Apa yang disebut sukses bagi seorang musisi? Ukuran lazimnya tiada lain kecuali berapa banyak orang membeli dan mendengarkan karyanya — single atau album. Juga, kalau perlu disebut, berapa panjang jadwal pertunjukan yang mesti dipenuhinya setiap tahun.
Untuk mencapai yang pertama, banyak musisi yang menggantungkan harapan kepada para juragan yang menyelenggarakan lini produksi dan pemasaran besar-besaran alias major label. Wajar. Memproduksi sesuatu perlu modal, juga promosi sesudahnya. Label besar punya kekuatan dana selemari besi raksasa untuk itu.
Dan dalam kenyataannya memang ada musisi yang bisa mencapai impiannya itu dengan sokongan dana besar-besaran.
Tetapi, sebagaimana yang bisa dilihat dari pengalaman-pengalaman yang ada, khususnya di zaman digital dewasa ini, label besar tak selalu memilih kandidat musisi atau artis dengan bakat kuat. Musik yang disodorkan kepada khalayak pun tak senantiasa bermutu (betapa pun orang bisa berdebat keras dan sia-sia untuk ini).
Joe Bonamassa
Februari memang telah datang tak terelakkan, seperti halnya pagi, siang, malam, lalu pagi lagi dan berulang seterusnya. Tapi, dalam urusan musik, terutama untuk lanskap musik Indonesia, saya masih merasa tahun 2011 yang baru saja lewat tetap pantas dikenang sedikit lebih lama.
Selengkapnya »dari Tahun yang Bagus... Hanya Jika
Ada sudut pandang spesifik. Buat saya, sama sekali tak ada alasan untuk merayakan tahun 2011, mengklaimnya sebagai tahun yang bagus, jika yang kita perhatikan hanya yang terdapat di tataran arus besar. Memang toko-toko rekaman, yang boleh dibilang kini menjual hanya CD (juga VCD, DVD, Blue Ray, dan peralatan lain), belum sepenuhnya punah.
Tapi sebagian besar toko sesungguhnya adalah indikasi dari arus besar itu, yang, menurut saya, sama sekali tak menarik: stok item yang mereka jual adalah produk dari kegiatan pabrikan yang cenderung seperti ayam goreng Pak Kolonel atau burger McD.
Yang sesungguhnya lebih menggairahkan justru terasa di “arus bawah”, yang sayangnya masih saja jauh dari radar media. Jika harusRupanya banyak yang menganggap industri musik saat ini masih sama dengan zaman ketika penjualan album bisa menembus jutaan kopi. Hei, itu kira-kira satu dasawarsa lalu, ketika jalanan di Jakarta — dan kota-kota lain — belum dipadati sepeda motor.
Selengkapnya »dari Pengunduhan: Bukan Segalanya
Lima tahun belakangan, yang terjadi sesungguhnya tidak secerah dulu. Kaset, yang dulu merupakan format paling populer, kini berhenti diproduksi. Penggantinya adalah CD.
Setidaknya begitulah harapannya. Tetapi meruyaknya praktek berbagi file (file sharing) di Internet memukul telak harapan itu. Apalagi angka penjualan CD sudah amat babak belur. Boleh dibilang, yang terus membeli adalah mereka yang telanjur mengenal format fisik (kaset, CD, dan barangkali vinyl).
Pada saat yang sama, pengunduhan musik secara legal terus meningkat. Pada 2006, angkanya masih sekitar $ 2,9 miliar. Pada 2010, angkanya (yang juga meliputi ringtone dan ringback tone) mencapai $ 12,9 miliar.
Tahun ini diperkirakan melampaui $ 14 miliar. Laju kenaikan per tahun memang takSebaris kalimat tanya dilontarkan @progrocktweets, satu di antara sejumlah orang yang saya follow di Twitter, belum lama ini: Vote for your prog album of the year 2011... [ada tautan ke laman berisi formulir pemberian suara].
Selengkapnya »dari Ritual di Ujung Tahun
Pertanyaan yang biasa, sebenarnya. Toh saya terenyak juga. Sudah dekat rupanya kita di akhir tahun.
