Benny Chandra

  • Ketemu David Foster, Putri Ayu Mau PingsanMinggu lalu, di saat harapan saya terhadap masa depan dunia musik Indonesia meredup, tiba-tiba dari Twitter saya mendapatkan tautan rekaman video penampilan Putri Ayu bersama David Foster di Jakarta belum lama ini.

    Sesuatu yang langsung menyegarkan suasana hati.

    Saya memang sebelumnya berharap Putri Ayu lolos sebagai salah salah satu peserta kompetisi “Born to Sing” wilayah Asia yang akan tampil bareng David Foster. Sekarang, bisa menyaksikan penampilannya (meski tidak langsung) di atas panggung bersama sang legenda tentunya menambah bahagia.

    Apalagi dalam rekaman itu, David Foster tampak sempat terpana ketika mendengar tarikan suara Putri Ayu. Sudah begitu, musisi kondang asal Kanada itu masih memberikan pujian khusus, “Great job! Kamu punya masa depan yang hebat!”

    Walau Putri Ayu Silaen, 14 tahun, tampil terlalu banyak bergerak di atas panggung, saya sangat setuju dengan David Foster. Secara keseluruhan, penampilan Putri Ayu pada malam itu di Jakarta dengan lagu “Time to Say Goodbye

    Selengkapnya »dari Setelah Putri Ayu Bertemu David Foster
  • Selama ini, saya berusaha selalu mendukung dan menaruh harapan besar terhadap perkembangan musik Indonesia. Tapi, dukungan dan harapan itu jadi terusik ketika sejumlah musisi papan atas Indonesia beramai-ramai meminta layanan nada sambung pribadi (ringback tone, RBT) jangan dimatikan.

    Awalnya saya mengira mereka memprotes persentase pembagian hasil keuntungan — yang konon selama ini tidak seimbang antara pihak operator dan musisi. Atau mungkin, mereka hendak menyampaikan keluhan masyarakat yang pulsanya terpotong otomatis ketika berlangganan RBT tanpa konfirmasi.

    Sayangnya saya salah. Mereka justru menyatakan keberatan terhadap surat edaran Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengenai rencana penghentian sementara layanan RBT. Mereka minta layanan RBT harus tetap berlangsung.

    Seperti dikutip berbagai media, ada sederet alasan. Mulai dari “mereka hanya mengandalkan pendapatan dari RBT untuk hidup”, “RBT adalah salah satu sarana karya kita didengar”, “RBT dihentikan, konsumen

    Selengkapnya »dari Buaian RBT yang (Masih) Melenakan

  • Apa yang terjadi bila seorang bintang rock legendaris berkolaborasi dengan sejumlah musisi dari berbagai generasi dan aliran musik? Hasilnya adalah sebuah band unik dan album berisi 12 lagu dengan aneka ragam genre musik.

    Bintang rock yang dimaksud tidak lain adalah Sir Michael Philip Jagger alias Mick Jagger. Ia menggandeng nama-nama “kelas berat” seperti Joss Stone (peraih Grammy Award), Dave Stewart (gitaris Eurythmics), Damian “Jr Gong” Marley (penyanyi reggae, Grammy Awards), dan AR Rahman (komposer “Slumdog Millionaire”) untuk bergabung dalam band SuperHeavy.

    Nama band yang diumumkan secara resmi pada Mei 2011 ini konon diilhami dari juara dunia tinju kelas berat Muhammad Ali.

    Menyatukan para nama “kelas berat” dalam dunia musik dalam sebuah band tentu tidak gampang. Tetapi hasilnya tidak mengecewakan. Isi album “SuperHeavy” tidak kalah unik.

    Ketika pada awalnya mendengar lagu macam “SuperHeavy”, “Miracle Worker”, dan “Beautiful People” yang berirama reggae dengan tambahan unsur rap

    Selengkapnya »dari Album Gado-gado Sang Rockstar
  • Beberapa minggu belakangan, setiap Sabtu malam, saya rajin nongkrong di depan televisi untuk menonton sebuah drama musikal di salah satu televisi dalam negeri.

