Dalam beberapa aspek, musik adalah simbol persatuan. Ia bisa menjadi ciri khas suatu daerah, komunitas, tradisi, bahkan negara. Musik juga bisa menjadi alat untuk mencapai perdamaian.
Demikian pula dengan musik jazz. Martin Luther King Jr. pernah mengatakan, “Jazz berbicara tentang kehidupan itu sendiri.”
Pernyataan tersebut menjadi semangat pada peringatan pertama Hari Jazz Internasional yang ditetapkan jatuh pada tanggal 30 April. Peringatan ini digagas oleh UNESCO.
Sejarahnya dimulai pada November 2011 lalu saat UNESCO menggelar sidang umum. Saat itu muncul usul mengenai peringatan Hari Jazz, yang langsung diamini masyarakat internasional. Peringatan Hari Jazz Internasional dibuat dalam rangka menyebarkan ragam musik tersebut sebagai alat pendidikan, kekuatan untuk membuat perdamaian dunia, persatuan, dialog dan kerja sama antarmasyarakat.
“Banyak pemerintahan, organisasi masyarakat sipil, lembaga pendidikan, dan individu yang menggunakan musik jazz — tidak hanya sebagai genre musik
Postingan Blog oleh Mohammed Ikhwan
Mari Memperingati Hari Jazz Internasional yang Pertama!
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Sen, 30 Apr 2012 01:12 WIBAngka Seputar Konser Dream Theater
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Min, 22 Apr 2012 22:40 WIBLima sekawan metal progresif Dream Theater telah sukses menggelar konsernya di Indonesia pada Sabtu malam (21/4). Di balik konser rangkaian “A Dramatic Tour of Events” tersebut, ada beberapa angka menarik yang terkait penampilan John Petrucci, dkk di Mata Elang International Stadium (MEIS) Ancol.
Selengkapnya »dari Angka Seputar Konser Dream Theater
1
Sejak meniti karir dari tahun 1985, rilisan kuintet “profesor” musik memang banyak dicerna oleh penikmat musik tertentu. Dengan genre progresif, musik mereka disebut-sebut “sulit”—dan karena itu tidak menjadi arus utama. Satu-satunya karya mereka yang akhirnya dinominasikan ke Grammy adalah nomor “On the Back of Angels” yang akhirnya dipecundangi “White Limo” dari Foo Fighters.
27
Butuh kira-kira 27 tahun agar mereka datang ke Indonesia. Selama kurun waktu tersebut mereka telah merilis 11 album dan 1 EP. Selama hampir tiga dekade itu, mereka tak kunjung mampir ke negeri ini, selalu terlewat. Di Asia mereka rajin mendatangi Jepang dan Singapura. Maka dari itu, konser kemarin sangatCoachella: Konser Musik Dalam Satu Klik
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Sel, 17 Apr 2012 13:02 WIBPertama, mari mengantre tiket. Lalu berjubel masuk menuju ke dekat panggung. Suasana sempit dan minim oksigen. Pandangan terhalang penonton lain — apalagi oleh mereka yang mengambil foto dan video! Aduh, tadi kendaraan diparkir di mana?
Selengkapnya »dari Coachella: Konser Musik Dalam Satu Klik
Ketika menonton konser musisi asing di Indonesia, keseluruhan kegiatan tak menyenangkan di atas bisa menghabiskan kocek Anda minimal ratusan ribu rupiah. Belum jika kita menghitung faktor lain, seperti waktu dan kenyamanan. Sekarang, coba buang jauh-jauh semua prosedur biasa tersebut.
Kita tahu bahwa konser bisa dipindahkan ke komputer Anda melalui koneksi Internet. Dalam hal ini kita harus berterima kasih kepada Marc Scarpa, pengusaha asal AS yang bersusah payah mencari terobosan untuk hal tersebut. Pada tahun 1996 Marc secara fenomenal mengemas perhelatan Tibetan Freedom Concert ke dalam bit-bit data, yang akhirnya bisa dinikmati secara langsung oleh 36 ribu penonton di seluruh dunia.
Sejak saat itu teknologi webcast tersebut semakin berkembang.Album yang Patut Dikoleksi di Tahun 2012 (Bagian 1)
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Sen, 16 Apr 2012 11:04 WIBTulisan ini akan mengulas secara singkat beberapa album musisi internasional yang dirilis pada semester pertama tahun 2012. Semester selanjutnya (Juli hingga Desember) akan disajikan dalam tulisan tersendiri. Apakah ada album yang tidak masuk daftar? Silakan tambahkan di bagian komentar!
