Amril Taufik Gobel
  • Inilah aksi “Tomb Rider” ala Perancis di awal abad 20-an! Demikian kesan saya seusai menonton “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” (selanjutnya disingkat menjadi “Adèle”) akhir pekan lalu.

    Film ini diadaptasi dari serial komik Perancis bertajuk sama karya Jacques Tardi. Kisahnya diawali dengan menetasnya sebutir telur pterodactyl (dinosaurus yang dapat terbang) berumur 136 juta tahun di sebuah museum di kota Paris. Telur itu dapat menetas setelah “dibangunkan” oleh kemampuan telepati Profesor Esperandieu (Jacky Nercessian).

    Alhasil, seisi kota Paris pun gaduh. Terlebih setelah kehadiran burung purba itu mendatangkan korban seorang mantan pejabat. Presiden Armand Fallieres (Gerard Chaillou), yang awalnya menganggap pterodactyl itu hanya bualan, ikut panik setelah melihat langsung keberadaan hewan tersebut. Dia pun langsung memerintahkan pengusutan terhadap kasus itu.

    Tugas pengusutan jatuh ke pundak Albert Caponi (Gilles Lellouche) — seorang detektif yang lamban dan doyan

    Selengkapnya »dari Petualangan Seru Wartawan Pemburu Mumi
  • Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton film “Bruce Lee, My Brother” yang mengisahkan sisi-sisi kehidupan sang legenda kungfu dan ikon seni bela diri itu dari sudut pandang sang adik, Robert Lee.

    Film ini tidak mengisahkan kesuksesan sang bintang saat ia menjadi artis kungfu terkenal namun justru memaparkan sisi berbeda — mulai dari masa kecil, keluarga, cinta pertama dan pernak-pernik kehidupannya melewatkan masa muda di Hong Kong sebelum pergi ke Amerika. Juga tak ada gambaran perjuangan petarung dengan teriakan khas ini dalam menembus Hollywood sehingga kariernya melejit lewat film seperti “The Big Boss” atau “Fist of Fury”.

    Cerita bermula ketika ayah Bruce Lee, Lee Hoi Chuen (Tony Leung) sangat bergembira atas kelahiran putranya di San Fransisco, 27 November 1940. Oleh pemain opera Kanton kenamaan itu, si anak dinamakan Lee Jun Fan — yang di kemudian hari lebih dikenal dengan Bruce Lee.

    Sebulan sebelum invasi Jepang ke Cina, ayah Bruce memboyong seluruh keluarganya ke Hong

    Selengkapnya »dari Romantika Si Naga Kecil
  • Saya senantiasa memberikan apresiasi positif pada film-film karya sutradara potensial seperti Hanung Bramantyo. Tahun lalu, setelah mengagumi rangkaian cerita dan sinematografi “Sang Pencerah”, saya memantapkan hati untuk menonton karya Hanung berikutnya berjudul singkat: “?”.

    Tampaknya Hanung, sutradara terbaik FFI 2010, kembali mengambil tema spiritual serupa “Sang Pencerah” namun dengan pendekatan berbeda. Kali ini, “?” mengangkat fenomena perbedaan kepercayaan di masyarakat yang kerap memicu konflik dalam berbagai strata sosial. Tema ini mungkin relatif “basi”, namun Hanung menggarapnya secara cermat, indah, dan renyah dalam film berdurasi 100 menit ini.

    Film ini menampilkan tiga alur cerita yang berbeda namun saling terkait. Yang pertama, kita diperkenalkan pada pasangan Soleh (Reza Rahardian) dan Menuk (Revalina Temat). Soleh seorang pengangguran dengan obsesi tinggi, sedangkan Menuk karyawan restoran Cina. Konflik tajam senantiasa terjadi pada pasangan ini terutama karena status

    Selengkapnya »dari Ketika Berbeda Menjadi Sebuah Tanya
  • Menonton “Black Swan”, yang masuk nominasi film terbaik Academy Award 2011 lalu, merupakan obsesi saya. Itulah sebabnya saya kecewa ketika film ini tak dapat tayang di bioskop di Indonesia — akibat kasus kisruh pajak film impor. Namun kekecewaan itu terobati setelah saya berhasil menonton film ini dalam perjalanan ke Hong Kong dua pekan silam.

