Eko Juniarto
  • There Is No Plan B

    Begitulah tagline dari film The A-Team, yang dibuat berdasarkan serial TV tahun 80-an dengan judul yang sama. Saya ingat saya hampir tidak pernah melewatkan tayangan tiap episode serial The A-Team di TV, saat itu saya masih SMP dan SMA. Baik versi film maupun versi TV bercerita tentang sebuah tim militer Amerika yang terdiri dari 4 orang, dituduh melakukan kejahatan yang tidak mereka lakukan, lalu 4 orang ini melarikan diri dari tahanan dan berusaha membersihkan nama mereka.

    Untuk seri TV, latar belakang tim 4 orang ini adalah Perang Vietnam. Di awal tiap episode ada narasi bahwa mereka dituduh melakukan kejahatan dalam sebuah pengadilan militer, namun berhasil melarikan diri dari tahanan dan bertahan hidup dengan menjadi tentara sewaan. Sewaktu perang Vietnam masih berlangsung, Kolonel Morrison sebagai pimpinan militer memerintahkan The A-Team untuk merampok Bank Hanoi sebagai upaya untuk menghentikan perang.

    The A-Team melaksanakan misi dengan sukses, namun ketika kembali ke markas

    Selengkapnya »dari There Is No Plan B
  • Saya mengenal serial fiksi ilmiah The X-Files maupun Star Trek The Next Generation (STTNG) dari stasiun televisi swasta di Indonesia, khususnya di Jakarta. Saya masih samar-samar ingat The X-Files pertama kali ditayangkan sore hari, sementara STTNG pertama kali diputar Kamis siang, sehingga saya bisa menyesuaikan jadwal untuk menonton keduanya.

    Ada beberapa serial fiksi ilmiah genre luar angkasa yang lain yang juga sempat diputar, seperti Babylon 5 yang diputar hari Minggu siang dan Space: Above & Beyond yang diputar pada malam hari. Lalu saya ingat ada serial mirip The X-Files yaitu The Psi Factor, diputar di malam hari, yang saya kurang begitu suka karena spesial efeknya terlihat kurang bagus, selain jalan ceritanya juga biasa saja. Kelanjutan dari serial Star Trek seperti Voyager dan Deep Space 9 juga sempat diputar.

    Saya masih ingat serial Star Trek The Original Series, yang dibintangi oleh William Shatner sebagai Kapten Kirk dan Leonard Nimoy sebagai Mr. Spock, sempat diputar

    Selengkapnya »dari Nasib Fiksi Ilmiah di Indonesia
  • Seri film Shrek ke empat diberi judul Shrek Forever After, dan seperti akhir dari sebuah dongeng yang biasanya ditutup dengan kalimat “... live happily ever after”, ini adalah bagian terakhir dari seri tersebut menurut DreamWorks Animation yang membuat Shrek. Untuk ukuran anak-anak, film ini cukup menghibur, terbukti dua anak saya yang berumur 5 dan 7 tahun banyak tertawa sepanjang film. Bagi orang dewasa, film ini juga penuh dengan parodi, baik parodi kisah dongeng ataupun di kehidupan nyata, sehingga terasa nyambung juga bagi orang tua.

    Tokoh antagonis di Shrek Forever After ini adalah Rumpelstiltskin, dibantu dengan pasukan (nenek) sihir lengkap dengan sapu terbangnya. Dalam kisah dongeng yang sebenarnya, ada seorang pemilik penggilingan yang membual ke seorang raja bahwa anak gadisnya mampu memintal benang emas. Raja lalu memanggil gadis tersebut dan mengurungnya di sebuah menara, dan menyuruhnya memintal benang emas dalam tiga malam, atau dihukum mati. Seorang kurcaci muncul dan

    Selengkapnya »dari Shrek Forever After, Bagian Terakhir dari Tetralogi Shrek
  • Saya adalah penggemar serial fiksi ilmiah The X-Files, setidaknya sampai sebelum Fox Mulder (David Duchovny) menghilang. Setelah ditayangkan selama 9 season, serial The X-Files berakhir, dan setelah itu belum ada serial fiksi ilmiah lain yang mirip temanya. Sampai akhirnya muncul serial Fringe.

    Fringe adalah sebuah serial TV fiksi ilmiah karya J.J. Abrams bersama Alex Kurtzman dan Roberto Orci. Penggemar serial The X-Files kemungkinan besar akan juga menyukai Fringe ini, karena banyak elemen ceritanya yang mengandung kemiripan, seperti sama-sama merupakan nama sebuah unit dalam FBI, sama-sama mempunyai dua tokoh utama pria dan wanita yang awalnya terlibat secara profesional, namun belakangan terlibat secara romantis. Namun kemiripan yang paling utama adalah kasus-kasus aneh dan sulit dijelaskan yang ditangani oleh tim Fringe ini.

    Setelah sekian banyak kesamaan, ada beberapa perbedaan antara Fringe dengan The X-Files. Jika unit X-Files hanya terdiri dari agen FBI Fox Mulder dan Dana

    Selengkapnya »dari Fringe, X-Files versi J.J. Abrams
  • FlashForward adalah serial fiksi ilmiah televisi buatan ABC Studios, diinspirasi oleh novel dengan judul yang sama karya Robert J. Sawyer. Premis dari serial ini adalah pada tanggal 6 Oktober 2009, hampir semua orang di bumi kehilangan kesadaran selama 2 menit 17 detik (137 detik), dan setiap orang yang kehilangan kesadaran ini melihat masa depan mereka 6 bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 29 April 2010. Kejadian ini akhirnya dinamakan sebagai flashforward.

    Jika di versi novel cerita berkisar pada seorang ilmuwan bernama Lloyd Simcoe, yang bekerja di fasilitas pemercepat partikel (particle accelerator) Large Hadron Collider yang berlokasi di Jenewa, Eropa, maka pada versi televisi, tokoh utamanya adalah seorang agen FBI bernama Mark Benford (diperankan oleh Joseph Fiennes), berlokasi di Los Angeles. Tokoh Lloyd Simcoe tetap muncul di serial televisi (diperankan oleh Jack Davenport), namun tidak bekerja di Eropa, melainkan di fasilitas pemercepat partikel NLAP milik Amerika yang

    Selengkapnya »dari Andai FlashForward Bisa Benar-benar Melihat ke Masa Depan
  • Steven Spielberg seperti punya obsesi khusus terhadap Perang Dunia II. Dimulai dengan Schindler’s List di tahun 1993, lalu Saving Private Ryan di tahun 1998, yang fenomenal karena 27 menit pertama film khusus dialokasikan pada invasi pasukan Sekutu di Normandia, alias D-Day. Bekerja sama dengan Tom Hanks yang membintangi Saving Private Ryan, di tahun 2001 Spielberg memproduseri mini seri Band of Brothers. Kerja sama Spielberg dengan Clint Eastwood membuahkan dua buah film tentang Perang Dunia II di pulau Iwo Jima: Flags of Our Fathers dan Letters from Iwo Jima. Dan yang paling gres di tahun 2010 ini adalah mini seri The Pacific, berkolaborasi kembali dengan Tom Hanks. Jika Band of Brothers bercerita tentang keterlibatan Easy Company di teater Eropa, maka The Pacific bercerita tentang keterlibatan divisi 1st Marine di teater Pasifik.

    The Pacific dibuat berdasarkan dua buah buku yang ditulis oleh dua orang marinir sesama anggota divisi 1st Marine Amerika: With the Old Breed: At Peleliu

    Selengkapnya »dari The Pacific, Obsesi Spielberg terhadap Perang Dunia II

Penomoran Halaman

(56 Artikel)