Selengkapnya »dari Album yang Patut Dikoleksi di Tahun 2012 (Bagian 1)
Lana Del Rey, ‘Born to Die’ (Januari 2012)
Ia adalah sosok cewek berkelas dan tidak tersentuh, nakal tapi bukan tipe pelanggar hukum, dan seksi tapi tidak mesum. Musik pop dicampur orkestra dan hentakan drum adalah candu Lana Del Rey. “Born to Die” adalah percobaan albumnya yang kedua, setelah yang pertama “Lana Del Ray A.K.A Lizzy Grant” gagal di pasar.
Van Halen, ‘A Different Kind of Truth’ (Februari 2012)
Kelompok hard rock legendaris Van Halen merilis album ke-12 yang ditunggu-tunggu banyak fans. “A Different Kind of Truth” ditandai dengan kembalinya vokalis David Lee Roth. Materi album ini adalah daur ulang dari lagu yang telah ditulis sebelumnya pada era ’70-an dan ’80-an. Ingin sentimental? LihatDi Balik Pelantikan Guns N’ Roses di Rock and Roll Hall of Fame
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Sen, 16 Apr 2012 10:48 WIBAkhirnya band Guns N’ Roses (G N’ R) masuk juga dalam daftar artis di Museum Rock and Roll Hall of Fame. Museum (yang juga sering disebut penghargaan) ini bertujuan mengarsipkan musisi dan individu yang berpengaruh dalam industri musik rock.
Selengkapnya »dari Di Balik Pelantikan Guns N’ Roses di Rock and Roll Hall of Fame
Ray Charles, Elvis Presley, The Beatles, Bob Dylan, The Who, Led Zeppelin adalah beberapa musisi yang sudah masuk penghargaan berumur 26 tahun ini.
Pasukan yang akan dilantik masuk dalam arsip Rock and Roll Hall of Fame adalah formasi lama G N’ R yang terdiri dari Steven Adler (drum), Duff McKagan (bass), Dizzy Reed (keyboard), Axl Rose (vokal), Slash (gitar), Matt Sorum (drum), Izzy Stradlin (gitar), dan Gilby Clarke (gitar).
Dalam biografi yang ditulis di situs resmi Rock and Roll Hall of Fame, G N’ R dipilih karena mereka “tak kenal kompromi dan kontroversial — sama sekali tak terduga.”
Dan kontroversi pula yang mencuat di balik upacara pelantikan Guns N’ Roses pada Sabtu (14/4) kemarin.
Kontroversi pertama muncul seminggu sebelum upacaraKonser Anthrax: Menyenangkan Sekaligus "Berbahaya"
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Sel, 3 Apr 2012 19:20 WIBKonser Anthrax: Menyenangkan Sekaligus “Berbahaya”
Selengkapnya »dari Konser Anthrax: Menyenangkan Sekaligus "Berbahaya"
Sekitar tiga ribu metalheads beringsut menuju Pantai Karnaval, Ancol pada Sabtu (31/3) kemarin. Anthrax, salah satu dari empat besar band metal dunia (selain Megadeth, Slayer dan Metallica) dijadwalkan tampil.
Indonesia memang tengah jadi pembicaraan di tengah kawula metal dunia. Selepas sebuah konser Oktober tahun lalu, saya bersama beberapa teman sempat berbincang dengan penata suara kumpulan death metal Jerman, Obscura. Martin, begitu ia dipanggil, pernah juga datang bersama Misery Index, pasukan death grind dari Amerika Serikat. Dia bilang penonton di Indonesia terkenal sangat hebat. “Kalian melompat, moshing, dan bernyanyi bersama seperti tak ada hari esok,” katanya.
Kembali ke Anthrax. Pada aspek yang sama, Scott Ian sang gitaris mengemukakan hal tersebut di tengah suguhan nomor “Indians”, seolah memprovokasi penonton malam itu. “Kami terbang 26 jam untuk melihat kalian semua. Saya dengar banyak penonton gila di Indonesia,” kata diaGerakan Duduki Wall Street (Occupy Wall Street, disingkat OWS) ternyata sudah berumur setengah tahun. Sejak dimulai dari Taman Zuccotti pada 17 September tahun silam, gelombang protes yang konstan diadakan hampir setiap hari ini telah menghasilkan banyak momen hebat dan menginspirasi gerakan serupa di 83 negara dan 951 kota di seluruh dunia.
Selengkapnya »dari Musisi Duduki Wall Street
Pesannya sederhana, bahwa 99 persen rakyat menuntut keadilan ekonomi. Kaum 1 persen yang berkuasa dan menjadi musuh rakyat diwakili oleh para bankir dan pengusaha kelas kakap—yang di mereka simbolkan berpusat di Wall Street. Gerakan ini juga sempat naik daun di Jakarta, walaupun tak seramai di tempat asalnya.
Salah satu hal yang unik dari gerakan ini adalah karena OWS juga menyedot perhatian musisi dan artis ternama. Ratusan musisi tak sekadar mendukung secara lisan, bahkan puluhan dari mereka datang langsung ke tempat demonstrasi. Siapa sajakah musisi-musisi tersebut?