Seperti yang sudah-sudah, menjelang tutup tahun begini, setidaknya bagi sebagian penggemar musik, adalah saat untuk menimbang-nimbang semua album mutakhir yang telah diperoleh. Menimbang-nimbang: memberi ponten, berdasarkan impresi yang terbentuk setelah menyimak dengan seksama, dan kemudian menentukan mana yang terbaik.
Tahun lalu, juga sebelumnya, saya melakukannya. Dan tahun ini? Saya sudah akan mulai mengerjakan ritual itu, tapi rupanya saya masih harus menunggu. Ya, menunggu untuk memperpanjang waktu penjaringan calon. Soalnya, justru di saat-saat mendekati pengujung tahun kali ini, arus rilis album baru belum benar-benar berhenti. Seperti ada yang mau “mengejarPiano pasti bukan yang terbayang di kepala ketika kita bicara tentang band rock’n’roll.
Selengkapnya »dari Merayakan Piano
Meski berperan pada masa awal lahirnya musik itu pada 1950-an, piano — yang dominan dalam lagu “Tutti Frutti” atau “Good Golly Miss Molly” — sedikit sekali tercatat dalam sejarah sebagai pusat aksi dalam rock’n’roll sesudah periode itu. Perannya digantikan gitar.
Ini terjadi sejak teknologi memungkinkan gitar diamplifikasi sedemikian rupa sehingga bukan saja bisa dimainkan dengan volume lebih kencang, melainkan juga melahirkan aneka manipulasi bebunyian.
Bukan hanya itu. Melalui Chuck Berry, misalnya, kita bisa menyaksikan betapa dengan gitar orang bisa beraksi panggung dengan memikat. Sulit membayangkan band rock’n’roll (atau apa pun turunannya) hanya diisi orang-orang yang diam dan sibuk dengan instrumen masing-masing, tanpa aksi panggung apa pun. Apalagi berjingkrakan dan berjumpalitan.
Perkecualian memang ada. Tapi bila disebut gitar, pastilah terbayang Jimi Hendrix, Jimi Page, Slash, SteveBiasanya, sebuah konser yang sukses haruslah berarti begini: penonton memenuhi kursi yang tersedia, pertunjukan berlangsung menarik, dan — tentu saja — penonton puas.
Selengkapnya »dari Setelah Tiga Symphony
Teater Kecil di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, malam itu menjadi saksi bahwa konser musik yang tak biasa tetap bisa sukses.
Pergelaran yang menampilkan tiga band dengan musik rock progresif itu memang hanya dihadiri sekitar 250 orang, sesuai kapasitas gedung. Jumlah ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan konser Linkin Park di Senayan bulan lalu. Tetapi tiket sudah terjual habis sejak beberapa waktu sebelumnya. Hingga hari pertunjukan, masih ada beberapa orang yang berminat membeli.
Gairah ini, paling tidak, menunjukkan bahwa mereka yang punya preferensi musik tak biasa pun sebenarnya ingin ada pertunjukan yang bisa didatangi.
Saya sengaja memilih frasa “tak biasa” supaya tak terkesan meremehkan konser-konser yang justru sudah lazim bila memilih kata “bermutu”.
Perihal mutu, saya tahu, ini subjek yang kerapPearl Jam, yang tahun ini berusia 20 tahun, tak bisa mengelak dari pertanyaan krusial yang menyergap band berumur panjang. Apa mereka berubah? Dan jika tidak, kenapa? Bukankah berevolusi itu perlu, untuk menyesuaikan diri dengan zaman?
Eddie Vedder, vokalis band asal Seattle, Amerika Serikat, barangkali sudah menjawabnya. Dengan vokal baritonnya, dia menyanyikan "I changed by not changing at all" dalam "Elderly Woman Behind the Counter in a Small Town".
Jika kita mengikuti benar perjalanan mereka dari tahun ke tahun, paling tidak dari sisi musik, memang begitulah adanya. Tapi benarkah tak ada yang berubah sama sekali?
Dua puluh tahun mungkin periode yang relatif. Tapi, untuk band mana pun, ini sulit dibilang pendek (semakin sedikit band yang sanggup bertahan hingga sepuluh tahun). Dan selama rentang waktu itu apa pun bisa terjadi.
