Purwanto Setiadi
  • Setelah menghadiri Jakarta International Blues Festival bulan lalu, saya merasa bahwa kita sesungguhnya memerlukan bukan saja beberapa lagi festival serupa, melainkan juga yang penyelenggarannya ajek, dan lebih bagus lagi jika ada pesan kuat yang disampirkan. Bisa festival musik apa saja.

    Beberapa waktu sebelum festival blues itu, yang tahun ini merupakan yang ketiga, berlangsung pula Java Rockin' Land, festival yang menghimpun aneka musik rock --walau, jika dilihat benar, masih terasa ada yang hilang juga di antara aneka aliran yang ada. Di pengujung tahun seperti saat ini mestinya ada JakJazz. Tapi festival jazz pertama di Indonesia ini vakum sejak tahun lalu. Tampaknya penggemar jazz mesti menunggu tahun depan, saat Java Jazz berlangsung, untuk bisa berpesta.

    Festival, bagaimanapun, merupakan pesta. Karenanya, apa saja jenis musik yang dirayakan, saya percaya, suasananya akan sama, barangkali seperti pasar malam: para penggemarnya berkumpul dengan antusiasme yang melambung, dengan

    Selengkapnya »dari Festival Musik Plus
  • Sudah beberapa lama saya berbelanja CD atau compact disc di dua macam pengecer, toko konvensional dan toko online. Silakan sebut apa saja, sejauh ini saya semakin yakin bahwa saya memerlukan keduanya.

    Toko online (ada yang menyebutnya e-tailer) langganan saya adalah Amazon. Toko yang sebenarnya menjual bukan hanya CD ini mengklaim sebagai toko terbesar di jagat maya. Boleh dibilang ini bukan klaim kosong. Dan Amazon memang tak pernah mengecewakan, dalam dua hal: stok dan pelayanan. Selama ini, di Amazon-lah saya memperoleh hampir semua CD yang saya incar tapi tak saya temukan di toko-toko di Jakarta. Ada dua pilihan Amazon, setidaknya bagi saya. Jika di Amazon.com barang yang saya cari tak ada, atau ada tapi harganya di luar jangkauan keuangan saya, biasanya saya bisa dapatkan alternatifnya di Amazon.co.uk (saya belum pernah berbelanja di Amazon.co.jp).

    Dari sisi pelayanan, mula-mula harus disebut soal delivery: bahwa barang yang saya beli selalu saya terima. Kalaupun ada masalah saat

    Selengkapnya »dari Di antara Dua Toko
  • Satu hal yang seketika terbayang jelas bagi musisi yang hendak menggarap proyek cover atau tribute atau apa saja dalam arti serupa adalah ini: mereka harus berjuang mendaki tebing terjal supaya bisa meletakkan semacam tanda orisinalitas pada karya-karya yang mereka pilih. Saya kira, perumpamaan ini tak berlebihan. Faktanya, banyak musisi atau grup musik gagal menundukkan tebing itu.

    Puncak dari tebing terjal itu, jika hendak dielaborasi, adalah tempat yang sudah dicapai oleh artis, musisi, atau grup musik ketika membawakan sesuatu lagu atau musik untuk pertama kalinya. The Beatles, misalnya, punya daftar panjang karya --lagu maupun album --yang telah berada di tempat-tempat seperti itu. Karenanya, mereka punya “monumen” yang jumlahnya makin menambah besar tantangan bagi siapa pun yang mau mencoba-coba membuat interpretasi baru.

    Sejauh yang saya tahu, tak sedikit yang bisa disebut berhasil mengutak-atik karya-karya The Beatles dan melahirkan sesuatu yang benar-benar “gue banget” dari
    Selengkapnya »dari Panjat Tebing Cover
  • Selalu disebut sebagai induk dari hampir segala jenis musik populer yang muncul sejak abad ke-20, blues sesungguhnya mula-mula merupakan wujud ekspresi musikal paling langsung dan jujur. Dalam format aslinya, yang lahir dan tumbuh di lingkungan warga kulit hitam di belahan selatan Amerika Serikat, blues merepresentasikan kesederhanaan sekaligus kedalaman: siapa pun bisa membawakannya hanya dengan instrumen sederhana, gitar misalnya, tapi hanya mereka yang jujur dan “telanjang” mengenai subyek musiknyalah yang mampu menjangkau dan menyentuh audiens yang luas.

