Nasib Sial Pembeli CD Orisinal

Membeli barang orisinal, asli, resmi, atau bukan bajakan itu (seharusnya) bisa memberikan ketenangan, kenyamanan, dan kepuasan tersendiri ketimbang yang tidak orisinal, tidak asli, tidak resmi, atau malah bajakan. Minimal, ada garansi atau jaminan yang jelas jika barang yang dibeli tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan secara normal. Entah itu berupa pengembalian uang atau pun penggantian dengan barang bertipe sama atau sejenis yang berkondisi lebih baik. Biasanya alasan semacam itu yang turut diusung oleh pihak yang sering mendengung-dengungkan slogan  “stop pembajakan” atau semacamnya.

Bagaimana dengan CD album musik orisinal yang dijual di sini? Adakah garansi semacam itu bagi pembelinya? Mau tahu jawabannya?  

Ketika belum lama ini harus mengembalikan CD album Something About the Girl-nya Dira Sugandi yang tersendat-sendat ketika disetel, saya sempat agak ragu bisa berhasil. Beruntunglah kali ini penjaga toko CD dan DVD itu mau menukarkannya dengan album yang sama.

Kenapa saya bilang beruntung?  Berbeda dengan produk lain pada umumnya, selama ini pembelian kaset, CD, maupun DVD berkonten hiburan yang diedarkan di Indonesia tidak disertai dengan jaminan atau garansi resmi. Tidak hanya yang bernilai di bawah 50 ribu saja, misalnya, untuk keping cakram yang harganya di atas 100 ribu rupiah pun demikian. Bahkan di struk pembeliannya, seingat saya, tercantum klausul bahwa barang yang sudah dibeli tidak boleh ditukar atau dikembalikan.

Jadi, bisa dibilang, jika ada masalah pada CD atau DVD yang dibeli, nasib protes dari pihak pembeli hanya bergantung pada kebaikan karyawan toko yang sedang bertugas. Tidak selalu bisa ditukar. DVD Glenn Fredly “Tribute to Chrisye” yang saya beli beberapa waktu lalu termasuk yang tidak boleh ditukar meskipun bermasalah ketika dimainkan di peranti pemutar saya. Alasan penolakannya, DVD tersebut berjalan mulus ketika dicoba disetel di toko tempat saya membeli DVD itu.

Nah, selain tidak memberikan garansi resmi, juga ada masalah lain. Patokan yang dipakai pihak toko ketika menghadapi komplain biasanya adalah kompabilitas CD/DVD tersebut dengan pemutar yang digunakannya, yang notabene biasanya bermerek terkenal. Padahal bisa saja CD tersebut memang kebetulan tidak kompatibel dengan sejumlah pemutar tertentu.

Jadi, sebenarnya boleh ditukar pun tidak selalu menyelesaikan masalah. Begitu juga dengan CD album Dira Sugandi yang diproduksi oleh Bluey “Incognito” tadi. Walaupun sudah ditukar dan ketika disetel di toko itu terdengar mulus, tetapi CD tersebut tetap saja masih susah bersahabat dengan CD player yang saya gunakan. Mungkin hanya saya saja yang sedang sial?
 
Tampaknya tidak demikian. Setidaknya hal itu tampak dari jawaban Dira Sugandi sendiri waktu menjawab komplain dari saya via Twitter. Waktu itu, tanggapan dari Dira seperti ini: “Coba diputer terus soalnya pernah ada yg gitu trus bisa :)”  

Kalau sudah begini, terpaksa kali ini saya harus membatalkan rencana membahas album yang di Indonesia didistribusikan oleh Aquarius Musikindo tersebut. Bukan bermaksud pencitraan atau sok nasionalis, tetapi -asal tahu saja- untuk keperluan penulisan resensi selama ini, saya selalu berusaha membeli CD atau DVD musik orisinal. Bahkan membelinya pun di toko CD dan DVD yang terbilang mudah dijangkau siapa saja. Sekali lagi bukan untuk bermaksud pamer atau ikut-ikutan tren nasionalis, tapi alasan utama saya sih supaya bisa menilainya secara keseluruhan. Saya bisa menilai lebih dari sekadar lagunya saja.

Saya jadi berpikir, apakah sebaiknya kalau membeli DVD atau CD musik orisinal di sini harus sekalian dengan peranti pemutar bermerek tertentu yang kompatibel? Hmmm, berat sekali beban yang harus dipikul pembeli CD orisinal ya...

Terpopuler

  • SIGMA Festival SMA Madania Dimeriahkan RAN

    SIGMA Festival SMA Madania Dimeriahkan RAN

    SIGMA Festival SMA Madania Dimeriahkan RAN

    Acara berlangsung di Gandaria City, 18 Mei 2013.

  • Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark

    Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark

    Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark

    Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.

  • Venna Butuh Nafkah Lebih Untuk Menjaga Penampilan

    Venna Butuh Nafkah Lebih Untuk Menjaga Penampilan

    Venna Butuh Nafkah Lebih Untuk Menjaga Penampilan

    Jakarta, C&R Digital - Walaupun Venna Melinda telah dinafkahi Ivan Fadilla, Rp 40 juta per bulan, namun jumlah itu dianggap kurang cukup karena banyak potongan yang harus disisihkan untuk keperluan rumah tangganya. Menurut kuasa hukumnya, Kemala Dewi, sebagai istri pengusaha dan anggota DPR, Venna perlu menjaga penampilannya.

  • Vitalia Sesha: Saya Harus Jual Diri Untuk Kembalikan Uang

    Vitalia Sesha: Saya Harus Jual Diri Untuk Kembalikan Uang

    Vitalia Sesha: Saya Harus Jual Diri Untuk Kembalikan Uang

    KAPANLAGI.COM - Model Vitalia Sesha mengaku kebingungan jika harus mengembalikan uang yang diberikan oleh Ahmad Fathanah ke KPK. Vita telah menikmati beberapa sejumlah uang pemberian dari tersangka tindak pidana pencucian uang tersebut.

  • ​Nicki Minaj Hengkang dari American Idol

    ​Nicki Minaj Hengkang dari American Idol

    ​Nicki Minaj Hengkang dari American Idol

    Nicki ingin fokus mempersiapkan album dan tur musiknya.