti musibah K-pop kedua yang terjadi tahun ini. Di awal tahun, grup JYJ juga mendadak batal manggung karena permintaan teknis yang tak terpenuhi.

    FNC Music, pihak manajemen artis CN Blue, melalui website mengeluarkan pernyataan yang beda-beda tipis. Promotor dianggap tidak sempurna mempersiapkan konser.

    Pihak promotor membela diri dengan mengatakan permintaan manajemen sering berubah-ubah pada menit terakhir. Salah satu permintaan yang tak dapat dipenuhi adalah: komitmen menjual tiket 80 persen dari muatan gedung.

    Poin ini terdengar agak aneh dalam kontrak konser. Bukankah jika artis konser di satu tempat maka kompensasi atau honor yang diterima didasarkan pada kesepakatan? Dengan adanya poin 80 persen ini seolah-olah honor manggung sang artis dibayarkan menggunakan sistem royalti. Apakah mungkin seperti itu? Kok jadi seperti jualan CD?

    Bukankah asalkan

    Selengkapnya »dari Antara Cinta dan Benci Dalam Bisnis K-Pop
  • Perubahan suara akibat pubertas yang menimpa para penyanyi pria cilik memang kejam. Tak banyak penyanyi yang berhasil menjual album yang memperdengarkan suara baru mereka. Contoh mereka yang gagal misalnya Hanson dan Aaron Carter. Album mereka tak sukses di pasar.

    Bagaimanapun, vokal merupakan satu faktor penentu kesuksesan  lagu — di luar improvisasi permainan, aransemen musik atau penjiwaan lagu. Dari vokal itu pula hadir karakter atau menjadi merek (brand) atau ciri khas band atau artis.

    Justin Bieber bersama tim kreatif di belakangnya (baca: Scooter Braun) tampaknya sadar sekali hal itu. Berbekal dengan debut album fenomenal, apa langkah selanjutnya untuk mempertahankan merek Justin Bieber?

    Jawabannya: album transisi. Dengan album bertema Natal, pendengar diarahkan untuk fokus pada vokal Justin Bieber, bukan lagunya. Dalam lagu-lagu yang cukup akrab di kuping, pendengar diajak membiasakan diri terhadap perubahan drastis vokal Justin.

    Produser The Messengers yang kebagian menggarap

    Selengkapnya »dari Strategi Transisi Justin Bieber

Penomoran Halaman

(62 Artikel)