    Jika meminjam ungkapan Big Bill Broonzy, musisi country blues yang memulai kariernya pada 1920-an, blues adalah “kenyataan alami, sesuatu yang dijalani seseorang dalam hidupnya”. Menurut dia, jika orang tak mengalaminya, dia juga pasti tak memilikinya. Dengan kata lain, seseorang hanya mungkin menyanyikan apa yang dilakoninya.

    Maka, wajar jika musisi blues selalu dipandang sebagai teladan dalam hal totalitas. Mereka mempraktekkan

    Selengkapnya »dari Seperti Blues Mengajarkan
  • Usianya kini 60, barangkali sudah melampaui puncak masa kreatif dan produktifnya (tapi soal ini, ya, siapa tahu?). Dia datang di Jakarta untuk berceramah, membagi pengalaman suksesnya sebagai...apa saja, saya kira, sebab begitu banyak bidang yang telah dia jelajahi sejak usia belasan tahun --wirausahawan yang mendirikan beraneka perusahaan, aktivis kemanusiaan, juga penantang dan pencetak sejumlah rekor dunia.
    Tapi, bagi sebagian orang, khususnya penggemar musik, dia akan lebih dikenal sebagai pendiri Virgin Records.

    Branson boleh dibilang pribadi yang eksentrik. Dan dia, seperti ditegaskannya dalam ceramah pada Senin lalu, selalu mengikuti insting serta melakukan apa yang memang dia sukai. Dia memulai bisnis pada usia 16, dengan menerbitkan majalah Student. Empat tahun kemudian dia sudah menjadi subyek acara dokumenter di televisi. Kerajaan bisnisnya, Virgin Group, dia mulai dari toko yang melayani impor piringan hitam --baru kemudian disusul dengan jaringan toko rekaman Virgin

    Selengkapnya »dari Insting, Hobi, Kegilaan
  • Dalam tempo kurang dari sebulan, dua kali saya datang dan belanja di Aquarius Pondok Indah. Toko kaset dan CD di Jakarta Selatan ini dulu merupakan megastore, tempat penggemar musik bisa mencari dan mendapatkan hampir apa saja yang mereka inginkan. Bisa dibilang surgalah, begitu. Tapi dua kunjungan saya yang terakhir sudah dalam situasi jauh berbeda, yang sebetulnya terasa sejak beberapa waktu belakangan.

    Situasi itu mengusik saya dan memaksa saya merenung-renung. Saya tak tahu apakah saya semata sedang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan aneka CD yang kebetulan cocok dengan harga relatif lebih murah atau sesungguhnya saya sedang merayakan sesuatu yang pahit, yakni peristiwa yang mengkonfirmasi tibanya akhir zaman bagi CD.

    Dalam dua kesempatan itu saya memang berbelanja ketika Aquarius menggelar diskon menggiurkan, sampai 70 persen; di kesempatan pertama, demi mendapatkan momen ketika stok masih memberi banyak pilihan, saya bahkan datang pagi-pagi saat periode diskon baru

    Selengkapnya »dari CD, Nasibmu…
  • Ann dan Nancy Wilson adalah contoh bagaimana figur dari lanskap musik masa lalu tetap terdengar relevan. Mereka, yang gigih berkarya, melakukannya tidak dengan siasat pemasaran, atau mati-matian berusaha tetap terhubung dengan masa lalu itu. Tapi mereka konsisten mempertahankan satu hal ini: kecintaan pada musik.

    Dua bersaudara yang lahir di Kalifornia (Ann di San Diego, Nancy di San Francisco) dan pernah tinggal di Taiwan itu boleh dibilang tulang punggung Heart. Ini band rock dari Amerika Serikat yang cikal-bakalnya mulai aktif pada akhir 1960-an. Ann dan Nancy bergabung belakangan, pada awal dan pertengahan 1970-an, setelah band mengalami beberapa kali pergantian nama dan personel. Dan mereka berdualah yang hingga kini tetap bertahan.

