Selalu disebut sebagai induk dari hampir segala jenis musik populer yang muncul sejak abad ke-20, blues sesungguhnya mula-mula merupakan wujud ekspresi musikal paling langsung dan jujur. Dalam format aslinya, yang lahir dan tumbuh di lingkungan warga kulit hitam di belahan selatan Amerika Serikat, blues merepresentasikan kesederhanaan sekaligus kedalaman: siapa pun bisa membawakannya hanya dengan instrumen sederhana, gitar misalnya, tapi hanya mereka yang jujur dan “telanjang” mengenai subyek musiknyalah yang mampu menjangkau dan menyentuh audiens yang luas.
Jika meminjam ungkapan Big Bill Broonzy, musisi country blues yang memulai kariernya pada 1920-an, blues adalah “kenyataan alami, sesuatu yang dijalani seseorang dalam hidupnya”. Menurut dia, jika orang tak mengalaminya, dia juga pasti tak memilikinya. Dengan kata lain, seseorang hanya mungkin menyanyikan apa yang dilakoninya.
Maka, wajar jika musisi blues selalu dipandang sebagai teladan dalam hal totalitas. Mereka mempraktekkan dengan sebenar-benarnya apa yang orang ramai sebut “menjiwai”: mereka sepenuhnya mengalami hidup yang mereka nyanyikan dan karenanya ada ruh dalam nyanyian-nyanyian itu.
Robert Leroy Johnson, yang hidupnya pada 1930-an diselimuti misteri (misalnya kisah tentang bagaimana dia menukarkan jiwanya kepada iblis demi mendapatkan keterampilan bermain gitar), memeras pengalaman-pengalamannya, sebagian besar yang pahit dan muram, dan menuangkan apa yang bisa dia dapat ke dalam 29 lagu.
Tetapi segera setelah blues menyeberang ke Inggris pada awal 1960-an, lalu diperkenalkan ke audiens yang lebih luas oleh sejumlah musisi kulit putih, menjadi tak mudah menemukan kualitas serupa itu. Dan apalagi begitu blues berkembang seraya diikuti oleh munculnya aneka jenis musik populer satu demi satu.
Hilang sepenuhnyakah totalitas, penjiwaan, atau apa pun namanya dalam bermusik? Barangkali kita bisa mengatakan tidak; lagi pula, tentu akan ada yang berpikir, pasti keterlaluan jika seseorang telah sepenuhnya memilih karier bermusik tidak bisa disebut total. Tapi benarkah demikian?
Ada cerita tentang Judy Garland yang dikemukakan Frank Sinatra dalam suatu wawancara dan kemudian diteruskan oleh Nelle Harper Lee. Tiga nama ini, jika ada yang belum tahu, merupakan seniman-seniman besar di bidang masing-masing: Judy adalah penyanyi dan bintang film yang meninggal di usia 47 tahun pada 1969; Frank, seperti Judy, juga penyanyi sekaligus aktor; Nelle, berbeda dari Judy dan Frank, adalah pengarang yang bukunya, To Kill a Mockingbird, termasuk salah satu karya sastra klasik Amerika Serikat. Tapi cerita yang dituturkan Nelle ini jauh sama sekali dari soal gosip selebritas.
Menurut Nelle, dalam wawancara itu Frank mengatakan bahwa setiap kali Judy menyanyi, “dia perlahan-lahan mati”. Perlahan-lahan dia menuju ke akhir hidupnya. Kita barangkali tak akan pernah tahu pertanyaan apa yang sedang dijawab Frank, atau mengapa dia membuka cerita itu. Yang pasti, kita menjadi tahu satu hal, persis sebagaimana yang lalu disimpulkan Nelle untuk para pengarang: bahwa seniman yang berniat menciptakan sesuatu yang tak lekang oleh zaman pasti mengerahkan segala yang dia punya, sebesar-besarnya; ikhtiar untuk mewujudkan harapan inilah yang perlahan-lahan membawa sang seniman ke titik akhir hidupnya.
Seorang teman berkomentar tentang hal itu. Katanya, seniman-seniman seperti itu kelihatannya berusaha untuk membuat seluruh kegiatannya punya makna. “Kematian tentu saja batas keberartian itu.”
Kematian memang menghentikan kiprah Judy, juga Robert Johnson yang meninggal di usia 27 tahun. Tetapi, selain karena drug overdose dalam kasus Judy dan racun dalam botol wiski untuk Robert, kita tak pernah bisa yakin apakah kematian mereka antara lain juga disebabkan oleh kesungguhan dalam mengerahkan kemampuan untuk menghasilkan karya-karya yang abadi. Satu hal yang pasti: selama hidupnya, Judy atau Robert telah menatahkan pencapaian yang memancarkan kualitas yang berasal dari pengalaman yang nyata dan sesungguhnya. Pencapaian yang berasal dari totalitas. Tak ada kepura-puraan, bahkan ketika (dalam hal Judy) harus berakting.
Judy dan Robert sudah tinggal sejarah. Pengganti dan penerus mereka telah datang dan pergi, silih berganti. Walau demikian, rasanya, tak ada penggemar musik sejati yang tak terus-menerus dahaga akan karya-karya seperti itu atau musisi-musisi seperti mereka berdua, atau siapa pun yang lain yang menempuh jalan kesenimanan serupa.
