Postingan Blog oleh Raya Fahreza

  • Attack The Block: Alien Datang, Preman Menghadang

    Attack the BlockAttack the Block

    "Makhluk luar angkasa datang menginvasi bumi secara besar-besaran dan menghadapi perlawanan sengit dari militer." Kira-kira begitu mungkin isi buku panduan membuat plot film serangan makhluk asing ala Hollywood, seperti yang kita sering lihat. Jika memang benar demikian, maka film "Attack The Block" mematahkan semua aturan tentang film alien dan menghasilkan sebuah hiburan segar yang bebas klise atau basa-basi.

    Ketika sekelompok berandalan di London Selatan menemukan makhluk aneh kecil yang keluar dari meteorit yang jatuh, mereka kemudian mengejar dan memukulinya sampai mati. Berniat menjualnya ke media, mereka kemudian menitipkan bangkai alien tersebut di ruang khusus persembunyian pengedar narkoba. Tak lama kemudian lebih banyak lagi meteorit yang jatuh membawa makhluk lain yang lebih besar dan menakutkan, dan kali ini giliran para preman cilik ini yang menjadi buruan.

    Invasi makhluk asing pun dimulai, namun tidak mencakup seluruh dunia. Hanya di satu blok di selatan London. Tak ada

    Selengkapnya »dari Attack The Block: Alien Datang, Preman Menghadang
  • Makan Siang dan DVD Bajakan

    Mas Bro dan Mbak Sis tidak langsung kembali ke kantor usai makan siang. Mereka punya agenda lain di mal. Mbak Sis ingin beli charger telepon seluler, sementara Mas Bro ingin membeli DVD.

    Karena banyak pilihan, Mas Bro pun sibuk. Tiap melihat judul baru, ia bertanya pada penjaga lapak. “Yang ini udah bagus, belum?”

    Si penjaga pun jujur menjawab. Ada DVD yang dibilang bagus, ada juga yang “belum oke”. Setelah mencoba beberapa judul, Mas Bro melihat Mbak Sis menonton televisi di kios sebelah. Tumben siaran berita. Biasanya lapak DVD hanya memutar film.

    Mas Bro mendekat, mencolek pundak Mbak Sis. “Oy, serius amat lu Sis. Ada berita apaan? Breaking news?”

    Sedikit kaget dicolek, Sis kemudian senyum datar.

    “Pejabat korup yang menghebohkan waktu ditangkap kemarin itu divonis bebas.”
    “Wah, lu ngikutin berita rupanya? Nggak sangka gue.”

    Mas Bro berdiri di samping Mbak Sis, ikut menonton.

    “Gue enek Sis lihat berita. Negara habis dimaling koruptor.”
    “Lu hobi bahas ini kan Mas? Suka ngeblog,

    Selengkapnya »dari Makan Siang dan DVD Bajakan
  • Kalau Mau Menjajah Bumi, Jangan Mendarat di LA

    Bumi didatangi makhluk luar angkasa. Kota-kota besar hancur-lebur. Manusia melawan balik dengan angkatan bersenjata. Sudah pernah lihat cerita ini bukan? Kalau dalam sebuah film perang, pernah juga?

    Alkisah, Bumi diserbu kumpulan meteor yang membawa makhluk asing. Mereka mendarat di banyak tempat, dan mulai melancarkan invasi.Untuk menangkal invasi di Los Angeles, US Air Force akan melakukan pemboman besar-besaran. Tapi masih terdapat beberapa warga sipil yang terjebak di kantor polisi — padahal seluruh kota sudah dievakuasi.

    Keadaan genting itu membuat Sersan Nantz, seorang marinir yang hari itu sebenarnya baru mengundurkan diri, ditarik lagi untuk mendampingi komandan baru sebuah unit — untuk membebaskan warga sipil yang terjebak tadi.

    Dibintangi Aaron Eckhart, Michelle Rodriguez dan NeYo, “Battle: Los Angeles” tidak bercerita tentang Amerika yang jadi penyelamat dunia, melainkan tentang sekelompok pasukan yang menjalankan misi mereka di tengah invasi makhluk asing.

    100% Film Perang

    Selengkapnya »dari Kalau Mau Menjajah Bumi, Jangan Mendarat di LA
  • Nonton, eh, Ngopi Sore di Hari Perfilman Nasional

    Nggak banyak yang tahu kalau ada Hari Perfilman Nasional. Yang bekerja di industri film saja ada yang nggak tahu, apalagi yang awam seperti si Mas Karyawan dan Mbak Karir yang sore ini memutuskan mampir di bioskop seusai rapat dengan klien di luar kantor. Keduanya terpaku di lobi bioskop melihat-lihat poster.

    “Jadi nggak seru gini ya, Rir,” kata Mas Karyawan kepada Mbak Karir.
    “Iya, Wan. Film amriknya nanggung, kayak barang sisa. Yang film sininya baru tapi nggak asyik.”
    “Hantu kesurupan, hantu handphone, hantu joget. Mau yang mana nih?”

