Menurunkan harga tiket konser beberapa hari menjelang hari-H? Dua tahun lalu saya pernah menyoroti hal itu di blog saya, ternyata masih ada saja penyelenggara konser yang membuat keputusan seperti itu. Dari awal mematok harga yang cukup tinggi dan tidak mau memberikan potongan harga dalam bentuk apapun, tapi begitu sudah dekat hari pertunjukan malah buru-buru banting harga.
Bagi calon penonton yang belum beli tiket, itu adalah kabar yang menyenangkan. Namun, di sisi lain keputusan tersebut tidak menghargai penonton yang dari beberapa waktu sebelumnya sudah menyisihkan uang untuk membeli tiket dengan harga awal yang lebih mahal. Jelas keputusan banting harga tiket menjelang hari-H seperti itu bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana. Yang terlihat malah seperti sebuah bentuk kepanikan karena penjualan tiketnya tidak selancar yang dibayangkan sebelumnya.
Dengan kejadian seperti itu, sejumlah dampak negatif menunggu. Mulai dari penyelenggara harus mengembalikan selisih harga tiket, penonton jadi terbiasa membeli tiket pada hari-H, hingga sponsor bisa jadi enggan lagi mendukung karena melihat minimnya penonton. Sudah begitu, karena merasa rugi, bisa-bisa pihak penyelenggara ikut-ikutan ngambek. Kapok mendatangkan artis musik mancanegara, terutama ke kota-kota lain selain Jakarta. Ujung-ujungnya berimbas kepada penonton juga. Padahal mungkin saja harga tiket yang dipatok memang kemahalan.
Dalam kasus itu, nampaknya penyelenggara konser sejak awal tidak punya perencanaan yang matang, khususnya dalam penentuan harga tiket. Penyelenggara konser seharusnya tidak sembarangan menentukan harga tiket. Agar harga tiketnya terbilang masuk akal di mata calon penonton, sebaiknya pihak penyelenggara tidak hanya berpatokan pada ongkos produksi dan keuntungan yang ingin diraih saja, tapi juga mempertimbangkan sejumlah hal lain seperti tingkat kepopuleran artis yang ditampilkan, lokasi acara (indoor atau outdoor), gedung (hotel atau gedung olahraga), tingkat ekonomi rata-rata masyarakat setempat, kalangan yang disasar (ABG, dewasa, atau orang tua), kesan yang ingin ditampilkan (eksklusif atau meriah), dan sebagainya.
Masih tetap ngotot ingin harga tiket yang dipatok terlihat ‘berwibawa’ (baca: mahal)? Masih ada cara lain kok biar tetap diminati. Daripada malah banting harga tiket menjelang konser berlangsung, lebih baik dari awal pihak penyelenggara menggunakan strategi harga promosi untuk orang-orang yang memang niat nonton sejak jauh hari. Justru pada hari-H, berlakukanlah harga tiket normal.
Ada bermacam-macam istilah yang biasa dipakai untuk menawarkan harga tiket yang lebih murah, agar orang mau membeli jauh hari sebelum tanggal pertunjukan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Early Bird Price / Presale Price.
Ini adalah istilah atau jenis harga promosi yang paling sering digunakan. Early bird price berarti tiket ditawarkan dengan harga khusus di bawah harga normal untuk pembelian dalam kurun waktu tertentu.
2. Student Price.
Agak jarang penyelenggara konser musik menawarkan harga promosi jenis ini. Jika ditawarkan, biasanya pembeli harus bisa menunjukkan kartu pelajar atau mahasiswa yang masih berlaku dan dibatasi jumlah tiket yang bisa dibeli. Tapi istilah “student price” ini bisa juga berarti penjualan tiket dengan harga khusus di lingkungan kampus tanpa syarat tertentu. Jika penjualan tiket dengan “early bird price” masih kurang memuaskan, pihak penyelenggara bisa melanjutkan dengan cara ini.
3. Online Price.
Ini adalah jenis harga promosi yang tergolong masih agak jarang ditawarkan. Dengan memasang label “online price,” harga promosi yang ditawarkan baru berlaku jika pemesanan dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring) di situs web penyelenggara. Pada intinya sih tetap sama-sama merupakan tawaran harga tiket murah untuk kurun waktu tertentu.
Jadi, apa kabar harga tiket konser David Foster & Friends di bulan Oktober nanti yang ditawarkan mulai dari 1 juta hingga 7,5 juta rupiah itu? Ada penawaran early bird price? :-)