Jika kita percaya seseorang atau kelompok orang pasti akan bereaksi terhadap lingkungan, hal yang sama akan terjadi juga dengan band. Soalnya adalah sejauh
Selengkapnya »dari Berubah? Kenapa Harus Berubah?Untuk bisa merasakan dan menentukan (atau menilai) sesuatu musik masuk kategori bagus atau tidak, seseorang perlu semacam lidah. Suatu kali saya menyebutnya "mistar pengukur".
Dengan alat inilah apa pun yang masuk telinga "dicecap" dan diurai menurut unsur-unsurnya. Proses ini bisa sama cepatnya dengan uji coba menu baru atau malah lebih lama.
Sebenarnya, dengan bantuan mistar itu semata, kita bisa lebih terbuka untuk menikmati apa saja. Tapi dalam kenyataannya, selera seseorang sering lebih dominan, dan ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaannya sejak lama. Dan selera inilah yang cenderung mengungkung, mencegah seseorang bersua dengan kemungkinan-kemungkinan untuk mengenal horizon musik yang lebih luas.
Selengkapnya »dari SeleraPada 1998, Rob Pilatus ditemukan tak bernyawa di satu hotel di Frankfurt, Jerman, tak lama setelah menjalani (lagi) rehabilitasi karena kecanduan narkotik. Usianya 32 tahun. Masih muda. Tapi kehidupan pribadinya memang terus menukik, seperti pesawat yang limbung karena gagal mesin, sejak popularitasnya sebagai penyanyi berakhir dengan skandal.
Rob adalah personel Milli Vanili. Inilah duet — Rob berpasangan dengan Fab Morvan — yang melesat ke langit ketenaran dengan kecepatan meteor.
Hanya dalam tempo setahun, sejak produser Frank Farian menggagasnya pada 1988, nama Milli Vanili sudah menerobos langit sukses di Eropa, Amerika Serikat dan di negara-negara lain. Album pertamanya, "All or Nothing" menghasilkan hit antara lain "Girl You Know It's True", "Baby Don't Forget My Number", dan "Blame It on the Rain".
Berkat pencapaian ini, Rob tak sungkan-sungkan sesumbar dengan mengklaim diri sebagai "Elvis baru".
Tetapi Elvis baru itu tak pernah ada. Album yang dirilis di Amerika mengisyaratkan
Selengkapnya »dari Sandiwara Lip-syncBerapa lama kita akan menjadi seorang rocker, atau, dari sisi yang lain, penggemar musik rock sejati? Saya sempat beberapa waktu menyimpan pertanyaan ini. Seperti seseorang yang kehilangan arah, saya tak yakin dengan jawaban yang mestinya sudah pasti.
Kebetulan suatu hari, di satu mailing list, ada anggota yang mengirimkan cerita tentang seorang musisi tahun 1970-an yang ditanya mengapa dia bertahan tetap "cadas" sementara usianya sudah menembus 60 tahun. Jawabnya, "Sejujurnya saya merasa aneh tetap nge-rock di usia saya. Kelihatannya hampir tak terhormat dan saya berpikir akan berhenti selekasnya."
Dengan kata lain, musisi itu, siapa pun dia (maklum, si pengirim pesan sengaja menghapus identitasnya), sudah tahu satu hal yang tak terelakkan yang akan ditempuh: pensiun.
Tetapi, benarkah itu satu-satunya pilihan, langkah yang sepenuhnya niscaya? Pensiun menjadi rocker? Dan jika ya, bagaimana dengan penggemarnya, yang dari sisi lain terilhami oleh apa pun yang dilakukan idolanya? "Apa mereka juga akan pensiun?" saya bertanya dalam balasan atas kiriman pesan itu.
Selengkapnya »dari Pensiun Rocker
Latest Blogs
- Empat Fakta di Balik Persalinan Kim Kardashian
- Enam Kesalahan Jins Favorit Lekas Usang
- Video Latihan Otot Henry Cavill "Man of Steel"
- Cara Sadis Russell Brand Ceraikan Katy Perry
- White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Ulang Lagu Daerah
- Disihir Konser Teatrikal G-Dragon
- Apakah Henry Cavill Akan Jadi Korban ‘Kutukan Superman’ Berikutnya?
