Akhirnya saya kembali menyimak CD Tohpati Ethnomission setelah sepekan perhatian saya tersita oleh album lain yang kebetulan dikirim seorang teman. Rasanya saya seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang.
Ketika saya memutuskan untuk lebih dulu memberi kesempatan album lain yang dikirimkan kepada saya, bukan berarti hasil dari proyek idealis gitaris Tohpati yang berjudul Save the Planet itu kurang menarik (walau judulnya memang tak membangkitkan selera, karena sudah terlalu klise). Saya semata hanya merasa lebih bisa mengulur waktu untuk menyimak karya Tohpati dan kawan-kawan. Secara substansi, insting saya mengatakan waktu yang lebih longgar akan memberi saya kesempatan untuk mengapresiasi secara lebih baik.
Sebelum “terganggu” oleh album lain itu, sebenarnya saya juga baru saja menyediakan waktu khusus untuk Tohpati Ethnomission. Saya sudah membelinya beberapa lama, segera setelah dirilis pada April lalu. Dan waktu itu sempat juga mendengarkannya. Tapi, seperti yang sudah-sudah, item-item CD lainnya menyusul berdatangan atau “terbawa” pulang dari toko dan menumpuklah pekerjaan rumah --mendengarkan satu per satu CD yang mengantre di meja.
Saat mendengarkannya lagi dua pekan lalu kebetulan sekali saya sempat berbalas pesan dengan Leonardo Pavkovic. Lelaki kelahiran Jajce, Bosnia-Herzegovina, yang kini menetap di New York, Amerika Serikat, ini adalah pemilik MoonJune Records. Inilah label yang berfokus pada musik karya para artis yang mengeksplorasi musik-musik menantang yang sulit dikategorikan ke dalam format tertentu, atau musik yang “beroperasi di dalam kontinuum musik progresif revolusioner yang menempatkan jazz di satu ujung dan rock di ujung yang lain”.
Menanggapi seseorang yang berkomentar di Wall laman Facebook-nya, Leonardo sambil lalu menyebut Tohpati Ethnomission sebagai band Indonesia yang juga layak didengarkan. “Tohpati’s CD is fantastic,” katanya. Dia memang sambil berpromosi, tentu saja. Tapi dia tak sedang berjualan kecap --yang, kita tahu, semua mengklaim sebagai nomor satu.
Menurut dia, Tohpati adalah satu di antara para pemain gitar yang membuatnya sangat terkesan. “His guitarismo always pleased me,” katanya. Pada poin ini saya bilang saya di gerbong yang sama dengannya.
Tohpati Ethnomission sesungguhnya lebih dari sekadar etalase daya magis gitar. Benar bahwa, di sini, Tohpati mengelevasikan apa yang telah dia lakukan melalui simakDialog dan, apalagi, di album-album solonya yang terasa benar kompromismenya pada kuping orang banyak, ke tataran yang lebih tinggi. Tapi dengan Tohpati Ethnomission boleh dibilang dia sepenuhnya mengendalikan perahunya sendiri. Bukan hal yang mengejutkan bila arah pelayarannya sejurusan dengan simakDialog, kelompok jazz etnis yang nakhodanya adalah keyboardist Riza Arshad, yakni meleburkan elemen-elemen tradisional dengan idiom musik Barat. Bagaimanapun, minat pada kekayaan musik tradisional sudah pula muncul di sana-sini di album-album solonya.
Yang mengesankan adalah bagaimana dia berhasil menjelajahi rute yang berbeda dibandingkan simakDialog, sehingga pengalaman yang dibagikannya kepada pendengar juga berlainan. Dengan Tohpati Ethnomission, melalui 11 komposisi, dia bisa menyajikan karakter etnis Timur yang eksotis dan sekaligus karakter Barat yang di tempat lain barangkali sudah overexposed. Dia seperti bertindak sebagai perumus bahasa bersama, lingua franca, yang memungkinkan kedua kutub itu berdialog tanpa hambatan apa pun.
Barangkali hal itu bisa terjadi, mula-mula, karena formasinya yang berlainan. Tohpati Ethnomission tak menyertakan keyboard; Tohpati menggantikan instrumen ini dengan MIDI synth guitar, yang memungkinkan bebunyian keyboard dihasilkan dari instrumen berdawai. Dan bila simakDialog justru sepenuhnya mencoret drum dan menggantikannya dengan kendang, Tohpati memilih mengkombinasikan drum dan kendang. Dia beruntung bisa menggandeng drummer muda Demas Narawangsa dan penabuh kendang yang telah malang-melintang di proyek-proyek serupa, Endang Ramdan.
Tetapi, tentu saja, faktor lain yang berperan adalah sang kapten kapal sendiri: Tohpati sebagai band leader dan komposer. Dialah yang mengeset segala sesuatunya, setidaknya dalam garis besar. Dengan basis Indro Hardjodikoro dan peniup suling Diki Suwarziki melengkapi formasi band, Tohpati Ethnomission, jika meminjam idiom sepak bola, di atas kertas adalah skuad yang potensial bisa melindas lawan-lawannya. Bagusnya, Save the Planet bukanlah semata perwujudan kalkulasi di atas kertas; ia lebih dari yang diharapkan.
Dan karena itulah Leonardo pun sangat bersemangat untuk merilisnya di Amerika, melalui label miliknya.