    Film yang berdurasi 108 menit ini mengangkat kisah balerina Nina Sayers (Natalie Portman) yang sedang menjajal kiprahnya di sebuah pusat pelatihan balet di New York, Amerika Serikat. Ia berharap mendapatkan peran utama sebuah pementasan, menggantikan posisi balerina senior Beth (Winona Ryder) yang akan pensiun.

    Pemimpin pusat pelatihan itu, Thomas Leroy (Vincent Cassel), membuat terobosan dalam pementasan Swan Lake dengan cita rasa berbeda. Sang pemeran utama diharapkan memainkan dua peran dengan karakter berbeda — baik sebagai “White Swan” yang lembut, rapuh dan lugu maupun “Black Swan” yang penuh gairah dan ambisi.  

    Ini sebuah tantangan yang

    Selengkapnya »dari Black Swan: Kompleksitas Batin Sang Balerina
  • Seminggu yang lalu melalui grup Facebook "Social Media Strategist Club" — sebuah grup diskusi yang membahas soal dunia kreatif dan media sosial di Indonesia — saya mendapatkan tautan ke sebuah video graphic recorder di YouTube. Judulnya, "Kerennya Pribadi Bangsaku".  Rasa haru membuncah di dada saya saat menyaksikan video tersebut, sebab pesan nasionalisme dan cinta tanah air disajikan begitu kental lewat olah grafis yang luar biasa keren.

    Video tersebut menayangkan seorang ilustrator yang sedang menggambar beberapa episode yang melukiskan sejarah kebangkitan bangsa, dari proses perjuangan hingga esensi sesungguhnya kepribadian bangsa Indonesia. Diiringi narasi dan lagu "Garuda Pancasila", sketsa-sketsa yang tersaji sangat impresif dan menggugah nurani. Sungguh ini sebentuk tayangan edukatif yang memberikan pencerahan bagi kita dalam memaknai nilai-nilai luhur kepribadian bangsa lewat  visualisasi interaktif.

    Hari ini saya berkesempatan ngobrol lewat telepon bersama Rendra Almatsier,

    Selengkapnya »dari Ekspresi Cinta Bangsa Lewat ‘Graphic Recorder’
  • Bagi saya, menonton film ini ibarat melampiaskan rasa penasaran untuk menyaksikan kepiawaian sutradara handal Doug Liman (The Bourne Identity-2002, Mr. & Mrs.Smith-2005, Jumper-2008 ) dalam menerjemahkan jalinan kisah nyata fenomenal Valeria Plame Wilson, seorang ibu rumah tangga sekaligus agen CIA yang terjebak dalam situasi sulit dan penuh intrik dalam sekeping episode kehidupannya.

    Valeria menulis kisah hidupnya itu dalam buku Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House (2007). Kisah itulah yang kemudian diangkat dalam film berdurasi 108 menit ini, yang diperkaya pula dengan memoar Joseph Wilson (suami Valeria) yang berjudul The Politics of Truth (2004).

    Sepasang suami istri yang berbahagia, Joseph “Joe” Wilson (Sean Penn) dan Valeria (Naomi Watts) hidup bersama secara harmonis layaknya profil keluarga kelas menengah Amerika. Mereka mengasuh kedua putri kembar mereka, dan terkadang ikut ngerumpi soal politik bersama kawan-kawan mereka di sela-sela waktu luang. Pada

    Selengkapnya »dari Fair Game : Drama Politik yang Indah dan Mencekam
  • Tahukah Anda bahwa bulan ini dirayakan sebagai bulan film nasional?.

