“Kapan band ini bubar?”
“Besok.”
[Keesokan harinya]
“Kapan band ini bubar?”
“Besok.”
[Dan seterusnya]
Jika ada kontes nama band paling unik, mungkin trio dari Jakarta ini bakal jadi kampiun — sebagaimana yang terwakili dalam dialog imajiner di atas.
Namun saat dituduh bercanda dan tak serius bermusik, Besok Bubar membuktikan sebaliknya.
Album kedua mereka yang diberi judul sama dengan nama band, “Besok Bubar”, adalah salah satu album Indonesia terbaik 2011 versi majalah Rolling Stone Indonesia. Besok Bubar laris diundang manggung, mulai acara komunitas sampai panggung besar macam Pangudi Luhur Fair, Java Rockin’ Land dan Rockvolution.
Band yang terdiri dari Tridente Amar Gill (vokal, gitar), Andri (drum), dan Egie (bass) juga konstan berkarya sejak 2007.
Musik Besok Bubar berasal dari riff-riff unik berbau metal, punk, dan rock alternatif, lalu dikocok menjadi satu (bayangkan ramuan Nirvana, Foo Fighters, Green Day, Soundgarden dengan bunyi luar biasa tebal). “Makin ke sini, suka dapat riff yang susah dimainkan, terutama sambil bernyanyi,” kata sang vokalis merangkap gitar, Amar Gill.
Yahoo! Indonesia membicarakan single terbaru mereka, “Salah Tangkap” yang baru-baru ini diluncurkan.
Apakah lagu mereka rumit? Amar menjawab tidak. Dalam beberapa lagu, bahkan ada ornamen-ornamen kecil yang membuat pendengarnya tertawa. Pada single “Salah Tangkap”, penutup lagu dikemas sungguh kocak. Ada percakapan singkat antara aparat dan rakyat jelata yang menambah segar serta mengundang gelak.
Pada lagu “Hati-Hati” (di album “Besok Bubar”), mereka menyelipkan dialog kucing-anjing yang unik. “Pada dasarnya kita memang hobi bercanda,” lanjut Amar. “Tapi karena lirik-lirik kita berisi protes dan komentar sehari-hari yang terkesan kritis, banyak orang menganggap kita band politik revolusioner atau apalah.”
Padahal? “Bukan. Besok Bubar bukan dikonsep untuk jadi band kritis,” kata dia.
Mendengarkan dua album “Besok Bubar”, lirik mereka bersenang-senang dan berusaha jujur menyampaikan apa yang terjadi sehari-hari. Ugal-ugalan, keseharian, dan menyenangkan!
“Jadi kami cuma mau kasihtahu yang sudah jadi rahasia umum. Di single terbaru, kami mau bilang ternyata banyak tuh kasus salah tangkap, kacau ya.”
Saat ini mereka berkecimpung di jalur independen — walau distribusi album sudah ditangani pihak profesional. Album Besok Bubar terbaru sangat mudah ditemui di toko-toko musik. Carilah sampul CD yang digambar dengan gaya kartun ’90-an penuh warna — mirip dengan era artwork Ugly Kid Joe maupun “Dookie”-nya Green Day.
Band bagus, album bagus, order manggung stabil, apakah bisa menjamin personel hidup dari musik? Ternyata sulit. “Sepertinya band lokal, apalagi indie, nggak bakal bisa kaya dari musik. Nggak bisa hidup dari musik,” kata Amar.
Dia pun melanjutkan, “Main band, manggung, membuat album, seperti membuka usaha kecil-kecilan. Kita punya modal, promosi, nah penjualan album itu ya buat bikin album lagi.”
Saat ditanya dari mana mereka mendapat sumber penghidupan, Amar menukas cepat, “Ya kerja di luar band.”
Walau sudah diprediksi menempuh jalan terjal di karier musik, mereka terus jalan. “Berkarya dari hati,” pungkas mereka. Walau klise, ini harus saya amini.
Fans Besok Bubar cukup banyak. Di Facebook dan Myspace ada sekitar 8.000-an orang. Di Twitter @BesokBubarMusic saat ini ada sekitar 1.000-an umat.
Saya berkesempatan menyaksikan mereka manggung beberapa kali: selalu ada puluhan bahkan ratusan penggemar yang siap memanaskan moshpit, termasuk kaum hawa. Walau telah diorganisasikan kecil-kecilan via media sosial, kepopuleran mereka masih berada di bawah radar arus utama.
Reputasi Besok Bubar, seperti band indie lain yang bekerja keras untuk berkarya, dibangun dari mereka yang menghargai dengan menyimak lagu, membayar untuk album, atau membeli pernak-pernik yang dijual dan tiket saat mereka didapuk ke pentas.
Ingin menyimak karya-karya Besok Bubar? Silakan download dengan legal di sini.
BACA JUGA:
Apa kabar The S.I.G.I.T?
Menghirup kafein dan blues bersama Dialog Dini Hari
Menikmati musik SORE
Afternoon Talk, band indie pop asal Lampung
Gugun Power Trio, blues timur jauh yang memanggil dunia
