“Buat apa televisi nasional nayangin gambar keadaan jalan Sudirman saat ini? Kalau orangnya bisa nonton TV, berarti dia nggak di jalanan, dong? Lah, sementara orang yang di jalanan, dia nggak bisa nonton TV, dong? Berarti percuma ditayangin di TV,” ujar Luqman Baehaqi saat Yahoo! Indonesia memulai perbincangan dengannya. "Yah, mendingan nggak usah ditayangin, dong.”
Pria yang lahir di Weleri, Jawa Tengah ini memang sedang naik daun. Menjadi seorang stand up comedian dengan penampilan yang jenaka namun sok kalem, menjadi kelucuan tersendiri bagi orang yang menyaksikan penampilannya.
Menempuh pendidikan SMA di Jakarta dan universitas di Bandung membuat pria yang sekarang bekerja sebagai Creative Director di sebuah agensi periklanan di Jakarta ini memiliki beragam latar kebudayaan yang mempengaruhinya. Hal ini juga yang membawa dirinya berkenalan dengan dunia stand up comedy yang membesarkan namanya. Berikut perbincangan Yahoo! Indonesia dengan Luqman Baehaqi.
Bagaimana awalnya bisa terjun ke dunia stand up comedy?
Sebenarnya sudah dari dulu dengerin stand up comedy, tapi nggak pernah dengerin sampai habis. Baru pernah dengerin full itu ketika ada teman yang ngasih liat video stand up comedy-nya Russel Peters. Saat itu saya tertarik banget buat mencoba jadi seorang stand up comedian, karena sebenarnya stand up comedy dan hidup saya itu berhubungan erat. Saya seorang yang kreatif, dan untuk bisa jadi seorang stand up comedian yang baik kita harus bisa menggali pikiran kita dengan kreatif. Akhirnya saya coba mencari komunitas stand up comedy di Indonesia dan kebetulan bertemu dengan Pandji, yang merupakan teman kuliah saya. Dari pertama datang cuma buat nonton, terus nyobain, sampai akhirnya ketagihan!
Apa yang unik dari stand up comedy dibanding hiburan lainnya?
Orang sering menyangka kalau stand up comedy itu adalah komedi yang dibawakan sambil berdiri. Padahal bukan itu maksudnya. Arti dari stand up itu sendiri adalah mempertahankan. Jadi dalam sebuah stand up comedy, si komedian berusaha untuk mempertahankan pendapatnya dengan cara yang lucu dan menghibur banyak orang. Kalau seorang penyanyi mengutarakan pikirannya dengan lagu, kami mengungkapkan pikiran kami dengan lucu-lucuan. Biasanya kami akan mengangkat isu-isu yang dekat dengan masyarakat saat ini, sehingga menarik untuk didengar. Jadi penontonnya juga nggak bosen dan mau dengerin kami.
Ada trik khusus dalam melakukan stand up comedy?
Kalau saya suka membuat awalan dari sebuah premis. Premis itu adalah alasan kuat kenapa kita melemparkan pendapat itu. Dan biasanya premis itu harus menyangkut soal sesuatu yang general, agar penonton tertarik dan mau mendengar apa yang saya bicarakan.
Misalnya saya mau bilang begini, “Kenapa Indonesia saat ini teknologinya nggak maju-maju? Karena teknologi yang ada di dalam negeri nggak pernah dikembangkan.”
Kalimat itu menjadi premis saya yang akan membuat orang penasaran. Sebenarnya apa sih teknologi yang tidak dikembangkan itu? Lalu saya akan lanjutkan begini,
“Pernah nonton film Star Trek? Kalau di film futuristik tersebut, orang bisa memindahkan barang atau bahkan dirinya sendiri dengan menggunakan Teleport. Di Indonesia, sudah ada teknologi seperti itu dari dulu! Sudah ada orang yang bisa mindahin silet ke perut orang, pecahan beling, atau paku. Santet itu sebuah teknologi yang bila diteliti sama para ilmuwan, bisa mengembangkan teknologi Indonesia. Coba kalau yang dipindahin itu televisi, buku, atau barang lain? Itu kan bisa menciptakan bisnis baru yang menguntungkan juga.”
Itu salah satu contoh pendapat kecil yang dikembangkan dan disampaikan dengan cara yang menarik dan menjadi dasar dalam melakukan stand up comedy.
Menurut Luqman sendiri, bagaimana perkembangan stand up comedy di Indonesia saat ini dan prospek ke depannya?
Stand up comedy di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak dulu, hanya saja belum terekspos sampai sebesar sekarang ini. Ketika sekarang orang sudah tahu bahwa stand up comedy merupakan sarana menyampaikan pendapat, orang akan mulai mencoba untuk melakukannya juga karena semua orang juga memiliki pendapat yang ingin disampaikan. Akhirnya akan terbentuk sebuah industri dimana stand up comedy akan dicari-cari.
Sebenarnya sempat muncul kekhawatiran soal stand up comedy di Indonesia. Hal ini disebabkan stand up comedy yang dikenal di Amerika bersifat kasar dan “menyentil”, sementara orang Indonesia kebanyakan sensitif soal hal-hal tersebut. Namun ternyata dalam kenyataannya, ketakutan tersebut tidak menjadi kenyataan. Walaupun memang tetap ada hal-hal sensitif yang bisa menyinggung, namun orang-orang tetap tertawa. Karena sebenarnya seorang stand up comedian yang bagus itu nggak hanya bisa melempar bom, tapi juga harus bisa menjaga bom itu agar tidak meledak.
Bagaimana caranya agar bisa menjadi seorang stand up comedian yang baik?
Tentu saja harus terus berlatih giat dan tentu saja kita harus bisa mencari materi bagus yang mengandung premis yang kuat. Premis yang kuat adalah premis yang diyakini oleh semua orang. Jadi takaran untuk menilai materi yang bagus itu sangat mudah. Antara membuat penonton berkata, “Kok gue nggak kepikiran, ya?” atau, “Iih! Itu gue banget!” Kalau penonton berkata seperti itu, berarti materi kita bagus.
Selain materi, kita juga harus memperhatikan cara menyampaikan atau delivery kita. Materi yang bagus, kalau penyampaiannya jelek juga akan sama saja tidak menarik. Dan yang terakhir, kita juga harus memperhatikan audience kita dan menyesuaikan materi dan cara penyampaiannya. Jadi ketiga hal ini harus saling terhubung dan seimbang, baru kita bisa melakukan stand up comedy dengan baik.
Ada pesan-pesan atau harapan buat pecinta stand up comedy Indonesia?
Harapan
saya, stand up comedy suatu hari ada manajemennya, ada wadahnya, ada
distribusinya, sehingga terbentuk sebuah industri yang baik. Jadi stand
up comedy bisa makin maju. Kalau pesan sih, sebenarnya semua orang
memiliki sisi lucu di dalam hidupnya. Bahkan sebenarnya hidup itu lucu.
Jadi kita harus bisa menemukan kelucuan dalam hidup kita dan harus bisa
menggalinya dan hidup dengan gembira!
