Purwanto Setiadi
  • Dalam urusan hobi menikmati musik, teman barangkali punya arti yang berbeda dibandingkan dengan apa yang dinyanyikan Rod Stewart dalam film Night Shift. Paling tidak, berbeda sedikit --begitulah yang saya alami.

    Burt Bacharach dan Carole Bayer Sager menulis That’s What Friends Are For pada 1982 untuk menggambarkan bagaimana pentingnya teman dalam roller coaster hidup seseorang. “For good times/And bad times/I’ll be on your side forevermore/That’s what friends are for....” Lagu inilah yang dinyanyikan Rod. Tapi versi Rod kalah pamor dibandingkan dengan versi yang dinyanyikan Dionne Warwick and Friends empat tahun kemudian untuk menggalang dana berkaitan dengan riset tentang AIDS --yang memenangi dua piala Grammy.

    Lebih dari itulah teman dalam urusan hobi musik: bahwa mereka pun bisa menyeret kita ke palung dalam yang seolah tak berdasar, palung kegembiraan yang lekas menciutkan isi dompet kita. Sepuluh tahun terakhir saya telah merasakannya. Dan saya tak menyesal.

    Sepuluh tahun? Benar.

    Selengkapnya »dari Gaul, Dompet Terancam
  • Dewasa ini, orang bisa dengan mudah memperoleh rekaman musik. Ada banyak lokasi download musik di dunia maya. Sebagian besar tentu ilegal. Begitulah, selalu ada orang yang menaruh sesuatu di sana, dan ada juga orang (bisa jadi termasuk kita) yang berminat mengambilnya dengan cuma-cuma. Entah sekadar mencoba sebelum membeli, atau memang sengaja berniat menyimpan.

    Ketiadaan halangan dalam memperoleh hampir apa pun itu membuat keadaan mudah “banjir”. Ini barangkali seperti yang dibayangkan penyanyi asal Inggris Peter Gabriel dalam “Here Comes the Flood”. Meski efeknya bisa sangat berbeda (yakni ketika setiap orang bisa saling membaca pikiran masing-masing), dalam hal ini hanya yang lurus dan terbuka yang bakal bertahan.

    Situasinya, paling tidak, membuat saya ingat zaman ketika musik jenis apa pun bisa diperoleh dengan mudah dan murah melalui kaset.

    Ini masa sebelum awal 1985, ketika kaset bajakan tak lagi diproduksi di Indonesia akibat kemarahan Bob Geldof (penyelenggara konser Live

    Selengkapnya »dari Zaman Melimpah Ruah
  • Baiklah, ini sudah lewat dari pertengahan Maret. Bulan jazz, kata seseorang di luar sana bersemangat, sebelum berlangsungnya Jakarta International Java Jazz Festival. Wow.... Jazz? Jazz apa?

    Beberapa tahun belakangan, setiap kali kata “jazz” melayang-layang di udara pada bulan seperti ini, selalu terbayang keriuhan di satu tempat yang adem berkat pengatur suhu. Terbayang juga orang yang berjubel dengan aneka dandanan (banyak yang datang dengan wangi kuat dan lekas menyebar), lampu-lampu gemerlap, dan aneka gerai makanan.

    Juga musik, tentu saja, yang umumnya seperti sengatan listrik membuat orang-orang melenggak-lenggokkan badan.

    Betapa menyenangkan melihat jazz dirayakan dengan gairah yang meluap. Kita tahu, sebenarnya secara komersial produk rekaman musik jazz sama saja taraf pencapaiannya dengan hasil dari apa yang disebut sebagai produk indie (walau sebenarnya keduanya bukanlah kategori yang “setarikan napas”, tidak apple to apple; produk-produk berkategori jazz bisa saja

    Selengkapnya »dari Jazz di Sini, Jazz di Sana
  • Ketika Bruce Dickinson, sambil duduk di semacam undakan yang memang sengaja dibuat di panggung, mulai menyanyikan baris-baris lirik lagu The Number of the Beast, pagar besi tempat saya bersandar bergoyang. Dari samping saya, seseorang ikut bersenandung: I lived alone/ my mind was blank/ I needed time to think to get the memories from my mind....