    Padahal selama ini saya bukan penggemar drama yang memadukan dialog dengan tarian dan nyanyian.

    Saya melihat ada sejumlah hal menarik yang ditawarkan drama seri televisi bertajuk “The Kitchen Musical” itu. Yang pertama, tema. Dari judulnya saja bisa langsung ditebak bahwa tema yang diusung adalah seputar masak-memasak. Tepatnya soal dunia koki di sebuah restoran terkenal, The Avilon.

    Yang kedua, pemilihan lagu yang dihadirkan. Sejauh ini, rata-rata lagu yang muncul dalam drama televisi itu tergolong sangat populer sehingga makin memudahkan yang menonton untuk mencernanya. Apalagi semuanya hadir dengan aransemen baru.

    Dimulai dari “Boom Boom Pow” milik The Black Eyed Peas yang menjadi semacam lagu tema, kemudian dalam setiap episode setidaknya ada 2-3 lagu keren yang tampil lewat aksi para pemainnya.

    Beberapa lagu yang sudah

    Selengkapnya »dari Jangan Ada Diskotek di Dapur Itu
  • Sekitar dua bulan lalu tersiar berita, seorang penyanyi sekaligus pemain sinetron akan menjual album musik perdananya lewat ribuan gerai milik jaringan pom bensin dalam negeri.

    Saya menyambut positif terobosan tersebut (tapi bukan karena faktor pesinetron yang mendadak jadi penyanyi itu).

    Berjualan album di pom bensin adalah terobosan dalam distribusi album musik di Indonesia, dan merupakan strategi lanjutan dari berjualan album lewat jaringan restoran siap saji (yang terbilang sukses bagi salah seorang penyanyi).

    Jika cara kali ini berjalan lancar, tentunya dapat memicu pula pelaku industri musik lain untuk lebih bersemangat dalam mencari terobosan pemasaran lainnya di samping jalur konvensional.

    Di atas kertas, menggandeng jaringan pom bensin merek dalam negeri (yang punya ribuan pom yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia) tampak sangat menjanjikan. Pangsa pasarnya juga sangat luas. Tapi sayangnya, kenyataan di lapangan tidak atau belum seindah itu. Setidaknya, berdasarkan apa yang

    Selengkapnya »dari Setengah Hati Berjualan Album di Pom Bensin

  • Pengumuman bubarnya R.E.M. beberapa hari lalu memang sangat mengejutkan. Banyak yang tidak menyangka Michael Stipe, Peter Buck, dan Mike Mills lebih memilih menghentikan 31 tahun perjalanan grup musik mereka ketimbang menggantungkan status dalam ketidakjelasan seperti yang terjadi dengan beberapa grup musik besar lain.

    Meski sangat disayangkan, keputusan itu patut dihormati. Bahkan apa yang dilakukan mereka mungkin bisa menjadi renungan dan pertimbangan bagi grup musik lain yang masih terombang-ambing antara vakum jangka panjang atau bubar.

    Selain itu, ada hal lain dari pengumuman pembubaran grup musik kondang tersebut yang juga patut menjadi pelajaran, terutama bagi kalangan musisi atau grup musik. Apakah itu?

    Pada hari itu (21/9) terlihat bahwa rata-rata isi pemberitaan tentang pembubaran tersebut tidak ada yang berasal dari hasil wawancara langsung dengan para personel R.E.M. atau juru bicaranya sekalipun. Bisa dibilang, semua media seperti diarahkan untuk mengutip dari sumber yang

    Selengkapnya »dari Belajar (Mengumumkan) Bubar dari R.E.M.
  • Foto: Benny Chandra

    Umumnya, pada setiap buku yang beredar resmi di Tanah Air tertera kutipan pasal tertentu dari Undang-Undang Hak Cipta sebagai peringatan agar tidak dibajak. Bagaimana dengan CD atau album musik?

