Benny Chandra
  • Beberapa hari lalu, ada sebuah sebuah kicauan di akun Piyu Padi di Twitter yang menarik perhatian saya. Apa itu? Soal rencana peluncuran bukunya. Piyu menulis buku? Wah!

    Kenapa tiba-tiba gitaris PadI yang bernama lengkap Satriyo Yudi Wahono itu bikin buku? Kenapa dia lebih memilih meluncurkan bukunya lebih dulu ketimbang album solo, yang umumnya selalu jadi sebuah kebanggaan setiap gitaris? Bagaimana pula dengan PadI dan kelanjutan penggarapan album setelah single “Terbakar Cemburu” diluncurkan beberapa bulan lalu? Betulkan PadI harus istirahat dulu? Kenapa?

    Sederet pertanyaan itu yang langsung muncul di benak kepala saya. Untunglah semuanya bisa segera mendapatkan jawabannya ketika saya berhasil menghubungi Piyu. Berikut ini adalah cuplikan hasil obrolan via telepon antara saya (Benny Chandra) dengan Piyu kemarin siang (11/12).

    Kabarnya mau ngeluarin buku ya?
    Iya, aku mau keluarin buku. Sudah selesai sih semuanya. Proses layout dan segala macam lainnya sudah selesai. Tinggal menunggu

    Selengkapnya »dari Piyu Soal Buku, Album Solo, dan Nasib PadI
  • Umumnya, memasang hasil berfoto di depan pesawat terbang yang sedang parkir sebagai sampul album rekaman, bukanlah sesuatu yang akan tampak aneh. Tapi tidak demikian jika yang ada di dalam foto itu adalah para personel White Shoes & The Couples Company yang sedang bergaya di depan sebuah Boeing 737-900ER milik salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Kenapa begitu?

    Coba perhatikan. Yang pertama adalah grup musik unik yang selama ini mencitrakan diri serba jadul (“jaman dulu”), sedangkan satunya lagi adalah pesawat terbang berteknologi modern yang tergolong lumayan baru. Meskipun mungkin ingin menyesuaikan dengan judul album baru rilisan tahun 2010 ini, Album Vakansi, namun rasanya sampul album dengan foto seperti itu malah cukup mengganggu pencitraan White Shoes & The Couples Company selama ini. Akan lebih cocok jika pesawat terbang yang dipilih juga yang model jadul.

    Untunglah musik yang ditawarkan oleh band yang terdiri dari Aprilia Apsari (vokal), Yusmario Farabi (gitar), Saleh

    Selengkapnya »dari Sampul Album yang Mengganggu Pencitraan
  • Agar lagunya mudah dikenali dan untuk membedakannya dengan yang lain, biasanya (dan seharusnya) setiap penyanyi solo atau grup musik memiliki modal penting berupa ciri yang khas. Entah itu dalam bentuk suara vokalisnya atau musiknya.

    Alexa, salah satu grup musik Indonesia yang terdiri dari Aqi (vokal), Jar (drum, perkusi), Jmono (bas), Rizki (gitar), dan satrio (gitar) sebenarnya memiliki modal itu. Dengar saja lagu-lagu mereka, ada ciri khas yang terdengar dari suara Aqi, sang vokalis.

    Bagaimana dengan jenis musiknya? Cukup sulit mengidentifikasi sesuatu yang khas dari musik yang mereka suguhkan. Termasuk dari 13 lagu dalam album baru mereka, Edisi II, ini. Di samping jenis musik yang diusung sekarang makin bervariasi, kombinasi antara pop dan rock, juga tidak terasa ada ‘benang merah’ di antara lagu-lagu mereka. Musiknya yang semakin didominasi oleh nuansa rock terkadang menenggelamkan suara sang vokalis yang sebenarnya lebih cocok untuk lagu pop. Coba simak secara lengkap mulai

    Selengkapnya »dari Mencari Ciri Khas Alexa
  • Belakangan ini makin rutin saja artis musik mancanegara menggelar konser di Indonesia. Tidak hanya berhenti sampai bulan lalu saja, tapi juga ternyata berlanjut hingga tahun depan. Lihat saja, mulai dari bulan Desember tahun 2010 ini hingga April 2011 saja, sudah ‘antre’ sejumlah musisi mancanegara kondang yang dipastikan akan menggelar pertunjukan di sini. Mulai dari Lifehouse, Rivermaya, Matt Bianco, dan Mew di bulan Desember 2010, Four Year Strong, Set Your Goals (Januari 2011), Deftones, New Found Glory, Bring Me The Horizon, Iron Maiden (Februari 2011), hingga Maroon 5 (April 2011). Itu masih belum termasuk sederet nama besar lain seperti Santana, Fourplay, serta beberapa artis beken lain yang dijadwalkan akan manggung di Java Jazz Festival 2011 pada awal Maret 2011 mendatang di Jakarta.

