Berapa lama kita akan menjadi seorang rocker, atau, dari sisi yang lain, penggemar musik rock sejati? Saya sempat beberapa waktu menyimpan pertanyaan ini. Seperti seseorang yang kehilangan arah, saya tak yakin dengan jawaban yang mestinya sudah pasti.
Kebetulan suatu hari, di satu mailing list, ada anggota yang mengirimkan cerita tentang seorang musisi tahun 1970-an yang ditanya mengapa dia bertahan tetap "cadas" sementara usianya sudah menembus 60 tahun. Jawabnya, "Sejujurnya saya merasa aneh tetap nge-rock di usia saya. Kelihatannya hampir tak terhormat dan saya berpikir akan berhenti selekasnya."
Dengan kata lain, musisi itu, siapa pun dia (maklum, si pengirim pesan sengaja menghapus identitasnya), sudah tahu satu hal yang tak terelakkan yang akan ditempuh: pensiun.
Tetapi, benarkah itu satu-satunya pilihan, langkah yang sepenuhnya niscaya? Pensiun menjadi rocker? Dan jika ya, bagaimana dengan penggemarnya, yang dari sisi lain terilhami oleh apa pun yang dilakukan idolanya? "Apa mereka juga akan pensiun?" saya bertanya dalam balasan atas kiriman pesan itu.
Saya membayangkan Mick Jagger, juga Keith Richards. Usia mereka kini 68 tahun. Penampilan fisik mereka, tentu saja, selayaknya orang-orang di usia mereka. Lihatlah foto-foto mereka—di majalah-majalah, misalnya. Wajah yang mengeriput, seperti buah yang sudah lewat masa kesegarannya.
Tapi, melalui The Rolling Stones, band yang mereka dirikan pada awal 1960-an, mereka masih berjingkrakan di panggung; Band itu bahkan belum sekali pun gugur dari daftar band berpendapatan terbesar dari penjualan tiket konser 5-10 tahun terakhir.
Keith, yang sempat ikut bermain di dua episode "Pirates of the Carribean", punya mistar untuk mengukur apakah seseorang sudah mesti tahu diri atau belum dalam urusan rock'n'roll: "If it's too loud, you're too old." Ya, jika musik terdengar terlalu memekakkan telinga, tandanya Anda sudah mesti pensiun....
Mick dan Keith tak sendiri di galeri para old warrior rock'n'roller. Baru-baru ini saya menyaksikan dokumenter pembuatan album mutakhir Yes, "Fly from Here". Saya tak bisa mengabaikan penampilan fisik Chris Squire, Alan White, Steve Howe, Geoff Downes, dan Trevor Horn. Rambut mereka telah memutih, juga menipis.
Kecuali Steve, mereka pun terlihat tambun (dibandingkan dengan postur pada masa keemasan mereka, antara 1970-an hingga awal 1980-an). Bahwa mereka masih sanggup merampungkan album baru, yang pertama dalam sedasawarsa, dengan hasil yang secara mengejutkan jauh dari mengecewakan, tentu hal itu berkat semangat dan gairah mereka yang belum luruh.
Belum atau memang tak akan? Kita tak pernah tahu persis. Dan andai jawaban mereka adalah tidak, lalu apakah pensiun harus menjadi sesuatu yang nisbi, tergantung siapa orangnya?
"Menjadi seorang rocker, atau setidaknya jatuh cinta pada rock," kata seorang teman, pengusaha yang kebetulan punya band dan telah melahirkan satu album, "bisa karena dua hal: gaya hidup dan panggilan hati." Yang pertama, menurut dia, tak akan berumur panjang, akan tiba saatnya ketika tuntutan untuk pensiun tak bisa ditolak; yang kedua, segala sesuatunya meresap di dalam hati, sebab ada kecocokan yang sifatnya lebih dari sekadar tren atau mode, dan inilah yang tak akan ada akhirnya.
Di antara riuh kafe pada jam pulang kantor hari itu, setelah menyimak kata-katanya, saya merasa kembali diyakinkan bahwa rocker sejati tak akan pernah pensiun. Pilihannya adalah jalan hidup. Bila musisi yang kata-katanya dikirimkan ke mailing list itu mengaku telah mempertimbangkan untuk undur diri, atau Mick dan Keith akhirnya sadar bahwa volume musiknya sudah terlalu memekakkan telinga, tak serta-merta akan berarti bahwa mereka sepenuhnya pensiun.
Secara fisik, mungkin saja—bahwa mereka, seperti petinju yang meggantung sarung tinjunya, meninggalkan panggung dan menyimpan segala atribut yang hampir selalu identik dengannya.
Tapi secara batin yang berlaku hanya satu: sampai maut memisahkan mereka.
Bagaimana dengan mereka yang bukan musisi? Mereka yang sejak awal menjadi penggemar setia? Kecuali bahwa mereka tak memilih karier bermain musik, tak banyak bedanya. Mereka bisa saja berhenti mendengarkan Black Sabbath, Guns N' Roses, Trivium, atau band-band sejenis. Tapi mereka tak akan pernah sepenuhnya menanggalkan "roh" yang telah mereka serap sejak lama. Mereka adalah juga rocker selamanya.
Dengan kata lain, sebenarnya, inti dari semua itu adalah rock (lebih dari sekadar musik) sebenarnya hanyalah seperangkat ide, dan barangkali juga norma, yang mengilhami dan menjadi penuntun dalam menjalani hidup.
