Mike’s Apartment yang satu ini bukanlah sebuah situs porno, jadi tenang, tidak akan diblokir di Indonesia. Terbentuk 2005, band yang beranggotakan Marko (drum, perkusi), Dendy (vokal), Bagus (bass), dan Udin (gitar) ini dikenal sebagai band kover akustik yang manggung di kafe-kafe di Jakarta. Namun menjadi band kover tidak berarti musikalitas mereka sebatas itu saja.
Baru-baru ini Mike’s meluncurkan video klip “Soulmate”, lagu ciptaan mereka sendiri. Setelah sempat membawakannya secara langsung di acara Yahoo! Olahraga Night of the Fanatics, musikalitas mereka memang tidak bisa dianggap remeh.
Senin (16/7) siang, Mike’s menyempatkan diri untuk datang ke kantor Yahoo! Indonesia dan berbincang dengan Yahoo! OMG!. Di saat band lengkap sedang menjamur, mereka berani unjuk gigi dengan berakustik, bahkan secara tidak langsung memperkenalkan sebuah alat musik asal Peru di Jakarta.
Bagaimana ceritanya band ini bisa dinamakan Mike’s?
Jadi 6 tahun yang lalu, kita sempat main di sebuah tempat di Cilandak Town Square (Citos) Jakarta. Kebetulan kami kenal sama yang punya tempat itu. “Eh main dong di sini, Miyabi main di tempat gue.” Kami langsung, “Hah, Miyabi?!” Oke, akhirnya kami datanglah. Muka kami girang. “Mana Miyabi?”. “Itu”. Ternyata nama band yang lagi main.
Akhirnya dari situ kami terpikir untuk membuat band dengan nama yang sedikit nyeleneh. Mulai dari Bang Bros sampai Asia Carera. Pilihan akhirnya jatuh ke Mike’s Apartment karena kami ingin nama yang tidak banyak orang awam tahu, tapi dikenal sama mereka yang biasa berinternet. Lagipula lebih enak saja dengarnya. Kalau Playboy kan kesannya vulgar.
Kita jadi punya ice breaker. “Ya kami dari Mike’s Apartment.” Nanti pasti ada beberapa pria yang tertawa dengarnya. Kemudian kami beberapa kali kolaborasi dengan musisi, salah satunya Maylaffayza. Kami tidak memberi ruang bagi pihak tertentu yang bisa mengaitkan nama band kami dengan situs porno. Jadi kami main aman akhirnya. Banyak juga yang saat menonton kita, menyebutnya, “Eh nonton Mike’s yuk”.
Dari situlah kami membiasakan diri memakai nama Mike’s. Kalau Mike’s Apartment jadi sering salah disebutkan oleh MC. Mike’s kan lebih simpel. Sering juga orang menyangka Mike’s sebagai Mike Mohede.
Bagaimana sih awalnya nama Mike’s bisa dikenal di Jakarta?
Mungkin pemicunya dulu pertama kali, saat orang sudah bosan dengan band lengkap dan Top 40. Kemudian terpikirlah untuk menciptakan band akustik dengan lagu-lagu bertema tahun 90-an.
Tahun 2005 belum ada band seperti itu. Bisa dbilang Mike’s jadi salah satu pelopor band akustik di Jakarta, bareng Dygta dan Anda Bunga. Tapi aliran musik kami bertiga beda. Dygta dan Anda Bunga beraliran rock n roll, sedangkan Mike’s beraliran 90s. Banyak yang nostalgia saat menonton kami, dari situ kemudian tersebar, dari mulut ke mulut. Kemudian banyak kafe juga yang jadi ikut tren band akustik seperti Mike’s.
Target pasar kalian siapa sih?
Mereka yang saat masih duduk di bangku sekolah, pulang sekolah langsung main band bareng teman-temannya di studio dan membawakan musik-musik tahun 90-an seperti Oasis. Itu target kami.
Marko dulu bawa alat musik cajón (baca: kahon) dari Peru sekitar 8 tahun yang lalu, saat itu pihak bea cukai masih tanya, “Ini speaker apa, mas?” “Bukan pak. Ini alat musik.” Setelah dimainkan, baru pihak bea cukai percaya. Saat kami main pun banyak yang suka tanya. Ini semua sudah dengan alat musiknya masing-masing, satu orang sedang apa tuh hanya duduk saja di kotak. Belum banyak yang tahu cajón itu apa. Mike’s cukup mengenalkan alat musik itulah. Sekarang ini banyak sekali band yang menggunakan cajón. Setlistnya sama lagi. Itu bahaya banget.
Kenapa kalian memilih musik tahun 90-an?
Lagu tahun 90-an itu abadi. Tidak akan mati dalam satu atau dua tahun. Beda dengan lagu zaman sekarang, 7 bulan juga sudah mentok deh. Kadang ada sekelompok orang yang dari tidak tahu lagu yang kami bawakan, sampai akhirnya mereka suka. Ada yang tidak suka lagu aslinya, justru malah suka lagu yang versi kami.
Kalian baru saja meluncurkan video klip “Soulmate”. Kalau punya album sendiri, kalian tetap kover lagu musisi lain?
Idealnya, Mike’s ingin punya lagu hasil karya sendiri, dengan hasil pemikiran kami sendiri. Jadinya seperti apa, itu urusan nanti. Tapi kami juga tidak menutup kemungkinan untuk memasukkan lagu orang lain yang kami mainkan.
Mungkin orang sudah mengenal Mike’s sebagai band akustik dengan lagu 90-an. Tapi kami juga ingin menunjukkkan kepada mereka bahwa Mike’s memiliki potensi dalam pembuatan lagu sendiri dan di luar akustik.
Pada dasarnya kan kami bisa main alat musik lengkap. Ini bukan pembuktian sih, tapi ada waktunya di mana kami bermain band lengkap. Sebenarnya tujuan awal kami membuat album itu hanya karena bisnis. Menjual. Tapi tidak menjual seperti yang selama ini ada di televisi. Mike’s ingin menjual, mengemas dengan benar musik kami agar menjangkau pasar yang lebih luas lagi.
Kami membuat album dengan maksud memperkenalkan Mike’s ke luar Jakarta, bahwa Mike’s bukan band Jakarta saja. Kami takut kalau kami manggung di Surabaya misalkan, ada yang komentar “Mike’s itu apa sih?”. Kalau di Jakarta, kami mau bawakan lagu kover, itu sih sudah semau kami, karena kami sudah punya pasar di Jakarta.
Band yang awalnya dikenal sebagai band kover, saat menulis lagu sendiri biasanya susah sekali. Banyak band kafe yang sudah lebih dulu mencoba, saat keluar album, kurang sukses. Mungkin terlalu idealis, atau terlalu jualan. Kami tidak bergabung dengan label besar agar Mike’s bisa bikin strategi sendiri. Kami mengeluarkan dulu single pertama, oke atau tidak tanggapannya. Kalau oke, baru lanjut ke lagu kedua.
Proyek selanjutnya setelah “Soulmate”?
Kami konsentrasi di penggarapan album sih. Waktunya pas saat bulan puasa. Saat itu adalah waktu libur musisi se-Indonesia, kecuali mereka yang punya lagu religi. Jadi insya Allah kalau dikasih waktu yang tepat, kami bakal mengeluarkan album.
Videografer: Jonathan Rian/Yahoo! Indonesia

