Syanne Susita
  • Indonesia – terutama Jakarta - kini hampir selalu dijadikan tujuan dalam rangkaian tur keliling artis mancanegara. Bagi penonton, ini jelas menguntungkan karena biaya lebih murah (tidak harus beli tiket pesawat dan hotel seperti jika nonton ke luar negeri), lebih praktis (alias tidak perlu ambil cuti untuk jalan-jalan ke luar negerinya), dan pastinya menghemat tenaga.

    Sayang akses konser artis asing (entah itu artis bule atau k-pop) tidak didukung dengan kenyamanan menonton. Padahal, kenyamanan menonton itu adalah faktor penting dalam menikmati jalannya sebuah pertunjukan.

    Sedih jika melihat pilihan tempat konser yang tersedia sekarang. Yang paling strategis secara lokasi adalah gedung-gedung daerah Senayan. Mudah dijangkau karena lokasi di tengah kota. Tapi, rata-rata kualitas akustik suara yang dihasilkan di gedung daerah itu tidak terlalu jernih dan nikmat di kuping. Ada beberapa gedung pertunjukan di tengah kota yang mudah dijangkau dan secara akustik layak menampilkan konser yang

    Selengkapnya »dari Adakah Tempat Konser Yang Nyaman di Jakarta?
  • Salah satu contoh “barang panas” dalam K-pop adalah 7.9.4.2. Band yang lebih terkenal dengan panggilan Chil-Gu-Sa-E (pelafalan angka dalam bahasa Korea) ini baru melempar satu single “I’ll Be Famous” tetapi sudah didaulat tampil di Boyz Nite Out, Singapura.

    Kalau dipikir-pikir, bermodal satu lagu, apa saja yang akan dilakukan Yoo Haenghoon, Jo Hoon, Lim Jonghyun dan Kim Eungjoo di panggung selama 30 menit? Seperti tidak ada boyband K-pop lain saja bukan?

    Ternyata walau hanya berbekal dua lagu (“I’ll Be Famous” dan “Missed You”) plus tiga lagu kover, sambutan yang mereka dapat tidak kalah dari para “senior” mereka — Shinee, Jay Park, B1A4 & Teen Top — yang tampil malam itu.

    Anggota yang terakhir sekaligus yang termuda (maknae), Eungjoo beradu akting juga bersama Tim Hwang dan Revalina S. Temat dalam drama “Saranghae” yang diputar di Indosiar. Sementara teman-temannya tampil sebagai pemeran pembantu. Ini berarti Chilgusae memulai kiprahnya langsung ke jalur “internasional” alias di luar

    Selengkapnya »dari 7.9.4.2: Boyband K-Pop Yang Mulai Kiprah Di Luar Korea
  • Salah satu faktor kunci sebuah grup K-pop cepat mendapat tempat di hati penggemar adalah namanya. Nama grup seperti Super Junior, 2NE1, Big Bang, atau 2PM terbukti paling mudah diingat.

    Namun, tidak jarang nama grup justru jadi bumerang, dicemooh dan — yang lebih apes — terlupakan. Padahal nama-nama unik itu dipilih oleh manajemen artis demi alasan komersial. Jadi, bukan salah anggota grup sepenuhnya.

    Berikut adalah beberapa nama grup K-pop yang paling unik.

    Fin.K.L.Fin.K.L
    Fin.K.L dibentuk oleh manajemen artis DSP sebagai saingan S.E.S, girl grup jebolan SM yang sangat populer di akhir tahun ‘90-an. Dari grup inilah kemudian muncul penyanyi dan aktris seksi seperti Lee Hyori (You & I) dan Sung Yuri (Man of Equator).

    Sayang, nama grup tidak seseksi para anggotanya. Fin.K.L adalah kependekan dari Fin Killing Liberty. Tidak ada yang mengerti sepenuhnya arti grup ini.

    Ada yang bilang Fin diambil dari bahasa Prancis yang berarti akhir. Ditambah dengan kata Killing Liberty banyak yang mengira grup

    Selengkapnya »dari Empat Nama Grup K-Pop Paling Aneh
  • ShinhwaTidak banyak idola K-pop yang bertahan lama. Misalnya seperti Shinhwa (Eric Mun, Lee Minwoo, Kim Dongwan, Shin Hyesung, Jun Jin, dan Andy Lee), boyband yang mendominasi industri musik di akhir tahun 1990-an.

