Untuk bisa merasakan dan menentukan (atau menilai) sesuatu musik masuk kategori bagus atau tidak, seseorang perlu semacam lidah. Suatu kali saya menyebutnya "mistar pengukur".
Dengan alat inilah apa pun yang masuk telinga "dicecap" dan diurai menurut unsur-unsurnya. Proses ini bisa sama cepatnya dengan uji coba menu baru atau malah lebih lama.
Sebenarnya, dengan bantuan mistar itu semata, kita bisa lebih terbuka untuk menikmati apa saja. Tapi dalam kenyataannya, selera seseorang sering lebih dominan, dan ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaannya sejak lama. Dan selera inilah yang cenderung mengungkung, mencegah seseorang bersua dengan kemungkinan-kemungkinan untuk mengenal horizon musik yang lebih luas.
Saya kenal seseorang yang, karena cenderung dominan, dianggap sebagai penggemar musik yang pasti takkan melewatkan genre atau aliran progressive rock. Ukuran bagus atau tidaknya sesuatu jenis musik pasti akan diukur dengan "standar" genre itu. Ternyata banyak orang yang salah sangka.
Suatu kali saya berkesempatan mengobrol panjang dengannya. Dari situ saya tahu, dia juga mengikuti hampir apa saja yang dilempar ke pasar, oleh para raksasa industri musik (yang lebih sering merupakan hasil produksi massal bagai pabrik yang biasa punya semacam "cetakan") maupun kelompok atau perorangan dari ranah indie.
Dia bahkan bisa tulus memuji jenis musik yang tergolong... pop. Pengetahuannya juga luas. Saya percaya jika dia bilang koleksi rekamannya hampir seperti toko serba-ada.
Lebih dari sekadar terkesan, saya pun lalu teringat komentar seseorang mengenai siapa saja yang punya selera seperti teman saya itu. "Orang-orang dengan gairah pemulung," katanya. Mengambil apa saja yang ada dan ditemui, dan, barangkali, segera melupakannya.
Tapi ini cenderung bernada sinis dan merendahkan sebab seolah-olah mengatakan, orang-orang seperti teman saya itu hanya memungut dan tak mendengarkan dengan saksama. Dan yang paling tak mengenakkan adalah tudingan tersembunyi bahwa para "pemulung" itu telah melakukan semacam dosa.
Saya baru saja membaca cerita tentang pengalaman Mikael Akerfeldt, gitaris-vokalis-pendiri Opeth, band pogressive metal dari Swedia, saat menggarap "Heritage". Album terbaru band yang sebelumnya lebih dikenal sebagai salah satu kampiun death metal ini dijadwalkan masuk ke pasar pada pekan ketiga September.
Sebagian kalangan yang sudah mendapatkan bocoran dan sempat menyimaknya pasti tahu persis betapa materi album ini jauh berbeda dibandingkan dengan karya-karya Opeth sebelumnya: di sini death metal "masuk kotak" atau setidaknya muncul dalam kadar yang tidak kentara, dan yang sangat terasa adalah semacam eksperimen dengan progressive rock dari masa 1970-an.
Dalam salah satu wawancara, Mikael bercerita bagaimana tahun demi tahun seleranya berubah. Dia mengaku mengikuti aneka musik yang keluar belakangan ini, membeli begitu banyak rekaman. Dari situlah, seperti yang sudah-sudah, dia menggali inspirasi. Dan selama mengerjakan "Heritage" dia menyimak, misalnya, Alice Cooper, pelopor aksi teatrikal dalam heavy metal. Tapi, katanya, "Saya tak bisa bilang ini terdengar seperti [salah satu single Alice Cooper] No More Mr. Nice Guy."
Mikael, tentu saja, bukan satu-satunya musisi yang luas cakrawala minat musikalnya; yang mendengarkan hampir apa saja, bahkan musik yang jauh jaraknya dengan jenis musik yang ditekuninya.
Tapi justru hal seperti inilah yang kerap luput dari perhatian. Banyak penggemar musisi seperti Mikael yang mengira idolanya itu sepenuhnya berada di ruang kaca. Dan banyak yang menganggap hanya ada satu jenis musik yang patut disimak: musik yang sudah telanjur lekat dengan dan menjadi identitas idolanya.
Sebenarnya, jika tak menutup diri, kita akan paham betapa karya yang bagus, segala kreasi yang dilakukan dengan terus-menerus membuka batas wilayah baru, memerlukan masukan yang juga kaya. Seperti olahragawan yang hendak membidik rekor yang lebih maju, atau kemenangan paripurna, asupan gizi yang berkualitas dan juga bervariasi adalah keniscayaan.
Saya tak pernah bisa mengingkari bahwa, bagi saya, menikmati blues dan progressive rock jauh lebih mudah. Meski begitu, saya masih juga bisa membuka ruang untuk jenis musik lain, apa pun itu. Dan saya percaya bahwa, sebenarnya, setiap orang yang sungguh-sungguh menggemari musik bisa melakukannya.