    Suara orang itu makin kencang, dan kelihatannya juga cengkeraman tangannya pada pagar (sebab goyangan bertambah kuat), ketika Bruce mulai meninggikan tekanan suaranya. Dia makin bersemangat. Dan bertambah memuncak saat lagu memasuki larik “6-6-6 the Number of the Beast/ Hell and fire was spawned to be released”.

    Orang-orang di depan kami, mereka yang berkerumun di depan panggung, juga di belakangnya dan di belakangnya lagi, ribuan jumlahnya (entah berapa persisnya, tapi jauh lebih banyak ketimbang audiens konser musik metal 2-3 tahun terakhir yang pernah saya datangi), bergerak dan berteriak. Tangan-tangan mengacung. Simbol The Devil Horns

    Selengkapnya »dari Di Antara True Believers
  • Menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk menonton konser Iron Maiden, saya kembali harus angkat topi tinggi-tinggi pada penulisan lagu band dari Leyton, London, yang terhitung berpengaruh dalam lanskap heavy metal ini. Harus saya akui, setelah mendengarkan kembali album-album mereka, saya jatuh hati lagi.

    Impresi itu bukan semata timbul karena keterampilan sang penulis lagu dalam merangkai not yang akrab di kuping (heavy metal dan melodik, bagaimanapun, cenderung dianggap sebagai dua hal yang sulit berkarib), melainkan juga luasnya pengetahuan untuk menggali tema. Sebelum Iron Maiden, band-band heavy metal cenderung mengeksplorasi (dan bahkan mengeksploitasi) tema-tema relasi dengan perempuan, seksualitas, dan bahkan narkoba. Bukan tak ada yang menyinggung soal-soal lain di luar itu. Tapi Iron Maiden ikut mengubahnya dengan penuh percaya diri.

    Sebuah tulisan di Iron Maiden Commentary menyebutkan bahwa Iron Maiden “menyediakan [jalur] pelarian yang menyegarkan dari tema-tema membosankan

    Selengkapnya »dari Sastra dan Lain-lain Bersama Iron Maiden
  • Satir, sindiran, kritik. Apa pun kesan yang bisa diresapi dari lagu berjudul Andai Aku Gayus Tambunan semestinya ia bermuara pada satu hal: bahwa agar sanggup berbicara di “frekuensi” yang sama dengan pendengarnya, lagu bisa bercerita atau bersyair tentang apa saja, bahkan masalah serius seperti kasus Gayus Tambunan. Dengan kata lain, hanya percaya pada tema asmara untuk bisa menjaring audiens yang luas adalah berlebihan (walau, barangkali, memang benar hal ini lebih mudah menemukan audiens; sebab bukankah setiap orang pernah atau paling tidak ingin merasakan cinta?).

    Gayus, belakangan ini, siapa yang tak tahu? Sekurang-kurangnya orang pasti pernah mendengar namanya atau melihat fotonya saat mengenakan wig yang konyol itu. Dia bukan tokoh roman percintaan yang populer. Dia tak punya kisah asmara yang mengharubirukan perasaan siapa saja. Dia adalah antagonis, seseorang yang menjadi tersangka kasus besar mafia hukum dan mafia perpajakan yang kebetulan melakukan tindakan-tindakan luar

    Selengkapnya »dari Andai Aku Jadi Gayus
  • Bonus Bentuk

    Apa yang lebih penting dari suatu karya musik: kemampuannya untuk menyentuh dan menggerakkan perasaan pendengarnya, dengan kata lain substansinya, atau bentuknya (dengan kata lain, bagaimana karya itu dipresentasikan, dikemas)?

    Pertanyaan itu mengemuka, setidaknya dalam pikiran saya, setelah sebuah diskusi tentang pencapaian musik Indonesia pada 2010 akhir bulan lalu. Diskusi yang berlangsung rileks, dengan suguhan kacang goreng dan fleksibilitas bagi setiap peserta untuk keluar masuk ruang, sebenarnya. Tapi pertanyaan yang bagi saya berat itu (sebab begitu mendasar) sempat mengganggu --soalnya saya merasa harus segera memastikan jawabannya.

