Baru-baru ini ketika pergi ke Gorontalo naik pesawat terbang B 737-200 milik salah satu maskapai penerbangan nasional, iseng-iseng saya membuka-buka katalog belanja yang diletakkan di depan kursi. Dari berbagai macam barang yang ditawarkan di situ, ada sesuatu yang cukup menarik dan agak lain sendiri. Apa itu? CD musik!
Sebenarnya kehadiran CD musik sebagai salah satu barang yang dijual dalam sebuah penerbangan bukanlah hal yang benar-benar baru. Seingat saya, dalam perjalanan sebelumnya dengan menggunakan jasa maskapai yang sama beberapa bulan lalu, CD musik sudah ikut ditawarkan. Tapi bedanya waktu itu baru satu judul saja. Sekarang rupanya sudah ada penambahan. Kalau sebelumnya yang ditawarkan hanya CD album milik Yuni Shara saja, kini sudah bertambah dengan dua album lain lagi. Kedua album baru itu masing-masing milik Panbers dan Rinto Harahap. Harganya? Sama semua, 25 ribu rupiah per CD. Harga yang tergolong lebih murah ketimbang harga CD musik di pasaran yang berada di kisaran 35-40 ribu rupiah.
Meskipun CD musik yang ditawarkan itu bukanlah favorit saya namun kehadirannya di dalam pesawat cukup menggembirakan saya. Saya melihat penawaran CD musik di udara seperti itu merupakan sebuah terobosan yang cukup menarik dalam bisnis rekaman musik di Tanah Air dan in-flight shopping. Saya bukan orang yang sering bepergian ke mana-mana dengan menggunakan pesawat terbang, tapi setahu saya sejauh ini baru maskapai penerbangan berkode SJ itu saja yang menawarkan CD musik dalam katalog belanja semasa terbangnya. Sementara maskapai lain, sepertinya masih belum. Atau mungkin sudah? Koreksilah jika saya salah soal itu.
Yang jelas, adanya penjualan CD musik dalam sebuah penerbangan seperti itu berarti telah membuka jalur alternatif baru kepada para pecinta musik yang ingin membeli CD orisinal ketika sedang berada di dalam pesawat terbang. Apalagi jika semakin banyak judul album yang ditawarkan. Meskipun belum ada data jelas soal angka penjualannya, namun telah bertambahnya judul CD musik yang dijual itu setidaknya bisa jadi indikasi awal yang menunjukkan cukup prospektifnya jalur penjualan tersebut.
Sambil menunggu gebrakan inovasi dari toko kaset dan CD konvensional, sepertinya penjualan CD musik di pesawat bisa jadi salah satu alternatif yang potensial bila digarap dengan maksimal. Sayang bila dilewatkan begitu saja.
Tidak cukup hanya sekadar memajang gambar album CD-nya di katalog saja, tapi juga perlu menunjangnya dengan strategi promosi yang dilakukan dalam pesawat terbang juga. Misalnya, untuk pesawat terbang yang sudah dilengkapi dengan fasilitas in-flight entertainment atau hiburan semasa terbang lengkap dengan monitor kecil pada setiap kursinya, pihak label rekaman bisa bekerja sama dengan pihak maskapai untuk menyediakan klip video dan potongan lagu terkait untuk bisa dipilih dan dinikmati oleh setiap penumpang.
Bagaimana dengan pesawat terbang yang belum punya fasilitas in-flight entertainment? Masih ada cara lain yang sebenarnya sudah dilakukan beberapa maskapai tertentu selama ini. Pengeras suara (speaker) yang sudah terpasang (biasa digunakan untuk menyampaikan pengumuman dari awak pesawat) bisa dimanfaatkan untuk menyetel lagu-lagu dari album yang sedang ditawarkan. Siapa tahu ada yang tertarik untuk membelinya. Hitung-hitung sambil memberikan hiburan kepada para penumpang sepanjang penerbangan. Tapi untuk yang cara yang satu ini, pihak maskapai harus lebih selektif memilih lagu. Jangan sampai gara-gara lagu yang diputar, para penumpang justru jadi bermimpi buruk atau stres berat…
