Benny Chandra
  • Tiga tahun penantian para penggemar terhadap album baru Anggun rasanya tidak sia-sia. Dibandingkan dengan album sebelumnya, ada yang berbeda di album "Echoes" ini. Jika album "Elevation" (2008) didominasi lagu-lagu berirama rancak, sekarang Anggun lebih banyak menawarkan tembang yang bernuansa easy listening atau cenderung berirama lembut.

    Foto oleh Benny Chandra

    Kesan itu sudah terasa sejak awal saat album penyanyi cewek bernama lengkap Anggun Cipta Sasmi ini dibuka dengan "Buy Me Happiness". Lagu ciptaan Anggun, Vincent Baguian, Jean-Pierre Pilot, dan William Rousseau ini terdengar unik karena seolah-olah menghadirkan dua suara penyanyi berbeda yang saling bersahutan. Selanjutnya langsung disusul oleh "Hanyalah Cinta" (Anggun, Marie Bastide, dan Gioacchino Maurici), salah satu lagu jagoan lain yang iramanya juga segera memikat pendengaran.

    Selengkapnya »dari Album ‘Easy Listening’ Sarat Makna Ala Anggun
  • Ketika "Harmoni" pertama kali muncul pada awal 2010 silam, saya hampir selalu berusaha menyaksikannya. Bahkan, saking tidak ingin terlambat semenit pun, sering kali saya harus tabah (alias terpaksa) menyaksikan juga sinetron yang biasa disetel persis sebelum jam tayang acara musik itu.

    "Harmoni" pada mulanya datang dengan konsep cukup kuat dan ciri khas tersendiri. Acara ini menampilkan kolaborasi musisi dan penyanyi Indonesia — baik yang papan atas maupun pendatang baru. Mereka bernyanyi diiringi Magenta Orchestra pimpinan Andi Rianto, dengan aransemen yang baru, beda, dan sering lebih menarik ketimbang aslinya.

    Jam tayangnya pun unik: tiap tanggal 20 pada pukul 22.00 WIB. Dan tidak ada penayangan ulang.

    Meskipun mengingatkan pada konsep konser "David Foster & Friends", namun apa yang dihadirkan "Harmoni" pada saat itu terbilang sebuah sajian segar di antara berbagai acara musik televisi di Tanah Air yang hampir seragam konsep dan jam tayangnya.

    Sayangnya, acara tersebut semakin lama semakin tidak jelas konsepnya. Ciri khas yang menjadi kekuatannya sejak awal semakin memudar karena tergoda berbagai hal kurang penting. Mulai dari penggunaan tema setiap episode — yang pelaksanaannya kurang pas — hingga pemilihan penyanyi dan lagu yang semakin longgar.

    Selengkapnya »dari Yang Membuat Sebuah Acara Musik Tak Menarik Lagi
  • Membeli barang orisinal, asli, resmi, atau bukan bajakan itu (seharusnya) bisa memberikan ketenangan, kenyamanan, dan kepuasan tersendiri ketimbang yang tidak orisinal, tidak asli, tidak resmi, atau malah bajakan. Minimal, ada garansi atau jaminan yang jelas jika barang yang dibeli tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan secara normal. Entah itu berupa pengembalian uang atau pun penggantian dengan barang bertipe sama atau sejenis yang berkondisi lebih baik. Biasanya alasan semacam itu yang turut diusung oleh pihak yang sering mendengung-dengungkan slogan  “stop pembajakan” atau semacamnya.

    Bagaimana dengan CD album musik orisinal yang dijual di sini? Adakah garansi semacam itu bagi pembelinya? Mau tahu jawabannya?  

    Ketika belum lama ini harus mengembalikan CD album Something About the Girl-nya Dira Sugandi yang tersendat-sendat ketika disetel, saya sempat agak ragu bisa berhasil. Beruntunglah kali ini penjaga toko CD dan DVD itu mau menukarkannya dengan album yang sama.

    Kenapa saya

    Selengkapnya »dari Nasib Sial Pembeli CD Orisinal
  • Kemarin saya tidak sengaja menemukan tampilan lain dari sebuah toko online milik jaringan toko musik lokal terkenal. Sepertinya, tampilan baru itu masih berupa rancangan, karena diletakkan sementara di subdomain. Domain utamanya sendiri, hingga tulisan ini selesai saya ketik, masih menggunakan tampilan lama.

