Begitulah tagline dari film The A-Team, yang dibuat berdasarkan serial TV tahun 80-an dengan judul yang sama. Saya ingat saya hampir tidak pernah melewatkan tayangan tiap episode serial The A-Team di TV, saat itu saya masih SMP dan SMA. Baik versi film maupun versi TV bercerita tentang sebuah tim militer Amerika yang terdiri dari 4 orang, dituduh melakukan kejahatan yang tidak mereka lakukan, lalu 4 orang ini melarikan diri dari tahanan dan berusaha membersihkan nama mereka.
Untuk seri TV, latar belakang tim 4 orang ini adalah Perang Vietnam. Di awal tiap episode ada narasi bahwa mereka dituduh melakukan kejahatan dalam sebuah pengadilan militer, namun berhasil melarikan diri dari tahanan dan bertahan hidup dengan menjadi tentara sewaan. Sewaktu perang Vietnam masih berlangsung, Kolonel Morrison sebagai pimpinan militer memerintahkan The A-Team untuk merampok Bank Hanoi sebagai upaya untuk menghentikan perang.
The A-Team melaksanakan misi dengan sukses, namun ketika kembali ke markas 4 hari setelah perang usai, Kolonel Morrison terbunuh oleh pasukan Viet Cong dan markas mereka sudah hancur. Ini membuat tidak ada bukti yang bisa menyatakan bahwa tindakan perampokan Bank Hanoi tersebut dilaksanakan sebagai sebuah operasi militer, dan akibatnya The A-Team ditangkap dan dipenjarakan. Karena pada dasarnya mereka sudah berpengalaman melakukan operasi militer rahasia, dengan mudah mereka bisa lari dan membebaskan diri dari penjara.
Menghindari kejaran dari pihak polisi militer, The A Team bertahan hidup sebagai tentara bayaran, namun selalu berada di sisi kebaikan. Pemimpin mereka adalah Kolonel John ‘Hannibal’ Smith – diperankan oleh George Peppard – yang selalu membuat perencanaan (yang kebanyakan aneh namun efektif) segala tindakan mereka. Orangnya sangat mudah dikenali, umur pertengahan dengan rambut putih dan selalu mengisap cerutu. Orang kedua adalah Letnan Templeton ‘Faceman’ Peck – diperankan oleh Dirk Benedict, pernah berperan sebagai Letnan Starbuck di serial Battlestar Galactica – yang mudah menipu orang lain dan merayu wanita, dan bertugas mencari kendaraan dan barang yang diperlukan.
Orang ketiga adalah Sersan Bosco Albert B.A. ‘Bad Attitude’ Barracus – diperankan oleh Mr. T – bertugas menjadi mekanik dan tukang pukul. Tokoh B.A. ini merupakan ikon dari serial The A-Team, orang hitam berotot, pemarah, dengan potongan rambut Mohawk dan memakai kalung emas. Tokoh keempat adalah Kapten H.M. ‘Howling Mad’ Murdock – diperankan oleh Dwight Schultz, terkenal juga di dunia Star Trek sebagai Reginald Barclay – yang bertugas sebagai pilot penerbang, dan dinyatakan sakit jiwa dan ditempatkan dalam bagian perawatan kejiwaan di Rumah Sakit Khusus Veteran.
Plot cerita yang mudah dicerna, ditambah nyaris tidak pernah berubah untuk tiap episodenya, merupakan kekuatan sekaligus kelemahan dari serial The A Team ini. Diawali dengan masalah yang dialami oleh korban kejahatan, kemudian pertemuan dengan The A Team, yang biasanya dilakukan Hannibal yang menyamar, dilanjutkan dengan membebaskan Murdock dari rumah sakit jiwa, lalu usaha The A Team menangani masalah yang kebanyakan diakhiri dengan mereka tertangkap atau dikalahkan oleh pihak antagonis, kemudian dibalas dengan pukulan balik dari The A Team yang telah direncanakan dari awal dengan menciptakan senjata atau peralatan baru ala McGyver, dan biasanya ditutup dengan The A Team melarikan diri lagi dari kejaran pemerintah. Penuh dihiasi dengan tembakan senjata, ledakan dan perkelahian, namun tidak pernah ada tokoh antagonis yang terluka parah ataupun tewas karenanya. Awalnya menyenangkan, namun lama-kelamaan membosankan.
Versi film The A Team masih mempertahankan beberapa ciri khusus versi TV, dengan beberapa perubahan. Hannibal diperankan oleh Liam Neeson, aktor Irlandia yang terkenal sebagai Qui-Gon Jinm di Star Wars: Phantom Menace dan sebagai Oskar Schindler di Schindler’s List. Faceman diperankan oleh Bradley Cooper, aktor Amerika di serial Alias dia memerankan Will Tippin, di film The Hangover memerankan Phil Wenneck. B.A. diperankan oleh Quinton Jackson, atlit beladiri Amerika. Murdock diperankan oleh Sharlto Copley, aktor Afrika Selatan yang terkenal sebagai pemeran Wikus van de Merwe di film District 9, dan di film The A Team sendiri ada momen ketika Murdock ditanya dalam bahasa Tanzania oleh petugas Imigrasi padahal kedoknya adalah seorang pendeta Yahudi, dia bisa menjawab dengan lancar.
Dalam versi film ini, diceritakan perkenalan awal antara Hannibal dan Faceman (yang ternyata sudah merupakan tim) dengan B.A. dan Murdock. Latar belakang perang Vietnam diubah menjadi perang Irak, dan komandan tempat The A Team bermarkas adalah Jenderal Morrison. Kalau di versi TV misi mereka adalah merampok Bank Hanoi, di film ini mereka ditugaskan merebut kembali plat untuk mencetak uang dolar Amerika beserta 1 milyar dolar uang palsu yang sudah sempat tercetak. Sama seperti versi TV, mereka berhasil menjalankan misi mereka, namun saat kembali ke markas, mobil jip Humvee yang dinaiki oleh Jenderal Morrison meledak, dan plat cetakan uang dicuri oleh kelompok tentara sewaan Black Forest (di dunia nyata sebenarnya adalah Black Water).
The A Team dituduh bekerja sama dengan Black Forest, sementara Black Forest menghilang. Ini yang menjadi inti cerita film, bagaimana usaha The A Team untuk mencari plat uang yang hilang dan sekaligus membersihkan nama mereka. Berbeda dengan versi TV, di sini tokoh antagonis bisa tewas, dan The A Team belum sampai menjadi tentara bayaran. Di film ini juga dijelaskan mengapa B.A. mengalami trauma terbang, yang di versi TV tidak pernah dijelaskan apa penyebabnya. Sebagai film aksi komedi, film ini sangat menghibur, apalagi bagi penonton yang merindukan serial The A Team. Ada juga pemunculan pemeran Faceman dan Murdock dari serial TV (Dirk Benedict dan Dwight Schultz), walaupun cuma sebentar; Benedict saat Faceman akan dibebaskan oleh Hannibal dari penjara, dan Schultz saat Murdock akan dibebaskan dari rumah sakit jiwa. Walaupun dari segi plot cerita film ini termasuk biasa dan mudah ditebak, namun memang begitulah ciri dari The A Team: sebuah tontonan ringan yang menghibur. 
