Beberapa hari lalu, ketika berkunjung ke website Linkin Park untuk mencari informasi seputar album baru mereka, saya menemukan sebuah tulisan sang vokalis dan gitaris Mike Shinoda yang berjudul “Living Things Release Day Challenge”.
Karena hanya membaca judulnya sekilas, awalnya saya sempat mengira tulisan itu cuma sekadar bagian trik pemasaran yang ujung-ujungnya mengarahkan atau menyuruh para penggemar untuk membeli album baru. “Ah, biasa banget kalau hanya begitu,” kata saya dalam hati.
Tapi, ternyata tidak demikian. Karena penasaran, saya akhirnya kembali ke tulisan milik penggarap musik di film “The Raid: Redemption” itu dan membaca isinya sampai selesai. Saya terkesan. Saya merasa tulisan itu sangat menarik. Kenapa?
Mike mengenang kembali apa yang biasa dilakukan di masa remajanya saat band favoritnya merilis album baru. Bersama teman-temannya, ia pernah cabut sekolah pas jam makan siang untuk mampir ke toko musik dan membeli album itu. Kemudian mereka bersama-sama mendengarkannya di mobil sambil makan siang.
Mereka berteriak sepanjang lagu, memutar ulang bagian favorit, dan memainkan lagu-lagu di album itu terus menerus.
Tapi ia merasa sedih karena pengalaman seperti itu sudah tidak ada lagi di zaman sekarang. Kini orang-orang lebih sering mendengarkan sebuah album hanya sendirian saja, lewat speaker komputer yang menyedihkan. Ya, mereka memang membicarakannya di Twitter tapi tetap saja suasananya beda. “The magic isn’t as magical,” katanya.
Oleh karena itu, dia mengajak para penggemar untuk menjadikan hari rilis album baru Linkin Park (26 Juni 2012) sebagai sebuah perayaan yang spesial.
Mike berharap para penggemar mau menunggu sampai hari peluncuran dan mengabaikan jika isi album itu sudah bocor sebelum waktunya.
“Nanti, saat tengah malam di hari peluncuran, dengarlah album itu dari awal sampai akhir. Lebih asyik lagi jika bisa mendengarkannya bersama teman-teman. Berpesta. Pergi ke suatu tempat. Pokoknya, enjoy yourself, ” kata Mike memberi ide.
Ya, memang isi tulisan tersebut ada kaitannya dengan rencana peluncuran album baru Linkin Park, tapi Mike tidak menyuruh atau mengiming-imingi para penggemar untuk membeli atau mendownload secara sah.
Mike justru menegaskan bahwa yang dimaksud dalam tantangannya adalah memutuskan untuk lebih banyak menikmati kegembiraan. Bahkan, “Jika kamu lebih suka mendownload bocorannya ketimbang membeli albumnya, tidak apa-apa. Tantangan atau ajakan ini tetap berlaku bagi kamu,” tegas Mike. Mantap!
Semoga apa yang dilakukan oleh Linkin Park, yang diwakili oleh Mike Shinoda, bisa juga dicontoh oleh para musisi di Tanah Air.
Mungkin kelihatannya sederhana, tapi berapa banyak musisi Indonesia yang dengan rendah hati mau mengajak semua penggemar untuk bersama-sama lebih mementingkan perayaan hari peluncuran album baru, ketimbang membeli atau mendownload secara sah?
Benny Chandra (www.bennychandra.com)
Penomoran Halaman
Pilihan Redaksi
Latest Blogs
- Gaya Nyeleneh Seleb Di Penghargaan Billboard
- Foto-foto Pertama Nicole Kidman Jadi Grace Kelly di "Grace of Monaco"
- Hitam Putih Ratu K-Pop Lee Hyori
- Konser Blur di Jakarta: Itu Benar-benar Bisa Terjadi
- Lima Alasan Menonton "Star Trek Into Darkness"
- Dian Sastro: Yang Sombong Biasanya Justru Artis Asia
- Cara Selebritas Menjaga Rambutnya
BLOG DI OMG!
Terpopuler


Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark
Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.


Ade Rai Sempat Nggak Naik Kelas Gara-Gara Bulu Tangkis
Jakarta, C&R Digital - Selain binaraga, binaragawan Ade Rai ternyata juga menggemari olahraga lain. Salah satu olahraga adalah bulu tangkis. Pria berotot itu pun mengaku ketika kecil dirinya bercita-cita menjadi atlet bulu tangkis. "Semua orang Indonesia pasti sangat mencintai bulu tangkis, termasuk saya. Dari kecil saya ingin jadi atlet bulu tangkis, tapi nggak bisa, akhirnya jadi binaragawan. Tapi masih bisa membanggakan nama Indonesia dimata dunia," kata Ade Rai saat ditemui di Central

