Hampura, Lagu Lebaran yang ‘Ngerock’

Menjelang Lebaran, mari kita dengarkan sebuah lagu baru dari Respito. Judulnya diambil dari bahasa Sunda, “Hampura”, yang artinya memohon maaf.

Lama tak muncul, Respito terbit kembali dengan sesuatu yang baru. Kuartet Pheps (vokal, gitar), Daff (gitar), Chandra (bas), dan Ricky (drum) meluncurkan “Hampura”. Single ini berjarak cukup lama dari rilisan album perdana mereka, “Jalan Menuju Surga” yang terbit pada tahun 2009.

Jika sebelumnya Respito selalu mengguncang panggung dengan distorsi yang meraung dan irama kencang di sana-sini, maka single barunya ini sangat bertolak belakang (silakan simak “Hampura di sini).

Bandingkan dengan nada-nada ceria pada hits lama mereka, “Pretty Damn Girl” misalnya. Atau dengan semburan berapi-api pada nomor “A.D.I.K.S.I.” Single “Hampura” bagaikan sebuah titik balik — menandakan keempat anak muda ini sekarang beranjak tumbuh dewasa. Mereka haus akan eksplorasi musik dan asupan makna.

Nuansa bunyi yang dahulu kental dengan corak ’90-an, saat ini mengalami proses bongkar pasang. Alhasil, “Hampura” meruak dengan nuansa pelan, psikedelik dan gelap.

Respito juga tampaknya tergoda dengan komposisi rock progresif. Dinamika lagu dibangun pelan, namun terdengar ledakan megah di beberapa bagian. Gitar berdistorsi tipis disayat layaknya biola. Sitar dan suara suling bambu lalu meningkahi. Bagian menuju akhir lagu berubah alur dengan cepat, lantas ditutup dengan ratapan repetitif.

Durasinya? Delapan menit. Dan Respito sepertinya tak ambil pusing dengan eksplorasi tersebut.
Komposisi macam inilah yang disebut Pheps, sang vokalis, sebagai “new indorock”. “Karena sublimasi instrumen tradisional dengan instrumen kontemporer,” demikian alasan dia. Ia melanjutkan, “Mendengarkan lagu ini bagai dininabobokan sejenak, lalu kita seakan diajak untuk merasuk ke ranah spiritual,” lanjut dia.

Menurut dugaan saya, “Hampura” memang lagu yang dibuat untuk fungsi kontemplasi. Dengar saja liriknya: “Ku ingin Kau mengerti/ Aku takkan berlari/ Oh, Tuhanku/ Maafkanlah aku/ Sesungguhnya kuakui dalam hidup ini/ Takkan ada yang abadi”

Leo Tolstoy pernah berkata, “Semua orang berpikir untuk mengubah dunia, namun tak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” Melalui single baru ini Respito ingin menghimbau pendengarnya untuk mawas diri. Selain itu, “Hampura” yang diluncurkan pada bulan Ramadan ini juga mencerminkan rekam jejak karier mereka saat ini.

Respito memutuskan berubah. Sebagai salah seorang yang beberapa kali melihat mereka dari panggung ke panggung, saya mengucapkan semoga beruntung. Saya pribadi menunggu konsistensi Respito membangun karakter “new indorock” yang belakangan terus mereka dengung-dengungkan.

Dalam konteks ini, “Hampura” menjadi awal yang solid. Jawaban lengkapnya akan muncul pada album kedua, yang sedang mereka siapkan. Layaknya bunyi lonceng sesaat sebelum “Hampura” rampung — bahana yang menjadi perlambang arah baru dari empat sekawan asal Jakarta ini.

“Hampura” menjadi kejutan besar, terutama jika dihubungkan dengan nyanyian bertema sama yang cenderung seragam. Ada sesuatu yang segar. Ada juga kesesuaian makna, pun momentum. Menurut saya, salah satu yang terbaik.

Bagi para pecinta musik rock yang merayakan lebaran, “Hampura” jelas menjadi pilihan tepat sebagai lagu tema tahun ini!

Pantau sepak terjang Respito di http://www.reverbnation.com/respito

Terpopuler