Awalnya satu lagu. Kemudian satu album. Lalu kebablasan.
Bagi penikmat musik, inilah pola khas menjadi fans. Model yang sama terjadi jika Anda bermain instrumen dan mengulik lagu. Mereka yang punya kebolehan bermusik tak jarang “tersesat” lalu mendalami lagu-lagu milik musisi favoritnya.
Nah, ada beberapa orang yang sehati kemudian bersepakat membentuk band tribut — yang khusus membawakan lagu-lagu artis tertentu saja. Dalam sejarah musik, banyak musisi terkenal yang merintis karier dari pola ini.
Ahmad Albar (God Bless, Gong 2000) misalnya, zaman baheula ia sering membawakan lagu milik Deep Purple atau Led Zeppelin. Bimbim (Slank) dulu membesut Cikini Stone Complex yang kerjaannya cukup membawakan lagu-lagu milik The Rolling Stones saja.
Band tribut biasanya melantunkan lagu semirip-miripnya versi asli. Bedanya dengan band kover mungkin adalah tingkat fanatisme repertoar. Fokus tribut adalah membawakan rangkaian lagu hanya dari satu artis. Sementara kover membawakan rangkaian lagu dari bermacam-macam artis. Nah, nama band tribut biasanya diambil dari plesetan (atau mirip) artis asli, dari judul lagu — atau malah dari tajuk album mereka.
Baru-baru ini Indonesia kedatangan The Iron Maidens, band cewek-cewek yang melantunkan lagu-lagu milik kelompok heavy metal Iron Maiden. Sekarang, mari kita berkenalan dengan beberapa gerombolan tribut asal Indonesia:
G-Pluck (tribut The Beatles)
Salah satu sejarah tribut tertua adalah mereka yang membawakan lagu-lagu The Beatles. G-Pluck (dibaca “jiplak”, yang artinya meniru) adalah salah satu dari puluhan The Beatles-nya Indonesia. Band asal Bandung ini bahkan pernah didaulat berpentas di Liverpool untuk meramaikan perhelatan “The Beatles Week Festival”.
Acid Speed (tribut The Rolling Stones)
Ada tribut The Beatles, tentu ada pula tribut nemesisnya: The Rolling Stones. Untuk band legendaris satu ini, ada nama Acid Speed yang sudah meniti karier tribut sejak tahun 1982. Merekalah pionir rock ‘n’ roll dan membangkitkan puluhan band lain membawakan lagu milik Keith Richards, dkk. “Paling ngelotok ‘Stones”, “Band epigon The Rolling Stones” adalah beberapa julukan mereka. Dalam sejarahnya, Acid Speed juga pernah merilis tiga album yang amat kental corak ‘Stones-nya.
Cockpit (tribut Genesis)
Art rock! Genesis! Cockpit! Sebutlah Peter Gabriel, dkk dan siapa yang paling pantas membawakan lagu-lagu mereka di Indonesia? Tak akan ada nama lain. Lima sekawan ini juga sudah merintis karier sejak lama, yakni dari era ’80-an. Cockpit masih aktif wara-wiri di kafe-kafe dan acara tribut berbau art dan rock progresif. Tak berapa lama lalu mereka didapuk unjuk keahlian di sebuah acara televisi nasional, “Radio Show” TV One.
Locomotive, Arrowguns, Javatta (tribut Guns N’ Roses)
Ada banyak klaim untuk tribut “band paling berbahaya di dunia”, G N’ R. Di antara ratusan klaim tersebut ada nama-nama macam Locomotive, Arrowguns, dan Javatta. Dua nama yang disebut pertama cukup lama malang-melintang di dunia celana spandeks, lengkingan vokal tinggi dan kejayaan rock ‘n’ roll. Arrowguns juga masih aktif di beberapa tempat hiburan di ibukota — juga di Kota Hujan.
Angelz Indonesia (tribut Poison)
Sebuah kafe bernama M-Point di bilangan Blok M, Jakarta cukup aktif menggelar acara-acara dengan konsep tribut—terutama untuk genre hair metal dan classic rock. Angelz Indonesia, band yang membawakan lagu-lagu milik Poison adalah salah satu dari ceceran sejarah di acara-acara sejenis. Jika Anda besar dengan nada-nada milik Brett Michaels, dkk, silakan berburu gig mereka dan nikmatilah malam dengan gaya glam!
Miracle, Jukebox (tribut Dream Theater)
Sebelum John Petrucci, dkk datang ke Indonesia pada tahun 2012, khalayak pecinta metal progresif memuaskan dahaga dengan menonton kedua nama terkenal ini. Dari Miracle dan Jukebox, para fans prog bisa menyaksikan skill tinggi atau pertukaran not 1/64 di atas panggung. Miracle dan Jukebox juga aktif dalam acara komunitas pecinta Dream Theater (Indonesia Dream Theater Fans Club, IDTFC). Ya, kedua nama ini bisa dibilang besar dari komunitas.
Toilet Sounds (tribut Nirvana)
Galau ’90-an? Kuntit Toilet Sounds bersama komunitas grunge Indonesia, dan mungkin Anda bisa menjadi saksi betapa brutalnya panggung kenangan alternatif 20-an tahun lalu. Penggemar Kurt Cobain cs. tak segan melompat dari meja atau bibir panggung, seakan tak risau dengan intaian cedera di tengah moshpit. Selain mendedikasikan karier musiknya untuk para dewa grunge, Toilet Sounds juga sempat merilis karya-karya milik mereka sendiri.
Perfect Ten (tribut Pearl Jam)
Album legendaris “Ten” (1991) mereka sudah hapal luar kepala. Pengetahuan tentang lagu yang tak dirilis juga menjadi senjata ampuh. Uniknya lagi, tribut Pearl Jam ini tersusun dari sepuluh orang, yang bisa saling menggantikan (dan menjadi serep) bagi anggota lainnya. Perfect Ten terbilang cukup aktif di komunitas Pearl Jam Indonesia (PJID) dan di berbagai perhelatan musik di Jakarta.
Nah pembaca Yahoo! Indonesia, apakah ada band tribut lain yang belum disebut di sini? Silakan berbagi dalam komentar di bawah ya!
Mengenal Beberapa Band Tribut di Indonesia
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Jum, 22 Jun 2012 17:42 WIBPenomoran Halaman
Pilihan Redaksi
Latest Blogs
- Gaya Nyeleneh Seleb Di Penghargaan Billboard
- Foto-foto Pertama Nicole Kidman Jadi Grace Kelly di "Grace of Monaco"
- Hitam Putih Ratu K-Pop Lee Hyori
- Konser Blur di Jakarta: Itu Benar-benar Bisa Terjadi
- Lima Alasan Menonton "Star Trek Into Darkness"
- Dian Sastro: Yang Sombong Biasanya Justru Artis Asia
- Cara Selebritas Menjaga Rambutnya
BLOG DI OMG!
Terpopuler



Ade Rai Sempat Nggak Naik Kelas Gara-Gara Bulu Tangkis
Jakarta, C&R Digital - Selain binaraga, binaragawan Ade Rai ternyata juga menggemari olahraga lain. Salah satu olahraga adalah bulu tangkis. Pria berotot itu pun mengaku ketika kecil dirinya bercita-cita menjadi atlet bulu tangkis. "Semua orang Indonesia pasti sangat mencintai bulu tangkis, termasuk saya. Dari kecil saya ingin jadi atlet bulu tangkis, tapi nggak bisa, akhirnya jadi binaragawan. Tapi masih bisa membanggakan nama Indonesia dimata dunia," kata Ade Rai saat ditemui di Central


Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark
Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.