    Bersama dengan H.O.T, mereka tidak hanya dielu-elukan di negaranya sendiri tetapi juga negara tetangga seperti Taiwan, Cina, dan Jepang. Setelah vakum empat tahun karena enam dari tujuh anggotanya harus menjalankan wajib militer, Shinhwa kembali dengan album terbaru, “The Return.”

    Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa kembalinya Shinhwa diantisipasi banyak pihak. Padahal di kancah K-pop, sangat banyak boyband yang lebih muda yang tidak kalah populer. Super Junior, Big Band dan 2PM, misalnya. Berikut ini tiga alasan:

    Bertahan 14 tahun
    Menengok perjalanan karier Shinhwa, banyak hal yang membuat grup idola ini dikategorikan legenda K-pop. Para anggota mampu menahan ego dan bersedia berkompromi demi keutuhan grup. Hingga kini, mereka tak pernah mengalami perubahan anggota selama 14

    Selengkapnya »dari Tiga Alasan Shinhwa Bertahan Jadi Grup Idola K-Pop
  • Persaingan di kubu K-pop makin ketat seiring menjamurnya produk beserta agensi dan manajemen artis. Bila delapan tahun lalu hanya ada segelintir boyband/girlband yang bernaung di bawah tiga manajemen besar (SM, YG dan JYP), kini jangan ditanya lagi berapa jumlah mereka.

    Akibatnya, beragam cara pun dilakukan demi mempromosikan dan memasarkan produk K-pop. Ketika strategi koreografi unik, kostum panggung warna-warni, dan refrain lagu yang mudah diingat tidak mempan lagi menarik perhatian publik, agensi manajemen artis pun dipaksa untuk mencari strategi lain yang lebih kreatif.

    Cara termudah (sebagai sebuah negara dengan koneksi Internet cepat) adalah memaksimalkan media sosial seperti YouTube dan Twitter. Media sosial tampak sangat jitu dalam menciptakan “riak kehebohan”. Sebagai contoh, SM sukses memanfaatkan Facebook dan YouTube membangun rasa penasaran penggemar K-pop terhadap artis baru mereka EXO-K dan EXO-M.

    Klip video kedua artis ini ditonton jutaan penonton di YouTube. Kepopuleran

    Selengkapnya »dari Persaingan Ketat Dalam K-Pop
  • James Morrison. (Foto: Aloysius Lim / MTV Asia)Saya sudah jatuh cinta pada vokal serak James Morrison sejak pertama mendengarkan lagu “You Give Me Something”. Ketika penyanyi berumur 27 tahun ini digosipkan akan tampil di Java Jazz, saya pun langsung berketetapan hati ingin menonton. Sayang, gosip tinggal gosip.

    Keinginan menonton pertunjukan langsung Morrison akhirnya kesampaian setelah saya “menjemput bola” dan mendatangi sesi akustiknya di sebuah teve kabel di Singapura.

    Kenekatan ini tidaklah sia-sia. Begitu lirik “Since you’ve gone, nothing seems to fit no more...,” dinyanyikan, James Morrison membuat sekitar 200 penonton di  Resorts World Sentosa’s Waterfront Studio langsung terkesima dengan suaranya yang seksi.

    Tampil santai dan hobi curhat di depan penonton, tuduhan konser sendu pun salah besar. Dengan format semi akustik, konser yang berlangsung satu jam itu seperti mendengar rekaman album. Kualitas vokalnya tanpa cacat dan mengagumkan. Sulit untuk tidak semakin jatuh cinta padanya saat menonton konser mininya.

    Beberapa

    Selengkapnya »dari Kencan Manis James Morrison
  • Ketika demam bintang Hallyu dimulai, aktor-aktor drama populer pun menjadi favorit. Bae Yong Jun, Chang Dong Gun, Kwan Sang Woo, Song Seun Sung, dan Won Bin menjadi idola. Kini demam budaya pop Negeri Ginseng ini telah melebar.

    Yang menjadi favorit tidak lagi hanya drama, tetapi juga film, musik dan, media baru penyebar demam-nya, acara ragam (variety show). Seperti halnya bintang Hollywood muda jebolan Disney, para idola budaya pop Korea ini pun dituntut untuk tidak hanya jago akting tetapi juga luwes dalam berinteraksi di berbagai macam acara lepas di televisi.

    Di awal tahun 2012 ini bersiaplah dengan gempuran aktor pendatang baru yang tidak hanya bertampang ganteng, punya akting bagus tetapi juga punya bakat lain seperti menyanyi atau menjadi model di berbagai iklan.