    Kami waktu itu sedang mencoba menyeleksi, dari sejumlah album yang terbit sepanjang 2010, mana yang layak dipilih sebagai yang terbaik. Ada sejumlah kriteria diajukan, sebagai semacam mistar, atau, tepatnya, rintangan yang harus dilalui setiap kandidat. Yang paling mirip tiang rintangan dalm lompat galah adalah karya yang mana pun mestilah baru

    Selengkapnya »dari Bonus Bentuk
  • Di siang yang malas itu sepotong pesan pendek masuk. “Lagu rock yg populer saat ini di kalangan tentara Amerika di Irak apa?”
    Pengirimnya, seorang kenalan, berharap saya membalas segera.

    Saya tak menyangka akan ada yang bertanya soal itu. Sedang menderita kantuk, agak susah payah saya mencoba menggeledah ingatan. Tapi setelah beberapa saat saya yakin tak satu pun yang bisa disebut spesifik menjadi semacam hit di kalangan tentara Amerika di Irak. Yang saya tahu benar adalah sejumlah band dan musisi yang masuk dalam playlist prajurit-prajurit yang dikirim untuk perang yang sia-sia tapi tetap dilanjutkan juga itu.

    Seperti halnya kita, mungkin sebagian dari kita, para prajurit itu diam-diam menjadikan pemutar MP3 sebagai perlengkapan standar (tentu saja, bagi mereka, di samping bedil dan peralatan lain yang memang berguna untuk berperang). Dan band-band yang menghuni perangkat personal entertainment mereka itu adalah yang menyanyikan semangat dan suasana hati mereka --kebencian terhadap

    Selengkapnya »dari Sepi Lagu Protes
  • Daur ulang lagu, atau bahasa kerennya cover songs, bisa membuat kita sadar betapa ada kalanya kita keliru menilai impresi personal terhadap sesuatu lagu: bahwa pada suatu titik kita sudah merasa “selesai” dengan lagu itu dan titik ini tak bakal kita lalui lagi, tapi, ternyata, kejadian selanjutnya tak selalu persis begitu. Saya merasa bersyukur bisa merasakannya, seperti belakangan ini setelah mendengarkan Autumn Leaves dan Afterglow. Saya sedang berulang-ulang menyimak keduanya setiap ada kesempatan.

    Dua musisi atau kelompok musisi yang seperti melontarkan saya ke ruang yang pernah saya datangi itu, tapi dalam suasana yang baru sama sekali, adalah Eric Clapton dan Karmakanic & Agents of Mercy. Clapton, ya, dia sudah malang melintang sejak akhir 1960-an, sedangkan Karmakanic & Agents of Mercy merupakan gabungan generasi belakangan --keduanya, masing-masing, mulai aktif pada 2002 dan 2009 dan memang bukan dari tataran mainstream yang setiap orang pasti telah mengenal mereka. Dari album

    Selengkapnya »dari Lagu Pengelana Zaman
  • Pada awal kemunculannya, rock’n’roll cenderung berpretensi pesta --walaupun semangatnya adalah pemberontakan. Sama sekali tak ada yang serius. Menulis lagu di masa setengah abad yang lalu itu tak pernah memaksa musisi berkerut dahi seraya cemas apakah karyanya akan memenuhi sekaligus gairah untuk bersenang-senang dari para penggemarnya dan telaah tajam para kritikus. “Saya membayangkan bagaimana mereka [para kritikus] akan mengulas Little Richard menyanyikan Tutti Frutti kalau lagu itu keluar sekarang,” kata Tom Petty.

    Little Richard, buat yang belum tahu, merupakan figur penting pada masa transisi dari rhythm and blues ke rock’n’roll pada 1950-an. Boleh dibilang dialah peletak fondasi rock’n’roll. Tapi pertanyaan Tom wajar. Sebab Tutti Frutti, hit pertama Richard yang kerap dianggap sebagai penanda zaman baru dalam musik itu, tak mengandung pesan apa-apa, kecuali celotehan nakal yang, dalam kata-kata Tom, bisa menimbulkan kesimpulan, “Orang ini otaknya kosong.”

    Dalam lanskap rock

    Selengkapnya »dari Bukan Zaman Tutti Frutti

Penomoran Halaman

(40 Artikel)