Ketika Kemampuan Tak Berbatas



“Pada menit-menit awal film ini saya terpesona dengan jernihnya gambar.” add citation
Kisruh tunggakan pajak oleh importir film asing (yang berujung pada tiadanya film Hollywood di sini) tampaknya tidak akan berakhir dalam waktu cepat. Akibatnya, tidak ada jadwal tayang untuk film-film baru yang populer seperti “Thor”, “Kungfu Panda 2”, dan “Pirates of The Caribbean: On Stranger Tides”.

Tetapi untunglah masih ada film independen “Limitless”, yang bisa masuk dan tayang di Indonesia.

Pada menit-menit awal film ini saya terpesona dengan jernihnya gambar. Kombinasi proyektor digital dan teknik efek visualnya, serta kamera yang melakukan zoom in terus-menerus, mengingatkan saya pada fotografi ketimbang film.

Awalnya saya mengira “Limitless” sebuah film fiksi ilmiah, namun ternyata ia masuk kategori film thriller, film dengan alur ceritanya menegangkan.

Film yang disutradarai oleh Neil Burger (juga sutradara “The Illusionist”, 2006) berkisar pada kehidupan Eddie Morra (Bradley Cooper, “The A-Team”). Eddie adalah seorang penulis yang tinggal di New York, dan belum juga menyelesaikan buku pertamanya walau tenggat sudah menjelang. Hidupnya bisa dibilang nyaris berantakan setelah putus dengan pacarnya, Lindy (Abbie Cornish), yang melihat Eddie tidak punya masa depan cerah.

Dalam perjalanan kembali ke apartemennya, Eddie bertemu dengan Vernon (Johnny Whitworth), adik mantan istrinya. Vernon tadinya adalah pengedar obat bius, namun sekarang dia mengedarkan obat nootropik, yaitu golongan obat yang mampu meningkatkan kemampuan otak.
Limitless” dibuat berdasarkan novel karya Alan Glynn di tahun 2001 yang berjudul The Dark Fields.add citation
Obat itu, NZT-48, belum mendapatkan uji klinis dan karenanya belum resmi dijual. Vernon memberikan contoh obat ini ke Eddie, yang sebenarnya tidak percaya pada khasiatnya. Ternyata apa yang dikatakan Vernon benar.

Setelah meminum NZT-48, kemampuan otak Eddie yang tadinya cuma terpakai 20%, kini menjadi 100%. Eddie mampu menyelesaikan bab pertama dari bukunya, dan menyerahkannya kepada agennya.

Segala sesuatu menjadi sangat jelas bagi Eddie. Dia bahkan bisa mengingat kembali buku yang pernah dibaca saat kuliah bertahun-tahun yang lalu. Bisa dikatakan, IQ Eddie sudah mencapai 4 digit.

Karena segala hal sangat jelas, Eddie menjadi sangat tenang, dan bisa melakukan apa saja, seperti tidak ada batasan lagi. Hanya saja, masa aktif obat ini terbatas, dan mulailah Eddie mengalami ketergantungan.Dimulailah petualangan Eddie untuk mendapatkan persediaan NZT-48 ini.

Kemampuan Eddie menyerap informasi yang sangat banyak dan melihat pola yang ada di dalamnya akibat pengaruh obat ini, membuatnya memutuskan terjun ke dunia saham. Dengan uang pinjaman dari Gennady (Andrew Howard), seorang lintah darat Rusia, Eddie berhasil mengumpulkan banyak uang hasil perdagangan saham.

Kemampuan Eddie yang meroket di dunia saham ini menarik perhatian Carl Van Loon (Robert DeNiro), seorang pengusaha besar yang membutuhkan kemampuannya menganalisis rencana penggabungan perusahaan besar.

“Limitless” dibuat berdasarkan novel karya Alan Glynn di tahun 2001 yang berjudul The Dark Fields. Alur ceritanya juga berdasarkan penyalahgunaan obat nootropik oleh Eddie Spinola, yang bernama MDT-48.

Di dalam film, Eddie diceritakan menulis buku berjudul Illuminating the Dark Fields — yang merupakan referensi terhadap novel ini. Dalam film, Eddie dikisahkan mencalonkan diri menjadi senator, sementara di dalam novel Eddie menyadari bahwa Presiden Amerika Serikat juga menggunakan obat nootropik ini.

Film berdurasi 90 menit ini dibuat dengan biaya $ 27 juta, dan sampai saat ini sudah menghasilkan lebih dari $ 140 juta. Bisa dibilang film yang sukses secara finansial. Sebagai film thriller, “Limitless” sangat menghibur, walaupun menurut saya alur cerita terasa singkat. Saya merasa “Source Code”, yang juga thriller, masih lebih bagus ketimbang “Limitless”.

Terpopuler