Radio Show, Pertunjukan Radio di Televisi

Puluhan pemuda dan pemudi berjubel, berdesakan, dan berkeringat. Sang pemain gitar merangkap vokal terus bernyanyi meski instrumennya tak mengeluarkan bunyi. Anehnya penonton makin panas. Beberapa dari mereka bahkan hampir menjatuhkan perlengkapan musik di panggung.

Itulah sekilas kejadian pada acara “Radio Show” pada Jumat lalu (23/2), yang diputar di TV One. Kala itu band punk tersohor Superman Is Dead (S.I.D), menjadi bintang tamu.

Beberapa minggu belakangan ini, saya — mungkin bersama ribuan kaum nokturnal lain — kerap memantau acara yang dimulai pada pukul 11 malam ini. Konsep acaranya sederhana, yakni bincang-bincang bertema musik yang disertai penampilan panggung dari artis yang diundang.

Kehebatan acara ini adalah pemilihan para undangan. Sejak dimulai beberapa bulan silam, para bintang tamu yang diundang terkesan bukan dari musik arus utama. Mereka bakat-bakat baru di dunia musik Indonesia.

Kehebatan selanjutnya adalah ketidaksiapan acara ini. Seperti yang saya gambarkan di awal tulisan, kesalahan di sana-sini sangat mudah ditemukan. Bobby Kool (S.I.D) ketiban bencana saat gitarnya mati — namun penonton terus bernyanyi menimpali.

Saking ramainya fans mereka malam itu, duo pembawa acara cukup bingung mengendalikan suasana.

Sejak 2008, publik Indonesia disuguhi acara televisi musik pagi-pagi yang sangat khas. Musiknya arus utama dan hampir seragam, berasal dari label besar, dan sebagian besar tidak tampil langsung (dengan berbagai macam alasan).

Tetapi di “Radio Show” tidak begitu. Kita akan menemukan salah ketukan, terlambat menginjak efek gitar, atau sang vokalis yang bernyanyi bersama penggemar di depan panggung. Tak jarang terdengar suara fals atau selip-selip nada sedikit.

Di antara mereka yang tampil, banyak bakat-bakat terpendam dari arus musik bawah tanah, serta mereka yang bergerak pada jalur indie. Episode yang menampilkan The S.I.G.I.T adalah salah satu yang terhebat.

Ada pula Dira Sugandi bersama The Fingers, Saykoji, Sarasvati, Efek Rumah Kaca, bahkan Steven Jam bersama Monkey Boots. Rentang genre yang ditampilkan sangat beragam: mulai dari rock,  rap, shoegaze, pop-gothic hingga reggae.

Saya harus kasih jempol kepada Sys NS, seorang eks DJ dan komedian Sersan Prambors yang mengusung acara ini. Sys bersama Sandy (PAS Band) menggawangi “Radio Show” setiap Senin-Jumat sampai pukul 2 pagi.

“Radio Show” melabeli acara mereka dengan istilah “Indonesia Hebat”, dan “Mukegile” — dua ungkapan yang gampang diingat dan gaul, serta mewakili bakat-bakat yang ditampilkan yang segar nan mengejutkan.

Para penampil umumnya didaulat untuk unjuk keahlian dalam instrumen maupun vokal (melakukan solo), serta membuat jingle berisikan frasa “Indonesia Hebat” dan “Mukegile” tersebut. Di dalam proses ini kita bisa melihat kesegaran komposisi baru yang mengagetkan, spontan, dan tentunya bernilai kreativitas tinggi.

Fans juga merupakan faktor penting di acara ini. Ada artis yang tampil dengan massa sepi-sepi saja, ada yang membludak. Meski kapasitas tempat kurang memadai, kita bisa menyaksikan antusiasme fans terutama dari penikmat musik bawah tanah — yang ternyata tak kalah dengan mereka yang biasa ada di acara musik pagi-pagi itu.

Benang merah “Radio Show” adalah acara televisi yang manusiawi bagi penikmat musik — yang menempatkan publik dalam kedudukan yang tepat: menikmati suguhan pertunjukan, bebas bersuara, juga bisa memilih penampil yang diinginkan melalui media sosial.

Dilengkapi dengan kurasi bintang tamu yang tepat (yang berasal dari formulasi redaksi dan pilihan publik), acara ini bisa menjadi alternatif di antara keseragaman musik pop/rock melayu sekarang.

Interaksi dengan publik, yang dipupuk melalui Twitter (@RadioShow_tvOne), mampu meleburkan penikmat musik dari berbagai genre.

Jika ada yang mengganggu saya di acara berdurasi 3.5 jam itu adalah penampilan video yang disambar dari Youtube. Kalau ingin lebih terpercaya untuk tampilan video musik, “Radio Show” harus bisa membelinya dari label — serta menampilkan video musik yang bermutu visual dan audio tinggi. 

Pad akhirnya, kini penikmat musik punya acara televisi alternatif. Bahkan bagi Anda penikmat musik yang tak suka menonton kotak cahaya tersebut, sekarang ada alasan untuk menyalakannya.

Terpopuler