    Mbak Karir tertawa sambil goyang-goyang menirukan hantu, seakan yang sudah konyol bisa lebih konyol lagi.

    “Masih lama juga jam-jamnya, Wan. Kita duduk aja dulu yuk ngopi.”

    Mereka kemudian ke kafe yang ada di lobi bioskop itu. Sekarang memang bioskop yang besar jadi lebih lengkap dan nyaman. Ironisnya, hari ini kenyamanan itu seperti nggak berarti karena pilihan film yang ada terasa jauh menurun. Kedua orang ini belum tertarik pada satu pun film yang ada.

    Selengkapnya »dari Nonton, eh, Ngopi Sore di Hari Perfilman Nasional
  • Mimpi Buruk Siang Bolong Bioskop Indonesia

    Alkisah, di masa depan yang tak terlalu jauh, dua sahabat sedang ngopi-ngopi di sebuah kafe. Hari Jumat sudah berlalu, akhir pekan tiba, dan mereka tak ada rencana malam itu. Mas Eksmud berpikir untuk mengajak Mbak Karir ke bioskop saja, terlalu pagi untuk clubbing. Ia melontarkan idenya.

    “Rir, gimana kalau kita nonton aja.”

    Mbak Karir tersenyum, akhirnya diajak nonton juga.

    “Ih, tumben ngajak aku nonton, Mud. Emang kamu mau nontonnya apa?”

    Ah, sepertinya ajakan ini tepat. Mas Eksmud sebetulnya belum tahu ada film apa di bioskop, jadi ia berpikir akan menurut saja akan pilihan si mbak. Mereka pun mulai membahas.

    “Terserah kamu aja Rir, pokoknya yang kamu suka.”
    “Bener yaaa, coba aku cek jadwal bioskop hari ini.”

    Mbak Karir langsung membuka situs informasi bioskop lewat smartphone nya. Iya dong, sekarang saja semua begitu, apalagi ini kan ceritanya di masa depan. Sekejap pun muncul di layar, daftar film yang diputar di bioskop mal kelas menengah atas di mana kafe itu berada.

    “Kita nonton

    Selengkapnya »dari Mimpi Buruk Siang Bolong Bioskop Indonesia
  • Behind The S…inetron

    Alkisah, si mas “orang PH”, produser dari sebuah production house meeting dengan si bapak “orang TV”, eksekutif televisi swasta. Agenda, evaluasi sinetron baru produksi PH tersebut. Setelah remeh temeh, mas TV menyalakan display yang menampilkan angka-angka dan grafik. Ia pun memulai pembicaraan.

    “Ini, mas, rating dan share dua minggu terakhir. Lumayan stabil ya, tapi mesti bisa lebih bagus”.

    Mas PH manggut-manggut, intinya: lumayan ditonton. Ngerti lah, angka rating dan share itu konon mewakili kepemirsaan. Pak TV melanjutkan pakai chart grafik.

    “Kalau dilihat ini angka yang paling tinggi itu waktu episode yang ceritanya Anggun kecelakaan ditabrak mobil waktu hujan-hujan kabur dari pernikahannya waktu tahu ternyata si Doni yang dinikahi adalah pembunuh ibunya.”

    Mas PH pun tersenyum bangga.

    “Wah itu episode mahal loh boss, scene pestanya udah sama aja bikin resepsi kawinan beneran.”.

    Diiringi senyum ramah, penjelasan pun diberikan oleh Pak TV.

    “Ini karena cliffhanger episode sebelumnya

    Selengkapnya »dari Behind The S…inetron
  • Bikin Film Yang Beda Dong!

    Alkisah, jagoan kita seorang penulis muda menemui Pak Bos, sang produser eksekutif, untuk mengajukan skenario yang selama ini menjadi obsesinya. Bosan menulis genre yang sudah-sudah, kali ini penulis kita membuat yang beda. Ceritanya ia ingin sekali menunjukkan bahwa ia bukan cuma penulis cerita pocong dan kuntilanak. Dan karena Pak Bos ini kemaren sering bilang, “Ayo dong, kita bikin yang beda, yang baru,” penulis kita jadi merasa nggak terlalu muluk untuk mengajukan sebuah psychological thriller tentang makhluk luar angkasa yang mendarat di Jakarta dalam misi untuk menguasai bumi. Ahem. Oke deh.

    Fast forward ke kantor sang produser, penulis kita sudah di sana. Karena mood mungkin sedang bersemangat, bos kita manggut-manggut membaca sinopsis yang diajukan.

    “Bagus nih, menarik, belum ada kan film kita tema beginian?”

    Ah. Tema beginian. Nggak apa, minimal dia lihat bedanya. Penulis kita tersenyum.

    “Pastinya belum ada, Pak. Makanya, kan Bapak minta yang beda, nah ini usulan saya, dan

    Selengkapnya »dari Bikin Film Yang Beda Dong!

Terpopuler