Oleh Dimas Ario
Semenjak merilis debut album di tahun 2007 hingga kini, band asal Jakarta, Efek Rumah Kaca (ERK) menjadi salah satu band indie lokal dengan frekuensi panggung terpadat setiap bulannya.
Trio yang terdiri dari Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) selalu laris menjadi penampil utama di banyak kota di Indonesia.
Tak terasa, empat tahun sudah berlalu semenjak terakhir mereka merilis album kedua, “Kamar Gelap” di tahun 2008. Saat ini ERK tengah merampungkan proses rekaman untuk album ketiga yang telah dikerjakan sekitar 70 persen. Rencananya album ini hanya akan memuat enam lagu saja.
Banyak hal yang menyebabkan album ini tertunda lama. Salah satu penyebabnya yakni absennya pemain bas, Adrian yang terkena penyakit diabetes yang menyebabkan kondisi penglihatan matanya terus memburuk. Selama ini peran Adrian di panggung digantikan oleh basis cadangan.
“Sampai sekarang belum ada perkembangan yang signifikan. Baik Adrian maupun pihak ERK masih mencari dan mencoba pengobatan secara medis dan alternatif, “ jelas vokalis Cholil mengenai keadaan terakhir Adrian.
Yahoo! Indonesia berbincang dengan Cholil mengenai hambatan rekaman album terbaru, keinginan konser tunggal hingga kemungkinan bubar 5 tahun mendatang.
Dalam salah satu wawancara, kalian menyebutkan album terbaru ini sebagai album yang tidak ramah dengan banyaknya lagu-lagu yang berdurasi 8 hingga 10 menit.
Durasi lagu memang antara 8-12 menit tiap lagunya. Masalah ramah atau tidak tergantung persepsi pendengar saja. Yang pasti, sedikit banyak kami ingin mencoba memasuki wilayah estetik yang belum pernah kami lakukan pada album sebelumnya. Kami pun selama menciptakan lagu juga mendengarkan berulang-ulang sebagai proses penyuntingan. Kami ingin 8-12 menit ini juga tidak bertele-tele atau mubazir — paling tidak untuk telinga kami.
Album baru nanti mau diberi judul apa? Ada cerita di balik judul album itu?
Judul album rencananya “Sinestesia”. Yang salah satu artinya adalah kondisi ketika mendengarkan suatu komposisi musik, selalu tergambar di benak kita akan suatu warna. Enam lagu yang ada dalam album ketiga ini akan berjudul warna-warna yang Adrian rasakan ketika mendengarkan lagu-lagu tersebut. Rencananya sampul albumnya adalah rekayasa digital hasil laboratorium kondisi mata Adrian.
Apakah kepadatan jadwal manggung menghambat proses pengerjaan album?
Nggak sih kalau itu. Yang membuat album ini lama sebenarnya karena pada album ini, kami menciptakan lagu di studio rekaman dan selama rekaman berlangsung kami belum terlalu yakin arah moodnya akan kemana.
Karena itu banyak eksperimen yang menyebabkan membengkaknya biaya rekaman dan mundurnya proses pengerjaan album. Sedangkan pada album sebelumnya, kami membuat lagu di studio latihan dan ketika mood lagunya sudah jelas kami baru merekammya sehingga prosesnya tidak lama.
Kalian sudah tampil di banyak kota di Indonesia. Sejauh ini kota mana yang ternyata tidak disangka memiliki respon yang positif terhadap kalian?
Kota di luar kota besar misalnya Palu, Balikpapan, Samarinda, Purwokerto, Salatiga.
Panggung ideal untuk Efek Rumah Kaca yang seperti apa?
Yang intim. Di dalam ruangan atau luar tidak ada masalah. Tapi jangan yang terlalu besar seperti lapangan bola. Bisa sepi dan nggak seru. Mungkin kami adalah band dengan kapasitas tempat 500-an orang. Lebih dari itu, ditakutkan nanti lenggang. *tertawa*
Berminat buat konser tunggal dalam skala besar?
Konser tunggal minat. Bikin yang lebih terkonsep pun berminat. Tapi balik lagi, kalau besar-besar takutnya nggak ada yang nonton.
Apakah ada proyek lain dalam waktu dekat?
Dalam waktu dekat kami akan merilis album yang berisi remix dan tribute dari beberapa band lokal terhadap lagu ERK pada album pertama. Band-band yang akan mengisi album tersebut antara lain Belkastrelka (Jogja), Icarie (Jakarta), Bottlesmoker (Bandung), dan lain-lain.
Seperti apa Efek Rumah Kaca 5 tahun dari sekarang?
Ada dua kemungkinan. Kalau kami masih bisa kreatif mungkin masih ada. Kalau sudah nggak bisa buat karya bagus sih mending bubar saja. Jadi apakah makin tua kami makin berisi atau makin basi? Mudah-mudahan jawabannya yang pertama.
Penomoran Halaman
Pilihan Redaksi
1 - 6 dari 12
Latest Blogs
- Gaya Nyeleneh Seleb Di Penghargaan Billboard
- Foto-foto Pertama Nicole Kidman Jadi Grace Kelly di "Grace of Monaco"
- Hitam Putih Ratu K-Pop Lee Hyori
- Konser Blur di Jakarta: Itu Benar-benar Bisa Terjadi
- Lima Alasan Menonton "Star Trek Into Darkness"
- Dian Sastro: Yang Sombong Biasanya Justru Artis Asia
- Cara Selebritas Menjaga Rambutnya
BLOG DI OMG!
Terpopuler


Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark
Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.



Berita Terkini
GALERI TERPOPULER
1 - 8 dari 25
Hari Ini di Yahoo!
1 - 8 dari 29
Video Pilihan
1 - 4 dari 20