Third Eye Blind
Mewakili band, vokalis Stephan Jenkins menghadiri demonstrasi OWSSejak kita merdeka, kenaikan harga bensin adalah kebijakan “lagu lama” yang diulang-ulang, mungkin dengan aransemen baru di sana-sini.
Selengkapnya »dari Lagu Lama Kenaikan Harga Bensin
Di sisi lain, keadaan rakyat dalam isu kenaikan harga bensin rupanya dipotret oleh beberapa musisi dan dituangkan ke dalam lagu mereka. Berikut ini enam lagu yang mengangkat tema kenaikan harga bensin:
Iwan Fals, “Galang Rambu Anarki” (1982)
BBM naik tinggi, susu tak terbeli / Orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi
Lirik ini selalu dikenang, mungkin karena sangat menyentuh emosi pendengar. Saat itu awal dekade ‘80-an, dan pemerintah baru saja menaikkan harga bensin. Keluarga Virgiawan Listanto, nama lengkap Iwan Fals, mendapat anugrah putra pertama yang diberi nama Galang Rambu Anarki. Kelahiran ini dijadikan lagu, yang berjudul sama dengan nama lengkap putranya.
Iwan Fals, “Manusia Setengah Dewa” (2004)
Turunkan harga secepatnya / Berikan kami pekerjaan / Pasti kuangkat engkau / Menjadi manusia setengah dewa
Iwan Fals bisa saja agak melunakRadio Show, Pertunjukan Radio di Televisi
Oleh Mohammed Ikhwan | Mohammed Ikhwan – Rab, 14 Mar 2012 10:53 WIBPuluhan pemuda dan pemudi berjubel, berdesakan, dan berkeringat. Sang pemain gitar merangkap vokal terus bernyanyi meski instrumennya tak mengeluarkan bunyi. Anehnya penonton makin panas. Beberapa dari mereka bahkan hampir menjatuhkan perlengkapan musik di panggung.
Selengkapnya »dari Radio Show, Pertunjukan Radio di Televisi
Itulah sekilas kejadian pada acara “Radio Show” pada Jumat lalu (23/2), yang diputar di TV One. Kala itu band punk tersohor Superman Is Dead (S.I.D), menjadi bintang tamu.
Beberapa minggu belakangan ini, saya — mungkin bersama ribuan kaum nokturnal lain — kerap memantau acara yang dimulai pada pukul 11 malam ini. Konsep acaranya sederhana, yakni bincang-bincang bertema musik yang disertai penampilan panggung dari artis yang diundang.
Kehebatan acara ini adalah pemilihan para undangan. Sejak dimulai beberapa bulan silam, para bintang tamu yang diundang terkesan bukan dari musik arus utama. Mereka bakat-bakat baru di dunia musik Indonesia.
Kehebatan selanjutnya adalah ketidaksiapan acara ini. Seperti yang saya gambarkan di awalTak ada kumpulan remaja tanggung berambut miring. Remaja perempuan berdandan dan mengenakan celana pendek pun langka. Mereka yang datang adalah para remaja pada 22 tahun yang lampau — saat tembang “It Must Have Been Love” milik Roxette meroket sebagai pengiring film “Pretty Woman”.
Selengkapnya »dari Antiklimaks Roxette
Ribuan manusia dalam rentang umur 30-40 tahun memadati Mata Elang International Stadium (MEIS) di Ancol pada Sabtu (3/3) malam. Tujuannya satu, menyaksikan duo Per Gessle dan Marie Fredriksson: Roxette.
Mereka membawa lima anggota lainnya untuk melengkapi musik pada bass/synthesizer, drum, gitar, keyboard, dan vokal latar. Bagi saya yang hadir malam itu, ini adalah percobaan pertama untuk MEIS — yang digadang-gadang bakal jadi pilihan gedung pertunjukan hebat di Jakarta.
Ada beberapa aspek yang harus saya acungi jempol kepada promotor konser, Big Daddy. Pertama, mereka cukup berani menggelar konser tanpa sponsor. Kedua, sebelum konser dibuka, panitia mengumumkan panduan jika terjadi keadaan darurat dan panduan
Latest Blogs
- Gaya Nyeleneh Seleb Di Penghargaan Billboard
- Foto-foto Pertama Nicole Kidman Jadi Grace Kelly di "Grace of Monaco"
- Hitam Putih Ratu K-Pop Lee Hyori
- Konser Blur di Jakarta: Itu Benar-benar Bisa Terjadi
- Lima Alasan Menonton "Star Trek Into Darkness"
- Dian Sastro: Yang Sombong Biasanya Justru Artis Asia
- Cara Selebritas Menjaga Rambutnya
Terpopuler


Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark
Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.







