Mohammed Ikhwan
  • Awalnya satu lagu. Kemudian satu album. Lalu kebablasan.

    Bagi penikmat musik, inilah pola khas menjadi fans. Model yang sama terjadi jika Anda bermain instrumen dan mengulik lagu. Mereka yang punya kebolehan bermusik tak jarang “tersesat” lalu mendalami lagu-lagu milik musisi favoritnya.

    Nah, ada beberapa orang yang sehati kemudian bersepakat membentuk band tribut — yang khusus membawakan lagu-lagu artis tertentu saja. Dalam sejarah musik, banyak musisi terkenal yang merintis karier dari pola ini.

    Ahmad Albar (God Bless, Gong 2000) misalnya, zaman baheula ia sering membawakan lagu milik Deep Purple atau Led Zeppelin. Bimbim (Slank) dulu membesut Cikini Stone Complex yang kerjaannya cukup membawakan lagu-lagu milik The Rolling Stones saja.

    Band tribut biasanya melantunkan lagu semirip-miripnya versi asli. Bedanya dengan band kover mungkin adalah tingkat fanatisme repertoar. Fokus tribut adalah membawakan rangkaian lagu hanya dari satu artis. Sementara kover membawakan rangkaian lagu dari

    Selengkapnya »dari Mengenal Beberapa Band Tribut di Indonesia
  • Dua grup musik yang berbeda negara dan genre, Besok Bubar (Indonesia, metal/grunge) dan Wilderness (Filipina, instrumental/psikedelik) diciduk dalam sebuah album split. Resultannya adalah perjalanan musik ugal-ugalan yang menyenangkan!

    Album split bersampul merah menyala itu diberi tajuk “Rock Asia Project 01”. Drexter Records, sebuah label indie dari Depok, Indonesia, menggawangi proyek rock Asia ini. Konsepnya patut diacungi jempol. Pertama, eksekusinya yang cukup segar. Menyatukan dua musisi dari Asia Tenggara.

    Hal ini berpotensi membuat penikmat musik penasaran. Kedua, angka 01 menyiratkan sifat kontinuitas proyek ini, kemungkinan dengan merekrut band asal Asia yang lebih ajaib lagi. Walaupun ambisius, ide ini membangkitkan identitas satu rumpun, entitas kawasan Asia yang makin banyak diekspos. Lagipula, kawasan kita ini memang menyimpan bakat musik yang bejibun.

    Di samping itu, konsep split juga berpotensi mempromosikan dan menambah basis fans — yang bisa saling mencicipi musik di

    Selengkapnya »dari Ugal-ugalan Ala Dua Tetangga
  • Hey, selamat pagi matahari
    Cahayamu menembus hati
    Pancarona
    Paras kirana
    Hati senang, sedih sirna


    Ada nada yang bisa segera kita akrabi. Ada ketulusan di tiap baris dan bait. Ada gugah dalam musik dan lirik.

    Dialog Dini Hari, band asal Pulau Dewata, tak henti-hentinya membuat kejutan untuk blantika musik Indonesia. Album pertama sungguh menyegarkan, menjadi teman menyesap kopi di sepertiga malam terakhir. Album kedua menukik dalam hingga menyentuh ranah spiritual, sampai-sampai dosis kopi yang diseduh pun semakin keras.

    Pada bulan Juni ini, mereka datang ke Jakarta untuk mengantarkan album ketiga.

    Dan betapa kagetnya saya mendapatkan album ketiga ternyata berupa vinyl stereo 24 rpm. Piringan hitam tersebut saya dapat melalui tebusan Rp 200.000 (paket dengan sehelai kaos berdesain lucu, plus stiker dan satu porsi kopi Bali).

    Album “Lengkung Langit” berisi empat lagu — sehingga bisa juga disebut EP — yang materinya melampaui ekspektasi saya untuk genre akustik/folk. Mereka telah melahirkan

    Selengkapnya »dari Menikmati Pesona "Lengkung Langit"
  • Banyak faktor yang berpengaruh terhadap keputusan musisi asing menggelar konser di suatu tempat. Antara lain, keamanan, respons fans, jadwal promosi, hingga hitung-hitungan bisnis promotor.

    Beberapa waktu lalu, Pollstar merilis data musisi dan rangkaian tur di Amerika Utara. Dari data yang berisikan pendapatan total, rerata harga tiket, dan jumlah penonton ini kita bisa mereka-reka apakah promotor kita mampu mendatangkan mereka ke Indonesia.