    Ramainya kedatangan musisi kondang dari luar negeri seharusnya tidak hanya menyenangkan para penggemarnya di sini tapi juga bisa memberikan kesempatan bagi musisi lokal untuk menjadi opening acts

    Selengkapnya »dari Pintar-pintarlah Pilih Pembuka Konser
  • Akhirnya albumnya dirilis juga! Ketika pertama kali mengetahui bahwa Sandhy Sondoro (akhirnya) akan merilis album baru di sini, saya senang dan sempat mengira dia juga akan menyertakan beberapa lagunya yang sebelumnya termuat dalam sejumlah album terpisah. Sebut saja seperti Malam Biru yang diedarkan dalam bentuk album kompilasi Jazz In The City with Sandhy Sondoro dan Gejolak Cinta yang termuat dalam albumnya Indah Dewi Pertiwi. Ternyata tidak demikian.

    Albumnya yang bertajuk sama dengan namanya ini, Sandhy Sondoro, rupanya hanya semacam album kemasan ulang (repackage) yang ditambah bonus dua lagu baru. Album kemas ulang? Iya. Tepatnya kemasan ulang dari album Why Don’t We yang sudah pernah dirilis oleh sebuah perusahaan rekaman Jerman bernama Revolver Distribution Services pada bulan April 2008 lalu untuk diedarkan di Jerman dan Austria ketika ia masih menetap di Berlin, Jerman. Ditambah dua lagu baru itu, total ada 14 lagu ciptaan Sandhy Sondoro yang termuat dalam album berkover

    Selengkapnya »dari Album Metamorfosis Sandhy Sondoro
  • Ada berbagai cara yang bisa dan biasa dilakukan oleh seorang penyanyi atau grup musik untuk menyenangkan penonton yang sudah datang. Tidak hanya sekadar bernyanyi dengan baik dan tanpa lipsync, menyusun setlist memukau, atau memberikan bonus berupa encore yang menawan, tapi juga bisa dalam bentuk lain. 

    Membangun komunikasi dengan penonton, misalnya. Ini tidak kalah penting. Jangan hanya terus-terusan sekadar beraksi di atas panggung tanpa peduli ada penonton yang sedang menyaksikan di bawah sana.

    Bentuk komunikasi bisa macam-macam. Salah satu yang paling umum atau sering dilakukan adalah menyapa penonton dengan menggunakan bahasa lokal. Cara ini paling sering dipakai oleh penyanyi atau grup musik asing ketika menggelar konser di Indonesia. Biasanya mereka akan menyapa penonton dengan ucapan dalam bahasa Indonesia seperti “Selamat Malam!”, “Apa kabar Jakarta?”, “Apa kabar Indonesia?” dan sebagainya.

    Sementara penyanyi yang sedang tampil di luar Jakarta, sering menggunakan sapaan

    Selengkapnya »dari Cara Klasik Menyenangkan Penonton
  • Berbahagialah Anda yang sudah memegang tiket konser David Foster & Friends di Jakarta dan siap larut dalam pertunjukannya. Dalam minggu-minggu ini, jadwal dia dan rombongannya memang menggelar konsernya di sejumlah kota di Asia. Setelah dari Jepang, mereka menuju Manila dan Bangkok, kemudian Jakarta, lantas selanjutnya menggelar konser di Singapura selama dua hari.

    Semakin mendekati waktu konsernya di Jakarta, nampaknya tidak sedikit orang yang tiba-tiba jadi demam David Foster. Entah itu karena mendadak jadi penggemar berat, tetap berburu tiket meskipun kabarnya sold out, atau sekadar bermimpi bisa membeli tiketnya yang harganya tergolong tinggi.