    Joo Won (Foto: iSports Korea)Joo Won
    Sejak penampilannya di “King Baker Tae Gu”, Joo Won menjadi aktor jaminan untuk rating tinggi. Apalagi aktor kelahiran 20 September 1987 ini juga berakting dalam drama keluarga akhir pekan KBS yang juga mencetak

    Selengkapnya »dari Empat Aktor Baru Korea Siap Bersinar di 2012
  • Foto dok. Sony Music HKLaruku tahu betul cara mengelola fanatisme penggemar demi menghasilkan keuntungan komersial.

    Kesan itu begitu terasa saat saya menghadiri konser perayaan 20 tahun karier L~arc~en~Ciel di Hongkong, 3 Maret lalu. Kota ini jadi tempat pemberhentian pertama Hyde, Ken, Tetsu dan Yukihiro dalam tur perayaan 20 tahun mereka di luar negeri.

    Sedari awal, cendera mata apa saja yang dijual di lokasi konser sudah dipromosikan jauh-jauh hari sebelumnya lewat Internet (satu teknik yang jarang atau tak pernah dilakukan band Barat). 

    Selama konser berlangsung, penonton dilarang mengambil gambar atau video. Petugas (lengkap dengan papan larangan) langsung menghampiri para penonton yang bandel. Jadi, suka atau tidak, penonton “dipaksa” untuk konsentrasi menonton konser.

    Tiadanya video dan foto jepretan penggemar tentu membuat penggemar lain (yang tidak menonton konser) jadi penasaran seperti apa konser di Hong Kong. Mereka yang hadir pun akan kehilangan koleksi rekaman konser yang mereka tonton.

    Di sinilah

    Selengkapnya »dari Eksploitasi Fanatisme di Konser Laruku
  • Lana Del Rey (Foto: Universal Music Indonesia)Setelah Justin Bieber, bintang yang melejit lewat YouTube kini semakin banyak. Sebut saja, Greyson Chance dan Rebecca Black. Kini, daftar itu bertambah lagi dengan nama Lana Del Rey.

    Penyanyi bernama asli Elizabeth Woolridge Grant ini sebelumnya sempat terlibat dalam beberapa proyek musik, seperti “Sparkle Rope Jump Queen” (sekitar tahun 2008/9) dan “Lizzy Grant and the Phenomena”. Dengan nama Lizzy Grant, ia sempat mengeluarkan single “Kill Kil” dan album “Lana Del Ray A.K.A Lizzy Grant”. Namun, sayang album hancur di pasar.

    Kemudian, ia menyebarkan beberapa lagu kesukaannya dan memproduksi video klip dengan dananya sendiri untuk lagu “Blue Jeans” dan “Diet Mountain Dew” lewat Internet. Karya-karya online itulah yang kemudian menimbulkan rasa ingin tahu publik dan melejitkan cewek kelahiran New York ini.

    Berbeda dengan penyanyi YouTube lain, reaksi yang didapat Lana Del Rey justru penuh kontroversi. Pertama, ketika ia membeli seluruh album debutnya di pasar supaya tidak ada konflik

    Selengkapnya »dari Candu Baru Lana Del Rey
  • Bintang "Winter Sonata" Bae Yoon-joon dan Choi Ji-woo (Foto: Yoshikazu Tsuno/AFP)Ketika pertama kali drama Korea seperti “Winter Sonata” dan “Autumn in My Heart” disukai banyak orang (baca: penonton non-Korea), penyebabnya adalah alur cerita yang mengharukan dan menguras air mata.

    Dengan karakter drama seperti itu, tak heran penggemar drama Korea pun kebanyakan wanita, terutama ibu rumah tangga yang mempunyai waktu lebih banyak untuk menonton televisi. Namun, seiring dengan meluasnya demam budaya pop Korea dan getolnya pemerintah Korea Selatan mempromosikan pergerakan ini (termasuk menciptakan istilah bintang “hallyu” untuk para aktor), drama Korea pun mulai mengalami banyak perubahan.

    Banyak faktor penyebab. Tema cinta tetap menjadi daya tarik tetapi bumbu-bumbunya alias kemasan pun semakin bervariasi. Mulai dari komedi (“Full House”), laga (“City Hunter”), sejarah atau sering disebut dengan istilah saeguk (“The Moon That Embraces The Sun”) sampai fantasi (“49 Days”).

    Faktor penyebab lain adalah demam budaya pop Korea lainnya (yaitu musik K-pop) yang kini semakin

    Selengkapnya »dari Invasi K-Pop Dalam K-Drama

Penomoran Halaman

(61 Artikel)