Film “The Joneses” (Keluarga Jones) bercerita tentang sebuah keluarga yang menyimpan “keanehan”.
Keluarga ini terdiri dari pasangan Steve Jones (David Duchovny, “The X-Files”) dan Kate Jones (Demi Moore, “Ghost”) serta kedua anak mereka, Jenn (Amber Heard) dan Mick (Be Hollingsworth, “The Beautiful Life”).
Mereka pindah ke sebuah rumah yang baru terjual. Sekilas, keluarga ini tampak normal dan malah seperti keluarga sempurna. Rumah mereka besar (lengkap dengan perabot mahal), kendaraan mereka (dua mobil sport dan satu SUV) pun mahal.
Tetapi pada malam hari, satu demi satu “keanehan” mulai terlihat. Misalnya, Steve dan Kate ternyata tidak tidur bersama di satu kamar. Pada malam berikutnya, Jenn bahkan mengendap-endap ke kamar Steve dan sempat mengajaknya berhubungan seks, sebelum dihentikan oleh Kate!
Ternyata empat orang itu bukanlah sebuah keluarga. Mereka sesungguhnya empat karyawan sebuah perusahaan yang sedang menggunakan teknik stealth marketing (marketing siluman) untuk mempromosikan beragam produk secara tidak terang-terangan.
Teknik stealth marketing ini bukan hal baru. Pada 2002, Sony Ericsson menyewa 60 aktor di 10 kota besar di AS dan menugaskan mereka meminta tolong ke orang lewat untuk memotret mereka menggunakan telepon selular. Kesempatan itu digunakan juga untuk memperkenalkan betapa canggihnya telepon itu. Orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka telah jadi sasaran marketing siluman pun akhirnya ikut menyebarkan promosi Sony Ericsson itu.
Keluarga Jones menggunakan berbagai produk yang baru keluar di pasar. Mulai dari pakaian, sepatu, gadget, parfum, perhiasan sampai makanan-minuman. Di awal film, keluarga Jones melakukan trik yang sama dengan yang dilakukan oleh Sony Ericsson. Mereka minta direkam dengan kamera telepon selular bermerek HTC.
Tentu saja sebagai sebuah unit kerja, keluarga Jones harus mencapai target pemasaran. Mereka pun menggunakan berbagai cara supaya tetangga sekitar secara sukarela ikut membeli berbagai produk yang mereka pakai.
Dan ini bukanlah hal yang sulit, mengingat sifat umum manusia yang biasanya tidak mau kalah bersaing dengan tetangga mereka sendiri — terutama ketika melihat tetangga mereka menggunakan sesuatu yang lebih baru dan bergengsi.
Konflik cerita berkembang ketika Steve, anggota terbaru unit pemasaran keluarga Jones, berusaha untuk tidak mencampurkan perasaan pribadinya dalam bertugas. Ia masih belajar supaya bisa terlihat sebagai keluarga sempurna.
Tetapi setelah berpura-pura selama berbulan-bulan, sulit bagi Steve untuk tidak mendengarkan hati nuraninya. Dia jatuh hati pada Kate, serta merasa bersalah terhadap para tetangga yang menjadi sangat konsumtif sejak kepindahan mereka ke lingkungan itu.
Dibuat dengan biaya $ 10 juta, film “The Joneses” hanya berhasil meraup $ 7 juta. Penghasilan sebuah film memang tidak berbanding lurus dengan kualitas. Contohnya “Avatar: The Last Airbender” yang menurut saya kurang bagus namun menghasilkan keuntungan ratusan juta dolar.
“The Joneses” menurut saya di atas rata-rata dan layak tonton. Sayang, ia tidak cukup populer untuk menutupi biaya pembuatannya sendiri.
Film ini hanya diputar di Toronto, Kanada, Amerika (limited viewing), dan di Mexico. Ia dirilis dalam bentuk DVD/BluRay pada Agustus 2010.