    Selain lebih tertata rapi dengan fasilitas pencarian yang lebih akurat, tampilan versi baru itu sudah dilengkapi pula dengan sejumlah fitur dan layanan baru. Di tiap halaman produk  musik, misalnya, tersedia tombol untuk berbagi info via Facebook dan Twitter. Para pengunjung juga bisa menuliskan resensi atau komentarnya langsung di halaman itu.

    Tetapi hal baru yang paling menarik perhatian saya adalah tersedianya pilihan untuk membeli lagu versi digital secara satuan — selain versi fisik berbentuk cakram padat (compact disc). Istilah yang digunakan adalah “Digital Download”.

    Kenapa menarik? Bagi sebuah toko musik online lokal yang berangkat dari gerai konvensional, berjualan lagu

    Selengkapnya »dari Lagu Digital Eceran di Toko Musik Online Lokal
  • Dalam penerbangan belum lama ini dengan sebuah maskapai penerbangan asal Hongkong, iseng-iseng saya menelusuri satu per satu isi berbagai kanal hiburan semasa terbang (in-flight entertainment). Hitung-hitung sambil menghabiskan waktu, mengingat durasi perjalanan memakan waktu hampir lima jam.

    Saat sedang melihat-lihat menu hiburan yang ditawarkan, tidak disangka saya menemukan foto Ruth Sahanaya, penyanyi senior Indonesia, terpampang di salah satu kanal musiknya. Tepatnya di kategori Radio. Awalnya saya merasa senang sekaligus bangga melihat keberadaan penyanyi Indonesia di kanal hiburan itu.

    Apalagi tidak hanya fotonya yang ada tapi juga dua lagunya — bersama lagu Indonesia lainnya ditambah dengan beberapa lagu dari negara tetangga. Namun rasa bangga itu berkurang dan bercampur rasa prihatin begitu saya menyadari bahwa kanal musik lagu-lagu Indonesia itu diberi label “Malay Hits”.

    Padahal di daftar putarnya, jumlah lagu Malaysia dan Singapura jauh lebih sedikit dibandingkan dengan

    Selengkapnya »dari Nasib Lagu Indonesia di Kanal Hiburan Maskapai Asing
  • Setiap makhluk membutuhkan cinta.
    Sayangnya, tak setiap saat cinta itu ada.
    Di manakah cinta?
    Perlukah kita arungi samudra angkasa mencari planet cinta?
    Satu jawabnya…
    Hati, adalah planet cinta kita

    Itulah kata-kata yang tercantum pada halaman pertama dan terakhir buklet yang disertakan dalam album Planet Cinta milik Naif. Melihat judul dan rangkaian kata-kata seperti itu, album ini sepertinya cukup menjanjikan. Apalagi setelah menengok lirik-lirik lagu yang tercantum dalam buklet.

    Ada sisi romantis, tapi tidak melulu rayuan gombal tingkat tinggi seperti lagu cinta pada umumnya. Mereka menawarkan sisi lain seputar kisah cinta yang lebih membumi.

    Namun sangkaan positif terhadap album ini tadi segera memudar ketika saya mulai menyetel lagu pertama berjudul “Cuek”, yang berisi soal kecuekan seorang pria terhadap seorang wanita cantik. Syairnya sendiri sih cukup menarik:

    Jangan kau marah padaku bila ku diam.
    Ku tak ada hati, bukan ku menghina.
    Engkau memang cantik,
    Namun bagaimana kalau ku

    Selengkapnya »dari Parade Cinta Naif Terhadap Lagu Penyanyi Lain?
  • Selama ini, konser musik akbar di Tanah Air seperti satu paket dengan sponsor yang berasal dari merek rokok. Hampir selalu yang menjadi main sponsor atau sponsor utama, bahkan title sponsor (menjadi bagian dari judul acara), adalah sejumlah merek rokok terkenal dari perusahaan besar di Indonesia.

    Tapi keadaan itu sepertinya mulai berubah sejak beberapa tahun terakhir. Dominasi keberadaan merek rokok sebagai sponsor konser musik akbar berkurang secara perlahan dan digeser oleh merek-merek selain rokok. Salah satu pemicu utamanya bisa jadi adalah desakan berbagai LSM dan penolakan sejumlah musisi asing yang tidak ingin konsernya di Indonesia, khususnya yang terbuka bagi penonton segala umur, disponsori oleh merek produk tembakau.

