Setelah menghadiri Jakarta International Blues Festival bulan lalu, saya merasa bahwa kita sesungguhnya memerlukan bukan saja beberapa lagi festival serupa, melainkan juga yang penyelenggarannya ajek, dan lebih bagus lagi jika ada pesan kuat yang disampirkan. Bisa festival musik apa saja.
Beberapa waktu sebelum festival blues itu, yang tahun ini merupakan yang ketiga, berlangsung pula Java Rockin' Land, festival yang menghimpun aneka musik rock --walau, jika dilihat benar, masih terasa ada yang hilang juga di antara aneka aliran yang ada. Di pengujung tahun seperti saat ini mestinya ada JakJazz. Tapi festival jazz pertama di Indonesia ini vakum sejak tahun lalu. Tampaknya penggemar jazz mesti menunggu tahun depan, saat Java Jazz berlangsung, untuk bisa berpesta.
Festival, bagaimanapun, merupakan pesta. Karenanya, apa saja jenis musik yang dirayakan, saya percaya, suasananya akan sama, barangkali seperti pasar malam: para penggemarnya berkumpul dengan antusiasme yang melambung, dengan niat menjelajahi semua panggung yang ada, mondar-mandir seperti sedang melaksanakan ritual, dan menonton sebanyak mungkin band yang main; para musisi yang berpartisipasi pun merasa punya kesempatan berharga untuk menjangkau khalayak.
Tetapi, sesungguhnya, efeknya bisa lebih “dalam”. Kalaupun tak sampai spiritual, paling tidak mencerahkan.
Sebuah kutipan dari Paus Benedict XVI melukiskan apa yang sebenarnya terjadi dan bisa terjadi: “[Musik] rock... adalah ekspresi dari hasrat paling dasar, dan di festival rock, ia muncul sebagai karakter yang bersifat kultus, satu bentuk pemujaan, sebenarnya.... Orang, dengan kata lain, dibebaskan dari diri mereka oleh pengalaman menjadi bagian dari kerumunan dan oleh kejutan emosional dari ritme, kegaduhan, dan efek cahaya khusus. Tapi, di tengah ekstase ketika semua pertahanan mereka diruntuhkan, para peserta tenggelam, tampaknya, di bawah kekuatan paling dasar dari semesta.”
Tentu saja, di luar itu, dan yang mudah terlewatkan, adalah “manfaat”-nya bagai perusahaan-perusahaan yang mensponsori acara:
mereka akan mengerahkan segala jurus komunikasi untuk menancapkan brand di benak sasarannya.
Yang terakhir itu memang fenomena baru. Ketika festival musik pop atau rock baru dirintis pada akhir 1960-an, sponsor barangkali merupakan sisi yang tak terekspose --dan memang tak kelihatan diekspose, kalaupun ada. Woodstock Music & Art Fair atau yang biasa disebut Woodstock Festival pada 1969 malah menyebabkan penyelenggaranya bangkrut. Dulu, festival-festival itu jauh sama sekali dari kesan pesta semata, atau bagian dari strategi berbisnis pihak ketiga.
Woodstock Festival, misalnya, pada akhirnya luas diakui telah menjadi tonggak kultural periode akhir 1960-an dan pembawa pesan antiperang yang artikulatif. Monterey International Pop Music Festival atau Monterey Pop Festival, yang diselenggarakan dua tahun sebelumnya, malah sejak awal dirancang sebagai sebuah deklarasi bahwa Kalifornia merupakan pusat kontrabudaya pada akhir 1960-an.
Di antara festival-festival terkemuka yang menyandang misi lebih dari sekadar pesta, harus disebut pula Monterey Jazz Festival, yang pertama kali diselenggarakan pada 1958. Dalam bukunya, The Art of Jazz:
Monterey Jazz Festival/50 Years, Keith dan Kent Zimmerman menulis:
“...Monterey Jazz Festival telah memperlebar cakupannya dengan memperluas parameter jazz, blues, dan rock.”
Apa lacur, sejak akhir 1960-an, di seluruh dunia, festival musik sudah menjadi semacam template untuk sekadar “berpasar malam”. Paling tidak, begitulah sebagian besar festival. Sudah sangat jarang ada festival yang mencoba mengibarkan panji pesan kultural atau pernyataan mengenai perubahan, apa pun itu. Seolah-olah peristiwa dalam tataran pop tak boleh berpretensi melampaui segala klise tentang peristiwa pop.
Seolah-olah semuanya berlangsung dalam ritme “business as usual”
belaka.
Dan begitu pula halnya sebagian festival musik di Indonesia. Di festival-festival itu kita datang, menikmati apa yang disajikan, bersenang-senang atau sekadar “beredar”, mengenang sejenak melalui segala media sosial semua pengalaman setiba di rumah, dan lalu kita sepenuhnya melupakan semuanya sampai datang lagi jadwal festival-festival itu --kecuali jika riwayatnya disudahi begitu saja oleh penyelenggara.
Jakarta International Blues Festival boleh dibilang termasuk dalam perkecualian. Di festival ini apa yang digambarkan Paus Benedictus XVI sebagai “karakter yang bersifat kultus” jauh lebih terasa ketimbang di festival-festival lainnya. Begitu pula aneka festival jazz di sejumlah daerah. Kalau saja event serupa bisa lebih banyak dan, apalagi, jika mengusung pesan khusus yang menjadikannya lebih terasa “membumi”
(bukankah ada begitu banyak persoalan di negeri ini yang membutuhkan perhatian?), rasanya akan lebih bagus.
Musik, sejarah telah mencatat, bisa menghimpun dalam kerukunan siapa saja dari latar belakang apa pun dan sekaligus mencerahkan.
