Di siang yang malas itu sepotong pesan pendek masuk. “Lagu rock yg populer saat ini di kalangan tentara Amerika di Irak apa?”
Pengirimnya, seorang kenalan, berharap saya membalas segera.
Saya tak menyangka akan ada yang bertanya soal itu. Sedang menderita kantuk, agak susah payah saya mencoba menggeledah ingatan. Tapi setelah beberapa saat saya yakin tak satu pun yang bisa disebut spesifik menjadi semacam hit di kalangan tentara Amerika di Irak. Yang saya tahu benar adalah sejumlah band dan musisi yang masuk dalam playlist prajurit-prajurit yang dikirim untuk perang yang sia-sia tapi tetap dilanjutkan juga itu.
Seperti halnya kita, mungkin sebagian dari kita, para prajurit itu diam-diam menjadikan pemutar MP3 sebagai perlengkapan standar (tentu saja, bagi mereka, di samping bedil dan peralatan lain yang memang berguna untuk berperang). Dan band-band yang menghuni perangkat personal entertainment mereka itu adalah yang menyanyikan semangat dan suasana hati mereka --kebencian terhadap situasi yang harus mereka hadapi, kebencian pada perang, atau bahkan yang berpotensi memompa nyali untuk bertindak di luar kemanusiaan. Tentu saja, di kamp-kamp militer di tengah suhu terik dan suasana “panas” tak bakal ada nama-nama “manis” seperti Chris de Burgh atau Barry White atau Taylor Swift. Menurut survei, Slayer, Metallica, Eminem, dan lain-lain yang senada mendominasi playlist mereka.
“Harap kirim sepenggal liriknya yang erotis dan dari lagu apa,” kenalan itu cepat membalas pesan pendek saya.
Saya tahu beberapa lagu bernada protes, jadi saya kirimkan saja lirik lagu-lagu itu. Rasanya, satu-dua pasti ada yang cocok.
Entah, untuk keperluan apa informasi yang ingin didapatkannya itu --barangkali untuk bahan cerpen terbarunya. Yang pasti, saya jadi seperti diingatkan betapa berlimpahnya lagu-lagu protes di luar sana. Masih terus bertambah pula. Mungkin memang tak segegap-gempita akhir 1960-an, zaman ketika Bob Dylan atau Joan Baez, misalnya, menjadi ikon dengan lagu-lagu yang seperti berfungsi sebagai “lagu kebangsaan” gerakan-gerakan kebebasan sipil dan antiperang. Tapi selalu saja ada musisi yang sadar dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di tempatnya berpijak. Dan mereka punya empati.
Dasawarsa kala itu memang sedang dalam turbulensi. Kaum muda muak dengan segala kemapanan dan juga perang (keterlibatan Amerika dalam perang di Vietnam mencapai puncaknya, sementara di dalam negerinya sendiri perlawanan kaum prokebebasan sipil pun kian menguat). Gerakan kontra-budaya timbul di atas landasan semangat ini. Dari Amerika dan Inggris, perlawanan kaum muda ini, termasuk melalui musik, menyebar ke dunia Barat.
Dengan latar belakang sosial dan politik berbeda, di tahun-tahun yang berbeda pula, musik yang mewakil semangat zaman seperti kala itu sempat lahir pula di sini. Tak seramai di luar, memang. Tapi ada. Jangkauan audiensnya pun terhitung luas. Kita, misalnya, bisa mengenal Mogi Darusman atau Harry Roesli. Atau Iwan Fals. Tanpa menjadi pamflet, protes atau kritik mereka telak, kadang-kadang pedas --dan karenanya mereka termasuk di antara seniman-seniman yang selalu dalam pengawasan aparat keamanan.
Kini, berbeda dengan di luar, kita sulit menemukan musisi seperti mereka. Ini kalau kita tak boleh mengatakan tidak ada sama sekali. Benar, zamannya sudah lain. Tapi bukankah persoalan-persoalannya tetap ada, dan begitu telanjang tampak di hadapan mata siapa pun, dan justru lebih genting? Jika kreativitas seniman, juga semua kegiatan yang ada dan mungkin ada, begitu dibatasi di masa lalu dan toh tetap melahirkan musisi dan seniman pemrotes, kenapa di masa yang sangat bebas sekarang ini justru orang-orang seperti beramai-ramai tiarap?
Saya merindukan di masa ini ada lagu seperti The Times, They Are a-Changin’, yang menjadi theme song zamannya (pada 1960-an). Saya merindukan ada musisi seperti Dylan. Ketika menulis lagu itu dia mengaku memang terdorong untuk menciptakan suara perubahan. Dia, dalam kata-kata Michael Gray, seorang kritikus yang banyak menulis tentang Dylan, “menumpangi sentimen publik kebanyakan yang tak disuarakan --untuk memberi sentimen yang samar-samar itu sebuah anthem dan memberinya saluran”.
Saya membayangkan, dengan lagu seperti itu, kita bisa menjadi bersatu lebih padu melawan pembodohan dan ketidakadilan yang dipaksakan kepada kita. Barangkali seperti tentara Amerika di Irak, yang menjadikan lagu-lagu dalam playlist mereka sebagai semacam suara bersama.