    Walau mungkin agak berbeda sedikit jika diberlakukan untuk Indonesia (karena kurs dan pendapatan jelas berbeda), namun kita bisa mengambil angka awal dari tren konser musisi asing tahun lalu. Tentunya faktor lain seperti keamanan dan jadwal harus kita kesampingkan dulu.

    Mari kita lihat dari dengungan yang biasanya paling populer. Di media sosial (dan terutama teman-teman saya) banyak sekali yang ingin melihat U2 manggung di Indonesia. Lalu mungkinkah Bono, dkk menggelar konser di sini? Kita lihat dulu kompilasi data sepanjang tahun 2011 berikut ini:

    Selengkapnya »dari Menghitung Kemungkinan Konser Musisi Asing di Indonesia
  • Siapa artis musik asing favorit Anda? Sudahkah ia/mereka menggelar konser di Indonesia?

    Jika jawabannya ya, plus Anda sudah menonton, maka Anda patut bersyukur. Tetapi jika belum, Anda bisa berharap mereka akan datang lagi supaya Anda bisa melihat secara langsung.

    Nah, mungkinkah artis favorit tersebut datang lagi? Mari kita lihat beberapa faktor yang biasanya diperhitungkan di bawah ini:

    Umur
    Faktor alami ini tak pelak jadi yang teratas. Selain berpengaruh terhadap kebebasan sang artis untuk bepergian, usia juga mempengaruhi stamina — inilah yang kadang tak mengizinkan para musisi gaek untuk menggelar deretan konser jauh dari tempat tinggalnya. Umur juga berpengaruh besar terhadap keberlangsungan band. Banyak kumpulan musik bubar karena para personelnya mulai menua. Dalam hal ini, para fans yang sudah menyaksikan grup rock progresif Yes, atau Alice Cooper patut bersyukur.

    UUD
    “Ujung-Ujungnya Duit” berlaku bahkan untuk artis kaliber dunia sekalipun. Faktor ini menjadi salah satu yang

    Selengkapnya »dari Apakah Artis Favorit Akan Datang Lagi?
  • Konser "I Slank You" (Foto: Agung Pambudhy/TEMPO)Dua lagu milik Slank dipersembahkan oleh Naif. Satu dibawakan oleh masing-masing Dira Sugandi dan Sashi. Alexa bahkan bisa mencolong tiga lagu. Pure Saturday? Dapat jatah dua.

    Itulah sesi unik pada pembukaan konser orkestra Slank pada Jumat (11/5) malam, yang diberi tajuk “I Slank You: The Journey of the Blue Island” di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Pada sesi tersebut, beberapa musisi lain mencoba membawakan lagu Slank dengan gaya mereka masing-masing.

    Naif seperti biasa tetap kocak dan ceria. “I Miss You But I Hate You” menjelma bergaya pop Indonesia berirama nakal. David Bayu sang vokalis bahkan sempat bercanda dengan personel Slank, “tetap six pack ya pada!” sambil menunjuk ke arah perutnya.

    Sementara itu para personel Slank duduk nyaman di hadapan panggung, menyaksikan lagu-lagu hits mereka dibawakan dengan interpretasi berbeda.

    Hal tersebut tak berlangsung lama. Walau berpredikat sebagai tuan rumah dan sedang merayakan ulang tahun ke-28, ternyata Slank juga harus beraksi di

    Selengkapnya »dari I Slank You Deh Pokoknya!
  • Madu di tangan kananmu
    Racun di tangan kirimu
    Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku


    Lagu ciptaan Ari Wibowo tersebut dinyanyikan dalam kampanye Anwar Ibrahim, tokoh oposisi Malaysia yang berupaya memenangi pemilihan umum Malaysia tahun ini. “Madu di tangan kanan adalah perkataan rakyat, racun di tangan kiri adalah Barisan Nasional,” kata Anwar – menyindir koalisi politik mayoritas di negara itu yang dituding mengoprek hasil pemilihan.

    Yang dilakukan Anwar Ibrahim menarik disoroti. Di Indonesia, menggunakan lagu populer sebagai alat kampanye politik tidaklah lazim (meski pernah dipraktikkan oleh Partai Golkar tahun 1971 dengan lagu karya Bing Slamet). Banyak propaganda juga dilakukan penguasa yang menggunakan musik maupun film.