    Meskipun tidak sampai memasang kutipan pasal terkait, sebenarnya pada (hampir) setiap sampul album musik yang beredar di Indonesia tercantum peringatan serupa. Bahkan jika diperhatikan lebih jauh, ternyata ada sejumlah hal menarik seputar itu.

    Selengkapnya »dari Peringatan Pada Album Musik
  • Foto oleh Benny Chandra

    Bisakah musisi Indonesia menyuguhkan rekaman nomor-nomor jazz sekelas permainan musisi mancanegara tanpa harus memasukkan unsur etnik sebagai andalan utama? Atau tanpa harus berkompromi habis-habisan dengan unsur musik pop atau lainnya sehingga unsur jazz hanya terkesan sebagai pelengkap?

    Itulah yang sempat menjadi pertanyaan saya sebelum menyetel CD album "Love Life Wisdom" milik LLW (Lesmana Likumahuwa Winarta) ini.

    Jawabannya sudah bisa terbayang sejak lagu pertama di album ini bergulir. Mendengarkan "Back Into Sumthin" langsung terasa seperti sedang berada dalam sebuah pertunjukan musik jazz di kafe atau lounge. Terasa dekat, hidup, dan nyaman di kuping.

    Selengkapnya »dari Album Jazz Bergizi dari LLW
  • Menonton konser di bioskop. Itulah yang ditawarkan Red Hot Chili Peppers (RHCP) kepada para penggemar di hampir seluruh dunia sebagai acara peluncuran album terbaru mereka, "I'm With You", pada 30 Agustus 2011.

    Saat itu, para penggemar di berbagai negara dapat menyaksikan aksi panggung RHCP mengusung lagu-lagu baru mereka lewat layar bioskop yang disiarkan via satelit dari lokasi pertunjukan di Jerman. Dari 39 negara yang terdaftar, sebagian akan menayangkannya pada hari itu juga, sebagian lagi di hari lain. Yang jelas, konser tersebut bukan ditayangkan lewat televisi, tapi — sekali lagi — di bioskop. Itulah istimewanya.

    Tiba-tiba saya teringat dengan perkembangan dunia pertunjukan musik di Tanah Air, khususnya menyangkut kehadiran musisi mancanegara. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai konser akbar terus digelar seakan tak ada putusnya. Tapi sayangnya, sebagian besar rangkaian konser itu hanya digelar di Jakarta, dan sesekali di Pulau Bali dan Surabaya. Padahal tidak sedikit para

    Selengkapnya »dari Menonton Konser di Bioskop? Mengapa Tidak?
  • Pekan lalu sebuah kabar tiba-tiba muncul mengenai pembatalan konser All Time Low di Jakarta yang seharusnya berlangsung pada awal Oktober 2011, sebagai imbas dari pembatalan acara "Soundwave Revolution" di Australia.

    Di antara begitu derasnya kedatangan musisi mancanegara ke Indonesia belakangan ini, pembatalan tersebut cukup mengejutkan dan mengecewakan, terutama bagi mereka yang sudah membeli tiket.

    Pembatalan konser memang sebuah hal yang sangat mungkin terjadi dalam dunia pertunjukan. Yang lebih penting adalah bagaimana sikap promotor pertunjukannya menangani kejadian seperti itu. Sepanjang proses pengembalian uang kepada penonton bisa berjalan lancar dan tanpa ada pemotongan sedikit pun, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

    Jika sedikit menengok ke belakang, konser All Time Low itu bukanlah satu-satunya yang batal berlangsung tahun ini di Indonesia. Sejak awal tahun 2011, beberapa pertunjukan musisi mancanegara lain juga mengalami nasib yang sama.

    Selengkapnya »dari Mereka yang Batal Manggung

Penomoran Halaman

(118 Artikel)