    Nah, di bulan ini ada banyak kegiatan yang digelar terkait dicanangkannya bulan Maret 2011 sebagai bulan film nasional, yang telah dicanangkan sejak 5 tahun silam. Tema yang diangkat pada perayaan kelima kali ini adalah “Sejarah adalah Sekarang!” (SAS). Latar belakang pemilihan tema tersebut menurut Kineforum, salah satu penyelenggara kegiatan, seperti yang saya kutip dari blognya di www.kineforum.wordpress.com sebagai upaya generasi saat ini memberi makna kembali pada ‘masa lalu’. Dari penghitungan sementara hanya tak sampai 10 persen dari sekitar 3.000 judul film yang pernah dibuat di kepulauan Nusantara sejak 1926 yang dapat diakses di arsip film. Angka ini sungguh menyedihkan!

    Tentu saja makin lama semakin besar tantangan untuk menemukan kopi film yang layak putar sambil tetap menjaga kekayaan perspektif lintas waktu dalam Sejarah adalah Sekarang (SAS). Pada acara tahun ini kineforum menampilkan hasil kuratorial

    Selengkapnya »dari Semarak Bulan Film Nasional 2011
  • Pengumuman Piala Oscar baru saja diumumkan hari ini. Dan kita bahagia tentu saja ketika melihat aktor/aktris jagoan kita menang dalam ajang tersebut.

    Tapi tahukah anda, sehari sebelumnya juga telah diumumkan para pemenang insan film terburuk bertajuk Razzie Award?. Jadi bila Piala Oscar menjadi penghargaan terhadap insan film terbaik, maka Razzie Award dianugerahkan khusus untuk yang terburuk. Penghargaan ini digelar setahun sekali di Los Angeles dan digagas oleh Golden Raspberry Award Foundation.

    Yayasan ini didirikan oleh penerbit dan penulis Amerika bernama John JB Wilson pada tahun 1980. Piala penghargaan Razzie berbentuk bola golf seukuran buah raspberry yang ditempatkan di atas gulungan film Super 8mm yang keseluruhannya disemprot cat warna emas. Harga per unit piala yang terbuat dari plastik itu hanya USD 4.79. Sungguh sebuah bentuk penghargaan yang unik dan menunjukkan apreasiasi bernuansa "olok-olok" yayasan ini bagi sajian film-film terburuk.

    Di ajang Razzie Award ke 31

    Selengkapnya »dari Pemenang Film Terburuk Ala Razzie Awards
  • Undangan dari Mata Sinema (www.matasinema.org)--sebuah komunitas yang menggalang para pemerhati film Indonesia--untuk Nobar (Nonton Bareng) gratis film "Rumah Tanpa Jendela" hari Minggu (27/2) bertempat di Studio 1 Jaringan Blok M Square 21 merupakan sebuah anugerah yang sungguh sangat saya syukuri.

    Saya mewakili komunitas Blogger Bekasi bersama rekan-rekan dari komunitas Mata Sinema, adik-adik Asuh PAYISC Al-Azhar, Sanggar Ananda, berkesempatan menonton beserta para insan penting yang berada dibalik penggarapan film ini antara lain Aditya Gumay (sutradara dan penulis skenario), Aty Kanser (artis film, pemeran tokoh nenek) dan Asma Nadia (penulis produktif dan juga penulis novel "Rumah Tanpa Jendela").

    Seperti halnya film "Emak Ingin Naik Haji" yang telah berhasil mendapatkan berbagai prestasi membanggakan pada sejumlah acara penghargaan sinema nasional, film inipun diangkat dari sebuah cerpen karya Asma Nadia berjudul "Jendela Rara". Tema bahasan yang digarap sebenarnya relatif

    Selengkapnya »dari Rumah Tanpa Jendela: Tentang Impian Bersahaja dan Ketulusan Persahabatan

Penomoran Halaman

(27 Artikel)