    Heart tergolong band dengan masa hidup yang unik. Sempat sukses pada 1970-an, antara lain melalui album Dreamboat Annie (dengan hit Crazy on You dan Magic Man) dan Little Queen (dengan hit Baracuda), popularitas mereka lalu merosot, sebelum kembali

    Selengkapnya »dari Heart… Bermusik dengan Hati
  • Setelah bersusah payah menerobos kemacetan gila-gilaan menjelang buka puasa pekan lalu, akhirnya saya sampai juga di satu restoran di Kemang, Jakarta Selatan. Tanpa melihat tempat parkir yang sudah penuh pun saya tahu saya tidak datang di awal waktu. Acara di dalam, sesuai undangan yang saya terima, berlangsung mulai pukul 17.30, sedangkan saya tiba setelah sejam kemudian. Tapi, seperti kata orang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali....

    Ada hal lain yang lebih utama. Saya harus hadir. Bukan semata karena saya hendak memenuhi janji untuk datang, seperti saya katakan kepada sang pengundang, Eric Martoyo. Saya memang ingin berada di tengah-tengah kesempatan penting dalam lanskap musik Indonesia: malam itu adalah gathering Montecristo, band pendatang baru yang beranggotakan antara lain Eric, orang bisnis yang saya kenal justru sebagai penggemar musik, sastra, dan teater.

    Usia Montecristo (nama ini diambil dari merek cerutu premium asal Kuba) sebenarnya sudah sekitar dua tahun.

    Selengkapnya »dari Rockin’ in Their Forties
  • Akhirnya saya kembali menyimak CD Tohpati Ethnomission setelah sepekan perhatian saya tersita oleh album lain yang kebetulan dikirim seorang teman. Rasanya saya seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang.

    Ketika saya memutuskan untuk lebih dulu memberi kesempatan album lain yang dikirimkan kepada saya, bukan berarti hasil dari proyek idealis gitaris Tohpati yang berjudul Save the Planet itu kurang menarik (walau judulnya memang tak membangkitkan selera, karena sudah terlalu klise). Saya semata hanya merasa lebih bisa mengulur waktu untuk menyimak karya Tohpati dan kawan-kawan. Secara substansi, insting saya mengatakan waktu yang lebih longgar akan memberi saya kesempatan untuk mengapresiasi secara lebih baik.

    Sebelum “terganggu” oleh album lain itu, sebenarnya saya juga baru saja menyediakan waktu khusus untuk Tohpati Ethnomission. Saya sudah membelinya beberapa lama, segera setelah dirilis pada April lalu. Dan waktu itu sempat juga mendengarkannya. Tapi, seperti yang sudah-sudah,

    Selengkapnya »dari Bukan Save the Planet yang Biasa
  • Satu dari sedikit saja berita baik dari lanskap musik kita belakangan ini adalah bermunculannya beberapa penyanyi perempuan yang menulis lagu sendiri; lagu-lagu mereka pun bicara tentang banyak hal dalam hidup, bukan cuma asmara. Ini ibarat cahaya matahari yang akhirnya mengintip juga setelah hujan dan mendung sekian lama.

    Penyanyi/penulis lagu perempuan memang terhitung istimewa, di mana pun. Lebih-lebih lagi jika mereka juga memainkan instrumen sendiri. Dan apalagi jika mereka menggeluti dan membawa semangat rock --melawan arus, anti-kemapanan. Ini poin penting. Sebab, seperti tergambar dalam film The Runaways, misalnya, ada pandangan bahwa seharusnya perempuan tak usah memasuki wilayah yang memang dalam sejarahnya didominasi laki-laki itu.

    Begitulah halnya mereka yang muncul di sini belakangan. Coba dengarkan Frau alias Lani, yang bermain piano digital begitu elok dalam album mininya yang sederhana tapi mengesankan, Frau (2010); juga Mian Tiara, yang bisa bermain gitar, dalam The

    Selengkapnya »dari Warna-warni Girl Power

Penomoran Halaman

(40 Artikel)