Kreatif Menggunakan Lagu Dalam Kampanye Politik

Madu di tangan kananmu
Racun di tangan kirimu
Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku


Lagu ciptaan Ari Wibowo tersebut dinyanyikan dalam kampanye Anwar Ibrahim, tokoh oposisi Malaysia yang berupaya memenangi pemilihan umum Malaysia tahun ini. “Madu di tangan kanan adalah perkataan rakyat, racun di tangan kiri adalah Barisan Nasional,” kata Anwar – menyindir koalisi politik mayoritas di negara itu yang dituding mengoprek hasil pemilihan.

Yang dilakukan Anwar Ibrahim menarik disoroti. Di Indonesia, menggunakan lagu populer sebagai alat kampanye politik tidaklah lazim (meski pernah dipraktikkan oleh Partai Golkar tahun 1971 dengan lagu karya Bing Slamet). Banyak propaganda juga dilakukan penguasa yang menggunakan musik maupun film.

Titi DJ, Krisdayanti, Yuni Shara, dan Ruth Sahanaya saat kampanye Pemilu 2009 (Foto: Panca Syurkani/TEMPO)Tetapi kini hampir tak ada lagu komersial yang khusus didedikasikan untuk sosok atau partai politik tertentu. Kebanyakan masih berupa himne atau lagu pengiring. Di televisi, misalnya, sudah ada beberapa partai yang beriklan dengan lantunan nada — walau tetap tak menggunakan lagu komersial atau karya populer.

Di negeri ini, para musisi dan seniman umumnya cuma didapuk manggung untuk meramaikan kampanye (untuk menghibur orang yang sudah datang beramai-ramai ke lapangan). Beberapa yang “beruntung” akan direkrut, lebih karena agar partai tak repot memperkenalkan calon ke publik.

Hal yang agak berbeda terjadi di Amerika Serikat. Para calon presiden di sana sedari awal memilih lagu tertentu sebagai tema kampanye. Ini sudah menjadi tradisi sejak era John Adams (1797) — walau agak bergeser dari penggunaan lagu yang dirancang khusus menjadi lagu populer.

Lagu yang paling fenomenal adalah “Adams and Liberty” (untuk kampanye John Adams sendiri) dan tentunya “Don’t Stop” milik Fleetwood Mac. Yang terakhir disebut ini naik daun sebagai lagu tema Bill Clinton tahun 1992.

Makin terkini, makin kreatif. Barack Obama, yang akan maju lagu untuk periode kedua, mengeluarkan sebuah playlist (daftar lagu) berisi 28 lagu yang dipublikasikan via media sosial Spotify. Selain cerdas, strategi ini juga dianggap jitu. Obama setidaknya menunjukkan bahwa ia ingin merangkul banyak kalangan.

Ini terwakili dalam lagu-lagunya yang menjaring kaum tradisional Amerika (“Keep Me In Mind” oleh Zac Brown Band, “We Take Care Of Our Own” oleh Bruce Springsteen), kulit hitam (“The Weight” oleh Aretha Franklin), imigran terutama mereka yang berasal dari Amerika Latin (“The Best Thing About Me Is You” oleh Ricky Martin), dan anak muda (“We Used To Wait” oleh Arcade Fire dan “Even Better Than The Real Thing” oleh U2).

Lebih-lebih lagi, strategi yang termasuk baru ini mencitrakan Obama sebagai calon presiden yang gaul serta tanggap terhadap perubahan. Strategi ini juga membuat ia terkesan tetap segar, walau mencalonkan diri untuk yang kedua kalinya.

Judul, lirik lagu dan interpretasi personal menambah dimensi kreatif kampanye politik dengan lagu. Pemilihan tembang juga bisa menjadi satu hal yang disorot terkait kampanye politik. Dengan lagu tema yang terkesan formal dan birokratis, iklan partai dan calon bupati, gubernur serta legislatif  menjadi sangat membosankan.

Jika dibandingkan dengan strategi lagu yang dipilih Obama saat ini, bisakah dikatakan bahwa kampanye politik di negeri ini kurang kreatif dan cerdas?

Padahal aspek kreatif dalam kampanye politik bisa jadi menentukan, mengingat sebuah survey yang menyatakan bahwa pemilih muda — dalam rentang usia 17-31 tahun — diperkirakan berjumlah 40 hingga 42 persen pada tahun 2014 nanti.

Akankah para politisi Tanah Air mengikuti jejak Anwar Ibrahim dan Barack Obama, dengan menggunakan lagu populer sebagai alat kampanye mereka?

Terpopuler