    Saya sendiri jadi ikut terpengaruh dengan demam itu, meskipun tidak termasuk orang yang sudah memegang tiketnya. Yang jelas, sudah cukup lama saya menggemari karya-karya dari David Foster, tapi memang tidak terlalu mengikuti informasi tentang kehidupan pribadinya secara detail.

    Nah, tiba-tiba saya jadi iseng mencari tahu sana-sini soal

    Selengkapnya »dari 6 Hal yang Mungkin Anda Belum Tahu tentang David Foster
  • Minggu lalu, tiba-tiba seorang teman bercerita bahwa dia baru saja mendengar di radio ada lagu Bunga Citra Lestari (BCL) yang dinyanyikan oleh Once Mekel. Once mendaur ulang lagunya BCL? Hmm, sulit dipercaya.

    Sempat terpikir, mungkin yang didengar oleh sang teman tadi adalah Pasti Untukmu, single terbaru Once yang belakangan ini memang sedang sering diputar di berbagai radio. Tapi, setahu saya itu bukanlah lagu lama, apalagi pernah dinyanyikan Bunga Citra Lestari. Di sisi lain, Blub, teman saya itu, tetap yakin bahwa yang didengarnya adalah lagu milik BCL.

    Dari potongan lirik yang masih diingatnya, akhirnya saya mengenali lagu yang dimaksud. Yaitu, Karena Ku Cinta Kau, salah satu lagu yang ikut melejitkan nama BCL di dunia musik. Tapi saya masih penasaran, kenapa Once ikut menyanyikan lagu yang menjadi lagu tema sebuah sinetron itu juga? Mendaur ulang lagu memang bukan hal yang baru bagi Once, tapi kenapa memilih lagu itu?

    Saya mencoba googling untuk mencari tahu apa yang sebenarnya

    Selengkapnya »dari Antara Once dan ‘Bekas Lagunya’ BCL
  • Dibandingkan dengan sajian lagu-lagu dan deretan bintang tamunya, ada hal lain yang lebih menarik perhatian saat menyaksikan siaran langsung konser Ungu beberapa hari lalu di RCTI. Apa itu? Encore atau bisa juga disebut pertunjukan tambahan dalam sebuah konser. Di ujung acara, ternyata Ungu menyajikan encore, sesuatu yang tidak biasa dalam sebuah konser yang diadakan khusus untuk ditayangkan di televisi seperti itu. 

     

    Usai menyanyikan Saat Indah Bersamamu bareng seluruh artis pendukung, penonton yang ada di dalam studio tempat berlangsungnya konser itu seperti dipancing oleh pembawa acara untuk minta tambah lagu kepada para personal Ungu yang seakan-akan sedang bersiap meninggalkan panggung. Gampang ditebak, akhirnya ‘permintaan’ itu pun dikabulkan. Dan para personil Ungu pun kembali manggung dengan mengusung I Need You dari album terbaru mereka sebagai encore malam itu.

    Sekilas memang proses menutup sebuah konser dengan encore seperti yang dilakukan Ungu tadi terlihat bagaikan drama
    Selengkapnya »dari “Encore” yang Ideal
  • Setelah sempat kesulitan memperolehnya, akhirnya CD album mini Mocca rilisan tahun 2010 ini bisa juga terbeli. Itu pun saya membelinya di salah satu toko buku di Jakarta Selatan. Sementara di toko CD dan kaset yang jaringannya ada di mana-mana itu malah masih kosong, termasuk yang di Jakarta. Hmm…

    Albumnya sendiri dikemas dalam amplop kuning yang di bagian depannya hanya ada tulisan “Dear Friends” saja. Kalau dilihat sekilas tanpa memerhatikan stiker harga jual yang ada di plastik pembungkusnya, mungkin agak sulit mengenalinya sebagai sebuah album dari Mocca. Seperti sebuah amplop misterius. Untunglah masih ada stiker penutup amplop di bagian belakang yang bergambar logo grup musik asal Bandung itu yang bisa menyingkirkan kebingungan tersebut.

    Hal lain yang tidak kalah misterius dari album ini adalah judulnya. Awalnya saya mengira judul album ini adalah “Dear Friends”, sesuai dengan tulisan yang tertera di amplop kuning tadi. Tapi kemudian saya mulai ragu-ragu ketika menjumpai

    Selengkapnya »dari MIsteri Album Mini Mocca

Penomoran Halaman

(119 Artikel)