    Titi DJ, Krisdayanti, Yuni Shara, dan Ruth Sahanaya saat kampanye Pemilu 2009 (Foto: Panca Syurkani/TEMPO)Tetapi kini hampir tak ada lagu komersial yang khusus didedikasikan untuk sosok atau partai politik tertentu. Kebanyakan masih berupa himne atau lagu pengiring. Di televisi, misalnya, sudah ada beberapa partai yang beriklan dengan lantunan nada — walau tetap

    Selengkapnya »dari Kreatif Menggunakan Lagu Dalam Kampanye Politik
  • Satu orang bisa memulai reaksi berantai, mengubah banyak orang atau bahkan menjadi pelopor terjadinya peristiwa besar di dunia.
    Barangkali inilah sari pati dari daftar hasil jajak pendapat “TIME 100: Orang-orang yang Paling Berpengaruh di Dunia”, yang daftarnya baru saja dirilis minggu lalu.

    Di dalam daftar tersebut muncul nama-nama yang terkait musik: Rihanna, Raphael Saadiq, Daniel Ek dan Adele. Ada empat orang dari total seratus, lumayan. Nama mereka ini muncul di antara tokoh-tokoh internasional lain seperti Lionel Messi (atlet), Manal al-Sharif (pembela hak perempuan), Pete Cashmore (ahli digital dan internet), Ann Patchet (penulis), Tilda Swinton (aktris) dan Barack Obama (presiden).

    Rihanna dan Raphael Saadiq dimasukkan dalam kategori pendatang baru. Nama Rihanna dipilih dalam daftar bergengsi ini karena kerja kerasnya mengejar karier musik sejak usia 16 tahun. Di usianya yang baru menginjak 24 saat ini, Stella McCartney mengatakan, “Segala yang diraihnya sekarang adalah awal dari

    Selengkapnya »dari Empat Musisi yang Paling Berpengaruh di Dunia
  • Tenang, kita bukan sedang membicarakan lagu milik Anggun C. Sasmi yang naik daun di awal ’90-an itu. Tulisan ini menyambung ulasan tentang musisi internasional yang tua-tua keladi — mereka yang di umur kepala enam hingga tujuh namun terus berkarya.

    Apakah fenomena tersebut berlaku sama di negeri kita? Mari kita tengok.

    Titiek Puspa adalah salah satu yang teratas dalam daftar. Di umur 74 tahun, ia masih aktif mengemas lagu dan cerita jenaka dalam perhelatan “Semut Merah Semut Hitam” pada bulan Maret lalu. Walau tak lagi merilis album, akhir-akhir ini Eyang Titiek sepertinya lebih senang menggarap penampilan terkait teater — seperti beberapa karyanya yang selalu dikenang di TVRI dulu. Siapa yang masih ingat Operet Bawang Merah Bawang Putih dan Ketupat Lebaran?

    Pada awal tahun ini, sebuah persembahan “Harmoni Adikarya Titiek Puspa” digelar di SCTV. Sepertinya tak ada yang meragukan sang penerima anugerah “Pengabdian Panjang di Dunia Musik” (BASF Award, 1994) ini sebagai salah satu legenda

    Selengkapnya »dari Tua-tua Keladi Indonesia
  • Mick JaggerMick JaggerTua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Usia bukan halangan bagi beberapa musisi internasional. Mereka terus aktif berkarya meski umur sudah menginjak enam-tujuh dekade. Siapa saja?

    Yang pertama, kelompok rock progresif YES — yang baru tampil di Indonesia. Mereka yang hadir di sini bukan lagi wajah-wajah muda seperti pada era keemasan di awal ’70-an. Chris Squire, bersama Alan White dan Steve Howe sudah berkepala enam. Namun demikian, mereka tetap bisa menggoyang Jakarta. Petikan gitar Steve Howe masih bisa dibilang bertenaga. Mereka juga tetap produktif dengan merilis album “Fly from Here” tahun lalu.

    Yang kedua, Bob Dylan yang makin tua makin bersantan. Bulan Mei ini usianya akan menapak 71 tahun. Walaupun lagu kebangsaannya menyatakan “Times They Are a-Changin’”, musisi-musisi tua perlahan digantikan oleh muka-muka muda, namun harapannya dalam “Forever Young” seakan terpatri pada sepak terjangnya.

    Dylan kini tak lagi bagai macan kampus yang mengajak demonstran turun ke jalan. Namun

    Selengkapnya »dari Musisi Tua-tua Keladi

Penomoran Halaman

(50 Artikel)