    Seiring dengan makin ramai dan rutinnya konser musik besar digelar belakangan ini, tampaknya semakin marak juga serbuan sponsor dari merek di luar rokok. Untuk tahun lalu, misalnya, kartu kredit BCA tercatat mensponsori konser Michael Bolton dan Kenny G (secara

    Selengkapnya »dari Serbuan Sponsor Non-Rokok di Konser Akbar
  • Jakarta International Java Jazz Festival kembali akan digelar di akhir minggu ini di JIExpo, Jakarta. Asal tahu saja, tahun 2011 ini adalah penyelenggaraannya yang ke-7. Bagi yang sudah pernah datang di tahun-tahun sebelumnya, tentunya tahu supaya lebih maksimal dan nyaman dalam menikmati festival yang seringkali hanya disebut sebagai “Java Jazz” atau “Java Jazz Festival” itu tidak cukup datang hanya bermodal tiket saja. Perlu ada sedikit persiapan kecil-kecilan.

    Nah, untuk mengingatkan yang sudah pernah datang dan juga membantu mereka yang tahun ini baru pertama kalinya akan berkunjung, berikut ini saya coba rangkaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar lebih nyaman menonton Java Jazz Festival tahun ini.

    1. Pelajari jadwal pertunjukannya.
    Mengingat jumlah pertunjukannya sangat banyak, sekitar 60 show per hari, sangatlah penting untuk mengetahui jadwal lengkapnya sebelum datang menonton. Seleksilah pertunjukan artis yang mana saja yang akan ditonton. Perhatikan juga jam, nama

    Selengkapnya »dari Biar Nyaman Nonton Java Jazz Festival
  • Awalnya, sebenarnya saya tidak berencana untuk buru-buru membeli buku bertajuk lengkap “Piyu From the Inside Out: Life, Passion, Dreams, and His Legacy” ini. Pasalnya, kekecewaan saya terhadap buku-buku berbau biografi masih belum hilang setelah belum lama ini membaca versi bahasa Indonesia dari memoarnya David Foster yang terjemahan dan suntingannya lumayan menyedihkan itu.

    Tapi ketika belum lama ini mampir ke sebuah toko buku dan sempat mengintip isi buku ini, pendirian saya jadi agak goyah. Saat itu, salah satu halaman yang saya buka secara acak ternyata memuat sepotong cerita soal peristiwa di Jember sewaktu Piyu menjadi teknisinya Andra “Dewa 19” untuk tur konser Dewa 19 beberapa tahun lalu (halaman 56). Déjà vu! Saya jadi ingat, kebetulan waktu itu saya juga –mewakili sebuah majalah remaja– ikut dalam rombongan yang sama, tinggal di hotel yang sama, dan sempat bertemu Piyu juga ketika berkunjung ke kamar Andra juga untuk memotret gitaris Dewa 19 itu sedang bermain PlayStation.

    Selengkapnya »dari Seperti Mendengarkan Piyu Bercerita
  • Grammy Awards ke-53 memang telah berlalu, tapi mungkin sampai sekarang masih ada yang belum hilang rasa terkejutnya ketika Esperanza Spalding diumumkan sebagai Artis Pendatang Baru Terbaik (Best New Artist), mengungguli beberapa nama lain seperti Mumford & Sons, Florence & The Machine, serta yang terbilang lebih populer macam Drake dan… Justin Bieber. Benar-benar sebuah kejutan.

    Saya sendiri termasuk orang yang tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Tapi setelah mencari tahu lebih lanjut dan menyaksikan rekaman pertunjukan Esperanza Spalding, saya rasa penyanyi yang juga pemain bas jazz itu memang pantas menyandang gelar terbaik dari acara tahunan yang diselenggarakan oleh National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS) atau The Recording Academy tersebut meskipun tetap saja harus diakui selama ini dia memang tergolong kurang populer.

    Namun, di luar semua itu, sebenarnya ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Bahkan mungkin bisa berguna juga bagi

    Selengkapnya »dari Yang Terbaik, Bukan yang Terpopuler

Penomoran Halaman

(118 Artikel)