Oleh Donny Verdian
Apa yang bisa dilakukan para artis ketika angin industri sedang tak berpihak? Berganti haluan seni menuju hal-hal yang trendi atau bergelut dengan pekerjaan “normal” alias kantoran?
Lama tak terdengar kiprahnya setelah rilis album “Blacklight” (2010), grup musik rock asal Bandung, KOIL, ternyata punya kesibukan lain selain manggung di sana-sini.
Grup yang digawangi Otong (vokal/gitar), Doni (gitar), Adam (bass) dan Leon (drum) ini tengah sibuk menyiapkan materi album berikutnya. Meski belum pasti kapan album tersebut keluar, Otong menyebutkan bahwa saat ini suasana hati band untuk menggarap album sedang bagus-bagusnya.
“Mumpung lagi niat jadi dioptimalkan. Takutnya harus cari momentum yang seperti ini lagi yang entah kapan datangnya.”
Saking seriusnya, Doni sang gitaris pun sampai perlu “dirumahkan” agar bisa lebih berkonsentrasi menggarap album. Manajemen pun mencari pengganti Doni di panggung.
Bisnis Lain
Meski setiap konsernya selalu dibanjiri penggemar fanatik, KOIL tidak serta-merta merasa aman untuk hanya mengandalkan musik sebagai satu-satunya sumber nafkah.
Mereka sadar betul, aliran musik mereka bukanlah aliran utama yang menjadi kegemaran pasar musik Tanah Air (yang akhir-akhir ini cenderung berpihak pada musik rock-melayu, dangdut hingga K-pop).
"Kami realistis lah! Kalau cuma mengandalkan musik, sebulan paling banter cuma manggung 2-4 kali, bagaimana bisa hidup?" kata Otong.
Oleh karena itu pula, sejak awal, anggota KOIL kecuali Adam (yang baru bergabung pada 2006), sepakat untuk mengumpulkan modal untuk membuka usaha cendera mata God Inc. — yang pada akhirnya berkembang tak hanya melayani kepentingan KOIL tapi juga band lainnya.
Selain itu KOIL ternyata juga sudah cukup lama membuka bisnis restoran. Leon, sang drummer berperan sebagai koki andalan. Tak tanggung-tanggung, sejak akhir September mereka mengelola tak hanya satu rumah makan, melainkan dua.
Energi Positif
Buah keseriusan mereka dalam menjalankan bisnis patut diacungi jempol. Karena selain memberikan pekerjaan kepada sekitar 60-70 orang, bisnis ini juga memberi energi positif dalam kegiatan bermusik mereka.
Mereka tidak perlu menyesuaikan diri dengan tren musik yang sedang digandrungi demi penuhnya pundi-pundi uang. Mereka hanya tetap bertahan dengan idealisme musik mereka yang telah menjadi identitas di kalangan penggemar.
Persoalannya sekarang, jika harus memilih, mana yang jadi prioritas: musik, bisnis cendera mata, atau restoran?
Otong, yang kerap membanting gitar di atas panggung, menjawab realistis: “Bagi kami bermain band tetap mata pencaharian nomor satu! Kalau ada job manggung dan honornya besar, kami layani... tapi kalau honor kecil, ya lebih baik tak kami ambil...”
Sebuah pencerahan bagi para artis yang merasa karyanya mulai tak mendapat tempat di pasar?
Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda
Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Pertama-tama,Nyalakan Facebook
Bermusik dan Berbisnis Seperti KOIL
Oleh Yahoo Indonesia OMG | Blog Editor – Jum, 7 Okt 2011 13:02 WIBPenomoran Halaman
Apakah kamu ingin Lady Gaga tetap mengadakan konser di Jakarta?
44%
361 orang telah menjawab pertanyaan ini.
56%
Memuat...
Latest Blogs
Berita Terkini
BLOG DI OMG!
POLL
Apa yang paling sering kamu download secara ilegal dari internet?
Memuat...
Hari Ini di Yahoo!
1 - 4 dari 20

22 komentar